Beranda Sastra & Budaya

IBU

Oleh : Acep Saprudin

Untuk ibu yang selalu menyayangiku,
Untuk ayah yang selalu mencintaiku,
Untuk mata yang selalu berlinang kala menatap aku,
Untuk mu yang aku sungguh mencintai,
Ibu, ayah, engkau adalah malaikat yang begitu setia dengan kalamullah untuk menjaga kami anak-anakmu.

Aku bahkan tidak tahu bagaimana membahagiakanmu walau sedikit,

Seperti pagi yang cerah,
Rerumputan hijau memukau menyambut hangatnya mentari,
Aku terdiam memandang air mengalir,
memantulkan gemericuknya,
riuh yang menenangkan,

dan ia mengingatkan aku,
pada satu kata tentang kehidupan,
dari lisan yang tidak lulus SD,
dari lisan yang kaki nya tidak pernah menapak di kota-kota besar,
dari lisan yang dikenal ndeso dan tidak punya apa-apa,

Baca:  Nasehat Ayah; Kembalilah

kata itu, adalah “iman”
aku termenung mendengarnya,
meraba-raba makna nya,
hingga aku menemukan samudera keindahan,
dari kata iman itu,
kata yang bukan sekedar kata.

Segarang apapun manusia,
Ia akan jatuh tersungkur dibawah kaki ibu,
Karena tahu kemuliaannya dijaga,
Oleh Allah dan RasulNya.

Lalu, ada yang merasa lembut dan baik hati
Kemudian ia mencampakkan ibu nya,
Ia meninggalkan ibu nya,
Di panti jompo,
Seolah kehadiran ibu dirumahnya,
Menjadi beban dan mengganggu,

Hati ibu memang lembut,
Ia tidak akan meronta meminta pulang,
Ia akan terdiam,
Kemudian meneteskan air mata,
Tetap dalam do’a terbaik untuk anaknya,
Ia akan melupakan kesalahan anaknya,
Tapi hati sudah sakit,
Keberadaannya di panti jompo,
Yang ia harapkan bersama anak-anaknya dimasa tua,
Kini hilang, ia menjadi sebatang kara.

Baca:  Pengampunan Dosa

Saudaraku, kemana lagi kau akan mencari surge?
Jika kemuliaan ibu kau acuhkan,
Jika surge yang ada didekatmu kau campakkan,
Makna dari setiap kata
Dari lisan yang begitu lembut dan penuh belas kasihan,

Ibu

sungguh aku merindukan mu,
pelukan kasih sayangmu,
dimanjakan olehmu,
hingga tiba saatnya aku dapat menebus semua salah,
dengan bakti dan amalan terbaik,
yang aku pikir sulit dilakukan,