Beranda News Bogor Raya

Gelar Unjuk Rasa, SEMMI Tuntut Imahalo Resto Ditutup

LIPUTANBOGOR.COM- Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Bogor melakukan aksi unjuk rasa di depan Balaikota Bogor, Senin (22/7).

Aksi yang berlangsung tersebut merupakan bentuk protes dan tuntutan massa aksi kepada Walikota Bogor, Bima Arya, untuk menutup Imahalo Resto Bogor. Tuntutan itu dilakukan SEMMI karena adanya dugaan penyalahan izin operasional.

Koordinator Lapangan Aksi, Ferga Aziz, mengatakan, pihaknya unjuk rasa di Balaikota Bogor untuk menuntut Walikota menutup Imahalo Resto yang menjual minuman keras (Miras) tidak berizin serta menyalahgunakan izin operasional. “Tidak hanya itu, kami juga menuntut Walikota Bogor untuk memecat Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP),” ucap Ferga.

Menurutnya, DPMPTSP telah melakukan pembiaran terhadap Tempat Hiburan Malam (THM) tanpa izin.
Pihak SEMMI pun mengaku telah melakukan pengamatan selama tiga minggu di Imahalo Resto Bogor. Hingga akhirnya pada hari Sabtu (15/6), tepatnya antara pukul 00.00 hingga 01.30 WIB, terlihat perubahan aktivitas yang sebelumnya restoran menjadi tempat hiburan malam. Ia mengatakan memiliki beberapa dokumentasi adanya tontonan tarian perempuan yang hanya menggunakan pakaian dalam, dan penyediaan minuman keras (Miras) seperti martel, singleton, macalan, vodka, triplesec, moscato sababay, dan beberapa Miras lainnya.

Baca:  Giat Millennial Road Safety Festival, Polres Bogor Silaturahmi bersama Komunitas Motor di Bogor

Ketua Umum SEMMI Cabang Bogor, Rizqi Fathul Hakim, menganggap, dari hasil pengamatan yang dilakukan pihaknya tersebut, Imahalo Resto Bogor mirip dengan THM padahal Imahalo itu izinnya restoran, karena terpampang jelas di neon box dengan tulisan ‘Imahalo Resto’. Menurutnya juga, usaha tersebut diketahui hanya membayar pajak 10% kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, yang membuktikan kalau usaha tersebut adalah restoran.

“Hal inilah yang memicu kami melakukan aksi ke jalan karena adanya keresahan dari kami selaku mahasiswa dan pemuda, bahkan mungkin juga para keluarga yang ditinggal suami mereka untuk mengunjungi tempat tersebut,” tutur Rizqi.

Baca:  Tindak 1.502 Pelanggar PSSB, Hasilkan Rp 22 Juta untuk Kas Daerah

Namun aksi unjuk rasa yang dilakukan SEMMI tersebut berakhir ricuh, karena pihak massa mendapatkan tindakan represif dari aparat kepolisian dan Satpol PP yang berjaga di sekitar lokasi. Pihak aparat melakukan tindakan represif karena melihat massa aksi membawa ban dan bensin yang memunculkan dugaan melakukan pembakaran ban tersebut di depan gerbang depan Balaikota Bogor.

Kericuhan tersebut juga mengakibatkan tidak adanya pertemuan antara SEMMI dengan pihak Pemkot Bogor. Rizqi pun menyayangkan adanya tindakan represif aparat keamanan yang berjaga tersebut. “Padahal kita aksi normatif dan tidak bakar ban sama sekali,” ungkapnya. Dia pun berencana akan melaporkan insiden tersebut ke Kepala Divisi Propam Mabes Polri untuk dapat ditindak lanjuti perlakuan represif oknum kepolisian terkait.

Baca:  HMI Cabang Kota Bogor : Aksi Kedaulatan Hukum dan Lingkungan

Menanggapi kelanjutan dari aksi tersebut, SEMMI berencana akan mengadakan aksi lanjutan di depan Kantor Polresta Bogor Kota dan Kasatpol PP Kota Bogor hingga Polda Jawa Barat jika Kapolresta dan Kasatpol PP Kota Bogor tidak melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke Imahalo Resto Bogor dalam kurun waktu 7X24 Jam. Dalam keterangan tertulis, SEMMI, menyampaikan, Kami segenap masa aksi unjuk rasa berharap pemerintah terkait segera menindaklanjuti secara tegas masalah ini.

Reporter: Sendi Romadhon Simorangkir