Beranda Sastra & Budaya

Dari Bantu Korban Gempa, Hingga Dirikan Galeri Batik yang Go Internasional

LIPUTANBOGOR.COM – Batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Yang mana setiap tanggal 9 Oktober, UNESCO menetapkannya sebagai hari batik nasional. Mereka menjelaskan bahwa, batik adalah warisan budaya Indonesia yang sudah tersebar ke berbagai negara.

Kalau membicarakan soal batik, di Bogor banyak pengrajin batik yang sudah go Internasional, salah satunya yaitu Gallery dan Workshop Batik Bogor Tradisiku. Tempat ini berada di jl. Jalak No.2 Tanah Sareal Kota Bogor, yang didirikan oleh pengrajin batik yakni Iswaya.

Beliau adalah asli kelahiran Jogjakarta yang terlahir jauh dari sosok seniman batik maupun budayawan, namun beliau bisa mendirikan gallery dan workshop batik di bogor. Awal mula didirikan Gallery ini, beliau menolong korban bencana gempa yang menimpa Jogjakarta pada 2006 lalu, beliau menjalankan bakti sosial untuk membantu korban bencana. “Kalo kami membantu sejumlah barang, sejumlah uang mungkin dalam waktu sekejap akan habis. Nah, saya berpikir, kalo saya bawa ke Bogor yang kena musibah itu alangkah baiknya saya pekerjakan di sana.”

Beliau juga sudah sangat lama tinggal di Bogor pada tahun 1982 sampai tahun 2008, beliau berangan-angan, berharap beliau bisa memberikan sesuatu untuk Bogor. “tapi saya belum merasa berbuat atau memberikan sesuatu yang saya miliki kepada Kota Bogor ini. Ketika nanti berangan-angan, ketika nanti itu pembatik menjadi bagus di Bogor kemudian saya teruskan inilah salah satu yang saya harapkan”

Baca:  Bahagia dan Lupakan Rasa Sakit

Pada 13 Januari 2008 beliau resmi mendirikan Batik Bogor Tradisiku, dengan mengajak 5 orang korban bencana gempa yang menimpa Jogja pada tahun 2006, dengan 1 tukang warna dan 4 tukang pembatik yang beliau bawa ke Bogor. “Awal itu saya membuktikan saya membawa 5 orang korban gempa tadi, satu tukang warna, empat tukang pembatik ke Kota Bogor ini,” ujarnya.

Nama Batik Bogor Tradisiku sendiri merupakan ide pemikiran beliau yang mana pada saat itu mengumpulan beberapa orang untuk meminta saran dan masukan untuk membuat batik yang bisa mencirikan batik Bogor “Saya mengumpulkan para seniman, budayawan, akademisi, pemerintah, tokoh masyarakat, ada waktu itu”. Beliau pun menceritakan “saya orang Jogja, saya ingin membuat batik di Bogor, hanya motif saya harus seperti apa, Soalnya kami sendiri awalnya bingung, Bogor tidak ada sejarah batiknya seperti di Jogja, Solo, Pekalongan.”

yang pada saat ini semua sependapat bahwa motif yang akan dituangkan adalah icon-icon kota Bogor “buat aja pa sis dengan icon-icon yang ada dikota bogor” seperti ada batu tulis, istana Bogor, hujan, sebagai bogor adalah kota hujan, ada kujang dan lain sebagainya. Nah itu menjadi motif-motif dan jadilah “Batik Bogor Tradisiku”.

Batik bogor tradisiku selain dikenal banyak berbagai lapisan dan negara, juga banyak meraih penghargaan dari pemerintah dan menjuari pameran “Kalo apa yang sudah diraih, kami pernah mewakili indonesia bersama pembatik dari pekalongan dan dosen IKJ jakarta waktu itu ke Jepang. Kita kerja sama dalam bidang disain batik indonesia adalah bogor dengan Jepang. Kami juga mendapatkan juara nasional industri hijau, saya menerima penghargaan yang ada di istana sana instana presiden, istana wakil presiden, bersama kepada dinas perindustrian dan perdagangan pak Bambang Budi Hartono pada waktu itu disana”.

Baca:  Batik sebagai Identitas Bangsa: Acara Discover Batik Indonesia di Cibinong City Mall Libatkan UMKM hingga Difabel

Saking sudah dikenal keberbagai lapisan daerah dan negara, gallery dan workshop Batik Bogor Tradisiku juga sudah banyak dikunjungi oleh wisatawan asing yang ingin melihat berbagai macam motif batik bahkan penjualan dari batik Bogor tradisiku ini  “Penjualan kami sudah pernah ke Jepang kemudian ke Filipina, ke Malaysia kemudian ke Cina, bahkan ke Australia, Amerika pun sudah, kalo di Bogor, Indonesia dan sekitarnya itu sudah sangatlah ya itu.”

Namun saat pendemi ini, gallery batik Bogor tradisiku sudah tidak banyak dikujungi baik dari berbagai daerah Bogor maunpun luar Bogor. Yang mana saat sebelum pandemi batik Bogor tradisiku memiliki 40 karyawan saat ini hanya ada 9 orang karyawan yang bertahan. Sehingga batik Bogor tradisiku masih mampu eksis dan bertahan di massa ini. “Tapi dengan adanya pandemi ini, kami terus terang sangat-sangat sekali menurun tapi biarpun demikian kami tidak sampe kalap tidak sampe bangkrut, hanya karyawan-karyawan kami yang awalnya itu empat puluhan sekarang yang masuk hanya tinggal sembilan orang, , tapi artinya masih tetap berjalan, ya belum pernah membuat masker kami membuat masker, kemudian ya alhamdullah ada sekolah-sekolahan yang setiap tahunnya itu pasti pesen kesini itu yang membuat kami sangat bahagia apalagi didukung, sekarang juga kami sedang membuat ASN kita Bogor”

Baca:  Lestarikan Budaya Sunda, IKWI dan PWI Jabar Gelar Lomba Menyanyi POP Sunda  

Beliau berpesan kepada masyarakat dan generasi muda khususnya bahwasannya batik adalah warisan budaya Indonesia yang harus tetap dijaga dengan baik, karena batik adalah ciri bangsa Indonesia yang kaya akan budayanya, “kepada generasi muda, kalo dulu orang memkai batik itu identik orang tua, identik orang mau kondangan. Tapi sekarang batik sudah milik semua lapisan dari anak kecil sampai dewasa itu semuanya menggunakan batik, maka dari itu kepada generasi muda, yuk jangan hanya senang memakai tapi belajarlah bagaimana membuat batik, bagaimana mencintai batik, bagaimana mengenakan batik dan bagaimana bisa menjadi pengusaha batik sehingga UNESCO yang telah menetepkan bahwa batik sebagai warisan budaya Indonesia ini bisa lestari terus oleh generasi generasi yang akan datang karena ini bukan tidak mungkin kalo kia lengah kemudia ini nanti dicaplok oleh negara lain kita baru teriak-terik. Itu makanya sekali lagi kepada temen-temen anak-anak generasi muda, yuk kita belajar membatik, mencintai batik, memakai batik, dan bisa sungguh-sungguh menjadi pengusaha batik. Itu pesan saya untuk generasi muda.” (Nurul/Erlangga)