Beranda Opini

Agar Kita Tidak Merugi di Bulan Ramadhan

Oleh : Ahmad Wildan

Ibadah Puasa Ramadhn telah tiba, saatnya jiwa dan diri berbenah menuju kemuliaan diri di hadapan Sang Pencipta. Bulan yang memang hadir untuk mendidik dan membina manusia untuk lebih mengenal diri dan Pencipta-Nya. Kehadirannya selalu menjadi kegembiraan dan kepergiannya selalu menjadi kesedihan. Karena terlalu banyak keberkahan dan kemuliaan dalam setiap waktu yang berputar selama bulan Ramadhan ini. Namun segala keberkahan dan kemuliaan ini tak akan benar-benar hadir  dan bisa kita rasakan jika kita tak mampu memaknai dengan benar bulan Ramadhan ini. Bukankah diantara banyaknya kabar gembira tentang kemuliaan Ramadhan ini terdapat ancaman bahwa akan ada segolongan orang yang merugi karena menyia-nyiakan bulan suci ini. Rasulullah menyebutkan “betapa banyak diantara orang yang berpuasa, namun taka da apapun yang dia dapatkan kecuali lapar dan haus”. Maka dari itu marilah terlebih dahulu kita pahami dan maknai bulan Ramadhan ini agar kelak kita menjadi orang-orang yang meraih kemuliaan dan keagungan nya.

Paling tidak ada tiga hal paling medasar yang wajib dipahami oleh umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Dan ketiga hal tersebut dengan jelas Allah sebutkan di dalam Al-qur’an surah Al-baqarah ayat 183 :

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar supaya kamu menjadi orang yang bertaqwa”

Pertama, landasan seorang muslim dalam melakukan ibadah puasa yang maknanya ialah berkorban untuk menahan diri dari hal-hal yang biasa ia lakukan di luar Ramadhan harus didasari pada keimanan pada Sang Khaliq Allah subhanahu wata’ala, Itulah mengapa ayat tersebut diawali dengan kalimat wahai orang-orang yang beriman. Beriman bermakna kita yakin dan teguh dengan hati, lisan, dan tindakan untuk sejalan dan sesuai dengan apa yang Allah subhanahu wata’ala perintahkan dan inginkan. Dasar inilah yang membuat seorang muslim rela berkorban menahan diri berbagai hal yang yang terindikasi membatalkan ibadah puasa. Dalam konteks amal perbuatan apapun niat atau landasan keyakinan seorang muslim harus di dasari pada keimanan pada Rabbnya. Jauh dari tujuan, target dan visi yang bukan untuk ridho dan kemuliaan di sisi Allah. Maka puasa Ramadhan ini mengajarkan kepada kita tentang keikhlasan dan kepatuhan kita pada Allah subhanahu wata’ala. Sebagai bentuk perwujudan keimanan kita pada Nya. Sebagai hamba yang siap dan rela mendedikasikan dirinya pada apapun yang Allah subhanahu wata’ala perintahkan.

Baca:  Moltazam : Mahasiswa bagaikan Manusia Setengah Dewa

Kedua, bahwa puasa Ramadhan ialah sebuah anjuran dan perintah yang juga Allah berikan pada orang-orang sebelum kita, kita ketahui bahwa para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad pun mendapatkan perintah puasa. Sebuah amal ibadah yang memang mendapat perhatian khusus dan langsung pada Allah ta’ala. Dalam hadits kudsi Allah mengatakan “sesungguhnya puasa adalah untuk ku dan Aku berikan langsung balasannya”. Tentu puasa yang dilakukan tidak persis sama seperti yang kita umat Muhammad lakukan, namun pada makna dan fungsinya puasa ialah suatu amal keikhlasan, pengorbanan, dan kepatuhan seorang hamba pada Rabbnya. Oleh karena itu, dalam menjalankan ibadah Puasa, sebagai muslim kita wajib mejalankan nya dengan landasan dan kaidah yang sesuai dengan kehendak Allah. Jika puasa yang kita jalankan hanya sebatas menahan lapar dan dahaga semata. Maka merugilah kita karena melewatkan begitu banyak keberkahan dan keutaman di Bulan nan mulia ini karena ketidakmapuan kita menjalankan makna dan fungsi dari bulan mulia ini. Yang mana makna puasa Ramadhan ialah melatih diri untuk lebih dekat dan lekat lagi pada ridho dan kehendak Sang Pencipta. Rela berkorban untuk menjalankan perintahnya. Mengembalikan fungsi dan peran kemanusiaan kita sebagai hamba-Nya dengan saling berempati dan membantu satu sama lain. Yang kaya menyantuni yang miskin. Yang kuat menyayangi yang lemah. Serta megokohkan persatuan dan keberjamaahan umat dengan landasan Ruhiyah, Fikriyah, dan Jasadiyah yang senantiasa berkolaborasi beriringan selama bulan Ramadhan.

Baca:  Bima Arya Pastikan Ketersediaan Bahan Pokok Aman Jelang Ramadan

Yang Ketiga, ialah tujuan dan visi utama dari ibadah Puasa Ramadhan. Bahwa landasan keimanan dan keikhlasan seorang hamba dalam menjalankan Puasa akan menghadirkan nilai dan makna Ibadah puasa yang relevan dan sejalan dengan kehendak Allah ta’ala. Dan tentu dengan amal yang berlandaskan pada nilai dan makna haqiqi bulan suci Ramadhan akan menjadikan kita sebagai bagian dari golongan manusia yang mendapatkan predikat kemuliaan di hadapan Allah yakni golongan orang-orang yang bertaqwa. Taqwa karena dengan landasan iman kita mampu menghadirkan produktifitas amal dan nilai kemuliaan bagi diri kita, keluarga kita, dan segenap manusia di sekeliling kita selama bulan kemuliaan ini. Dan kemudian mengakhiri bulan Ramadhan ini dengan mendapatkan predikat yang akan menjadi jaminan kemuliaan kita di hadapan Allah subhanahu wata’ala. Karena diantara hamba yang paling Ia muliakan di sisi-Nya ialah yang paling bertaqwa diantara mereka. Dan bulan suci Ramadhan dengan segala keberkahannya, memiliki seluruh instrument yang mampu membentuk diri dan jiwa manusia agar lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya pada Allah ta’ala.

Baca:  Euforia Ramadhan ; Antara Kesederhanaan dan Konsumerisme

Demikianlah uraian mengenai makna bulan suci Ramadhan, semoga kita termasuk golongan yang benar-benar memaknai bulan Ramadhan sebagai momentum untuk meningkatkan keimanan dan menghadirkan karakter taqwa dalam diri kita. Demi mendapatkan Ridho dan kemuliaan di hadapan Sang Pencipta. Dan kita berlindung kepada Allah agar tidak termasuk golongan orang-orang yang sia-sia puasanya dan melewatkan Ramadhan dengan kelalaian. Yang justru terjebak pada symbol dan prestise yang tak bermakna dan justru menghambur-hamburkan materi belaka. Naudzubillahi min dzalik.