LIPUTANBOGOR.COM ─ Belum genap sepekan aksi Sandi Butar Butar viral di media sosial, tensi Kota Depok memanas. Adalah dugaan kasus korupsi di tubuh instansi Dinas Pemadaman Kebakaran Depok (Dinas Damkar Depok) dan ditambah ambruknya ruas jalan di GDC pada malam Senin (12/4) makin memperkeruh konstelasi politik di Kota Belimbing ini.
Melalui siaran persnya (14/4), Ketua Pertahanan Ideologi Sarekat Islam (Perisai) Depok, Muhammad Djody Satriani, mengatakan bahwa potensi korupsi dalam sebuah kelembagaan selalu terbuka. Apalagi, Kota Depok menurutnya sangat rapat dalam memberikan kemudahan akses yang terbuka untuk masyarakatnya. Berbeda dengan induknya, yakni Provinsi Jawa Barat yang telah mengatur transparansi pengelolaan anggaran yang terbuka dan dapat diakses masyarakat di laman resminya sesuai dengan Perda Provinsi Jawa Barat Tentang APBD.
“Nyanyian Sandi menjadi simbol pejuang anti korupsi yang patut kita apresiasi keberaniannya. Saudara Sandi sangat berani bahkan membawa nama Presiden Joko Widodo untuk menindak kasus di tubuh Dinas Pemadaman Kebakaran Depok”, lanjutnya.
Kemudian, masih dikatakan Djody, intimidasi ataupun ancaman pasti datang silih berganti. Yang jelas PERISAI Depok mengharapkan perlindungan hukum kepada saudara Sandi dari Aparat Perlindungan Hukum dan mengecam tindakan represif dari pihak-pihak yang mengancam keamanan jiwa dari saudara Sandi”, pungkasnya.
Selain itu, amblesnya jalan di Jalan Boulevard, Kawasan GDC tepatnya di area parkir Ghawil Cafe membuat semua orang semakin meragukan kinerja pemerintah.
“Mustahil apabila cara birokrasi kita masih seperti ini spesifikasi jalanan tidak menjadi korban sunat karena jika kontraktor atau pemenang tender melakukan itu, untungnya darimana?“ Sekarang harus diusut tuntas jangan sampai menyalahkan abrasi sungai terkait amblasnya jalan tersebut. Yang salah menurut saya bagaimana bisa jalanan yang dibangun secara betonisasi yang di proyeksikan untuk jangka waktu bertahun-tahun bisa amblas karena air sungai”, tutupnya dengan nada semangat. (JR)





