Desa Benteng, Bogor – Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor turut berkontribusi dalam pengendalian limbah rumah tangga dengan mengembangkan inovasi pengolahan minyak jelantah menjadi sabun. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat bertajuk “Penyuluhan dan Pembuatan Sabun dari Minyak Jelantah”.
Minyak jelantah: dari limbah berbahaya menjadi solusi ramah lingkungan
Minyak jelantah kerap dianggap sebagai limbah dapur yang tidak berguna dan dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah. Padahal, kebiasaan ini dapat mencemari lingkungan dan menimbulkan gangguan kesehatan. Melalui kegiatan pengabdian ini, mahasiswa UIKA menunjukkan bahwa minyak bekas dapat dimanfaatkan menjadi sabun yang aman dan bermanfaat untuk keperluan rumah tangga.
Proses pembuatan sabun dari minyak jelantah
Pembuatan sabun dari minyak jelantah tidak memerlukan teknologi tinggi dan dapat dilakukan dengan alat sederhana. Sabun yang dihasilkan efektif digunakan untuk mencuci peralatan dapur, lantai, hingga pakaian, namun tidak untuk mandi. Selain lebih ramah lingkungan karena bebas dari deterjen sintetis, sabun ini juga memiliki nilai ekonomis apabila diproduksi dan dikemas secara menarik.
Bahan-bahan:
• Minyak jelantah: 500 gram (sebaiknya dari minyak yang baru dipakai 1–2 kali, tidak berbau amis)
• Arang aktif: 50 gram
• Air suling: 170 gram (disarankan menggunakan air berkemasan merek Cleo)
• Soda api (NaOH): 70 gram
• Minyak esensial (non-alkohol): 10 ml
Alat:
• Wadah plastik (bukan berbahan logam)
• Pengaduk non-logam
• Timbangan digital
• Cetakan sabun
• Masker dan sarung tangan

Langkah pembuatan:
1. Panaskan minyak jelantah, tambahkan arang aktif, panaskan selama 1–2 menit.
2. Diamkan semalaman untuk menghilangkan bau dan mengendapkan kotoran.
3. Saring minyak, ukur kembali sebanyak 500 gram.
4. Larutkan soda api ke dalam air (gunakan alat pelindung diri karena proses ini menghasilkan panas dan uap menyengat).
5. Setelah larutan dingin, campurkan dengan minyak jelantah sambil diaduk hingga mengental.
6. Tambahkan pewangi, aduk sebentar, lalu tuang ke dalam cetakan.
7. Diamkan semalaman untuk proses pembekuan.
8. Setelah beku, sabun perlu didiamkan kembali selama kurang lebih dua minggu sebelum dapat digunakan.
Kegiatan penyuluhan: antusiasme masyarakat tinggi
Penyuluhan diikuti oleh kurang lebih 30 peserta yang terdiri dari ibu rumah tangga, kader posyandu, dan pemuda desa. Peserta aktif mengikuti sesi diskusi dan praktik pembuatan sabun. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta lebih dari 50% berdasarkan data pre-test dan post-test. Beberapa peserta juga menyatakan ketertarikan untuk memproduksi sabun secara mandiri sebagai alternatif usaha rumahan.
Harapan dan dampak
Perwakilan peserta menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat dan berharap inovasi serupa dapat dilanjutkan ke wilayah lain. Edukasi berbasis lingkungan seperti ini tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi keluarga.
1. Minyak jelantah 1 liter
2. Arang 1 bungkus = Rp. 10.000
3. air suling (Cleo) 2 botol = Rp. 3.000
4. soda api 1 bungkus = Rp. 10.000
5. pewangi non alkohol 1 botol = Rp. 20.000
6. cetakan 1 pack = Rp. 12.000
Total = Rp. 55.000





