LIPUTANBOGOR.COM – Masa sekolah umum maupun mondok ( Pesantren ) adalah masa yang paling ngangenin, tentu mengalami berbagai hal dan pengalaman selama mengenyam pendidikan disekolah tersebut, terlebih ketika mau menghadapi ujian baik tengah maupun akhir sementer.
Nah ini, yang dialami dan dirasakan oleh ratusan Santriwan dan Santriwati Yayasan Pesantren Baitussalam Indonesia yang berlokasi di Jalan Raya Kartika Sejahtera ( Perum Inkopad ) No 1 Desa Sasak Panjang Kecamatan Tajur Halang Kabupaten Bogor, ketika menghadapi Ujian Akhir Semester Ganjil 2021-2022.

Menurut Ustadzah Nur Eka Mu’awanah, S.Pd.I selaku Ketua Pelaksana dari Ujian Akhir ini, ada pepatah didunia Pesantren atau Mondok yaitu “Bil Imtihaani Yukromul Mar’u au Yuhaanu” yang berarti “Dengan ujian seseorang akan dimulyakan atau dihinakan,”.
” Ujian merupakan suatu alat bagi lembaga pendidikan untuk mengetahui kemampuan dan perkembangan siswa/ i ataupun Santriwan dan santriwati dalam hal pengetahuan, penguasaan materi dan tingkat pemahaman materi yang sudah diajarkan di kelasnya,” ujarnya pada media pada Jum’at ( 03/12/21 ).

Sama halnya di Pesantren Baitussalam pada tingkatan atau level SMPIT serta SMPIT, seluruh Santri akan mempersiapkan diri secara maksimal untuk dapat menjawab setiap pertanyaan yang diberikan langsung secara lisan dari tim pengujinya. Inilah yang di istilahkan dengan imtihan syafawi atau syafahi.
“Ujian merupakan salah satu agenda yang sangat penting di Yayasan Pendidikan Pesantren Baitussalam. Maka, pelaksanaannya pun diatur dengan baik melalui panitia ujian khusus yang sudah ditunjuk oleh pejabat struktural.
Senada juga di ungkapkan oleh Ustadz Nur Hamid, S.Pd.i, M.E.I, CIHC, selaku Ketua PPSD Pesantren Baitussalam, ujian di Pesantren Baitussalam tidak hanya meliputi aspek akademis, akan tetapi juga mencakup aspek mental.
“Sehingga, ujian ini menuntut seluruh seluruh pihak Asaatidz, ustaadzaat dan santri-santriwati untuk bersungguh-sungguh dan jujur.
Ujian ini dilaksanakan untuk mendidik para santrinya agar mencintai ilmu pengetahuan. Belajar itu bukanlah untuk sekedar untuk mengikuti ujian, namun ujian merupakan sarana untuk belajar,” tuturnya.
Menurutnya, kalimat ‘ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian’, ini senantiasa diulang-ulang agar menjadi hal penting yang dipentingkan.
Pesantren Baitussalam dalam mengembangkan dan upaya mengetahui daya serap santri-santriwati dalam bidang ilmu pengetahuan, menyelenggarakan ujian yang menggunakan dua sistem yaitu syafahi (ujian lisan) dan tahriri (ujian tulis) dengan demikian seluruh santri-wati benar-benar mempersaipkan diri untuk mengikuti ujian lisan dan ujian tulis tanpa terkecuali.
“Ujian lisan (syafahi) merupakan ujian yang memiliki peran penting dalam mengukur kemampuan santri-wati sehingga dewan guru, asaatidz dan ustaadzat bisa dengan mudah dapat melihat langsung sejauh mana penguasaan santri-wati terhadap pelajaran yang sudah dipelajari selama satu semester dan sejauh mana kesiapan santri-wati tersebut menghadapi ujian tulis (tahriri) nantinya. Tidak semua pelajaran diujikan dalam ujian ini, secara garis besar terangkum dalam kemampuan Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Ibadah Amaliah atau Fiqih,” paparnya.
Ujian atau Penilaian Akhir Semester tahun ini, ditunjuk seorang ketua yaitu Usth. Nur Eka Mu’awanah, S.Pd.I., yang bertanggung jawab mengatur seluruh kelancaran kegiatan ujian dengan menyusun dan mengajukan kepanitian khusus yang solid dan disahkan oleh kepala sekolah, Ust. Abdul Hakim, S.Sos.,I.,M.Pd.
( D2N )





