Beranda News Ekonomi & Bisnis

Kisah Andika Kembangkan Handmade untuk Minimalisir Perilaku Konsumtif dan Hedonis Generasi Millenial

LIPUTANBOGOR.COM- Topik yang sedang hangat dibicarakan saat ini di Indonesia adalah bidang kewirausahaan. Fenomena berwirausaha dapat dilihat dari banyaknya usaha bisnis baru yang bermunculan dengan berbagai inovasi kreatif dan variasi di segala bidang, seminar dan pelatihan mengenai kewirausahaan juga semakin sering diadakan, buku buku yang membahas mengenai kewirausahaan pun banyak diterbitkan.

Pada dasarnya, seseorang pengusaha sejati dapat melihat peluang bisnis dalam segala situas dan kondisi. Berbagai kalangan bersemangat menjalankan aktifitas wirausaha, baik dari kalangan orang tua, mahasiswa, bahkan pelajar yang masih duduk di bangku sekolah pun sudah mulai mencoba untuk berwirausaha. Tidak sedikit pula dari kalangan pekerja yang menjalankan wirausaha sebagai pekerjaan sampingannya demi mendapatkan passive income.

Hal ini yang juga yang dilakukan oleh Andika Saputra, Mahasiswa Semester V jurusan Management Informatika di Bina Sarana Informatika (BSI) Bogor dalam mengambil peluang usaha di bidang usaha kreatif. Andika memulai usahanya sejak Madrasah Aliiyah (MA). Hasil usaha kreatif atau lebih dikenal dengan hand madenya diantaranya adalah pita, bross, bucket bunga, tempat pensil, gantungan kunci, mini bag, cass handphone, bando, sarung pulpen, dan lampion.

Baca:  Eggy Telur Asin Pedas, Produk Inovasi Olahan Telur Asin

“Awalnya hanya senang dan hobi saja. Karena manfaatin anugerah Allah. Tapi hari demi hari alhamdulilah karya saya disukai. Awalnya di sadari sama temen-temen, terus disebarin gitu dipasarin gitu. Ada yang suka saya senang. Ada yang minta di buatkan saya buatkan. Dari sana usaha kreatif kecil-kecilan ini berjalan. Alhamdulillah,”  ungkapnya kepada Liputanbogor.com, Rabu (6/3).

Sebagai seorang Mahasiswa, kesadarannya untuk terjun menjadi wirausaha dimulai dari hobi dan kegemarannya dalam dunia seni dan kreatifitas. Hal tersebut serupa dengan hakikat kewirausaahan yang merupakan kemampuan kreatif dan inovatif, jeli melihat peluang, selalu terbuka untuk setiap masukan dan perubahan yang positif.

“Mereka yang menjadi wirausaha adalah orang-orang yang mengenal potensi dan passionnya dalam belajar mengembangkannya untuk menangkap peluang guna mewujudkan cita-citanya,” katanya.

Apalagi, di era millenial ini tantangan anak muda adalah Trend Gaya Hidup. Gaya hidup saat ini dijadikan sebuah trend atau identitas baru yang dipakai dalam mengukur tingkat kemapanan seseorang. Gaya hidup atau lifestyle sebenarnya sudah ada sejak manusia mulai mengenal barter atau pembayaran yang dilakukan dengan cara menukar dengan barang yang dianggap sepadan. Gaya hidup dapat menjadi ciri atau identitas suatu bangsa karena setiap bangsa memiliki ciri khas masing–masing dalam melakukan gaya hidup mereka.

Baca:  Perbaiki Struktur Ekonomi, Pemerintah Fokus Ekspor Industri

Hal di atas, tentu akan menjadi marabahaya dan ancaman jika tidak di filter dengan baik. Khusunya, bagi kalangan anak muda yang sedang gemar mencari identitas diri. Banyak kejadian, bahwa agar dapat di terima di masyarakat atau lingkungan sosial anak muda terjerumus ke dalam pergaulan bebas, narkotika, dan hal buruk lainnya. Tidak sedikit anak muda yang menipu secara terang-terangan orang tuanya dengan meminta uang jajan tambahan kepada orang tuanya atau bahkan sampai mencuri agar dapat memenuhi gaya hidupnya.

Kasus lainnya adalah perilaku konsumtif bahkan hedonis anak muda. Anak muda saat ini dikejar dengan gengsi lifestyle. Yang seharusnya di usia produktif ini, ia sudah menghasilkan suatu karya realitas yang terjadi sebaliknya. Seseorang yang konsumtif tidak memikirkan efek dan konsekuensi yang timbul ketika mereka mengambil keputusan untuk membeli barang tersebut. Tipikal konsumtif membeli bukan melainkan kebutuhan namun karena untuk kesenangan sendiri, sehingga menyebabkan seseorang boros yang dikenal dengan istilah perilaku konsumtif atau konsumerisme.

Baca:  Hadapi Tantangan Logistik, Pemerintah bersama Pelaku Usaha Bahas Grand Design Sistem Logistik Nasional

Andika merupakan satu dari sekian anak muda yang masih memikirkan kreatifitas dan berusaha memanfaatkan peluang-peluang untuk menghasilkan sebuah karya atau produk. Berkat usaha bisnis hand madenya ia mampu membantu meringankan beban orang tuanya dalam biaya kuliah. Selain itu, Andika juga bisa memenuhi sendiri keinginanya seperti membeli barang-barang atau benda-benda yang dia sukai lewat bonus dari usaha kreatif yang digelutinya.

“Setiap orang pada dasarnya memiliki sikap kreatif dan inovatif, akan tetapi tidak semua orang bisa mengembangkan sikap kreatif dan inovatifnya tersebut secara maksimal. Parahnya kadang mereka tidak menyadari jika memiliki jiwa kreatifitas yang Allah anugerahkan,” tutur Andika sambil fokus mengerjakan tugas kuliahnya.

“Untuk bisa mengembangkan sikap kreatif dan inovatif dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, tekun, konsisten, dan penuh dedikasi yang tinggi. Hal yang paling penting harus senang dengan hobi tersebut. Kalau saya pribadi orangnya suka bikin senang orang lain. Jadi kadang ada konsumen yang tidak memberikan fee juga gapapa. Karena bagi para seniman apresiasi itu adalah hal penting, fee itu bonus dari kesyukuran kita pada Allah,” tutupnya. (INTAN)