
LIPUTANBOGOR.COM – Jalan Jenderal Sudirman menjelma dari jalur sibuk kendaraan menjadi panggung budaya rakyat. Ribuan warga memadati ruas jalan utama Kota Bogor itu untuk menyaksikan penutupan spektakuler Hari Jadi Bogor ke-543 (HJB 543), yang dimeriahkan Kirab Helaran dari 36 kelompok masyarakat.
Nuansa semarak berpadu dengan cuaca dingin paska hujan yang jadi khas Kota sejuta angkot ini, membentuk atmosfer yang tak hanya meriah, tapi juga menghangatkan rasa kebersamaan.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengucapkan terimakasih kepada seluruh warga yang telah datang dan ikut larut dalam perayaan, sambil memberi imbauan khas penuh makna.
“Silakan datang, mari rayakan bersama. Tapi tetap jaga ketertiban, siapkan jas hujan, dan yang tak kalah penting bawa kantong sampah,” ujar Dedie, Sabtu malam (28/6).
“Ini bukan hanya soal pesta kota, ini pelajaran kebersamaan dan tanggung jawab.”
Menurut Dedie, konsep helaran malam hari dipilih sebagai bentuk adaptasi yang lebih inklusif.
“Biasanya digelar siang, tapi kali ini kita ubah. Kita beri ruang bagi masyarakat yang siang hari bekerja. Anak-anak sekolah pun bisa ikut menonton. Karena malam hari adalah waktu rakyat waktu untuk bersilaturahmi, menyatu, dan merayakan identitas kita,” tambahnya.
Lebih dari sekadar seremoni penutup, Dedie menegaskan bahwa Kirab Helaran menjadi simbol keberlangsungan budaya dan identitas Kota Bogor.
“Ini bukan sekadar pawai. Ini momentum kita menjaga warisan, memperkuat kebersamaan, dan menunjukkan bahwa Bogor bukan hanya kota penyangga, tapi kota dengan jiwa dengan karakter dan tradisi yang hidup,” bebernya.
Diharapkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut hadir dalam acara malam ini. Jika hadir, kehadirannya akan mempertegas makna helaran sebagai peristiwa budaya tingkat provinsi, bukan sekadar lokal.
“Kirab ini jadi bukti bahwa budaya tumbuh ketika diberi tempat, dan warga Bogor siap menjaganya,” tutup Dedie.
Dan malam ini, di bawah cahaya lentera, suara angklung dan bedug menggema di udara. Kirab bukan hanya berjalan tapi menyala.
Sebagaimana Bogor yang tak pernah berhenti hidup, bahkan saat hujan turun sejak pukul 17.30 wib. Beruntung hujan bisa reda, sekitar pukul 20.00 wib.(D2N)




