Beranda News Bogor Raya

Mengelola Efek Domino Energi: Menjaga Resiliensi Bisnis di Tengah Penyesuaian Harga BBM

Oleh: Dadan Gandara (CEO Gentama Media Group)

LIPUTANBOGOR.COM – ​Keputusan pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang berlaku efektif per 10 Juni 2026 pukul 00.00 WIB menjadi babak baru yang menantang bagi lanskap ekonomi nasional. Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 bukanlah sekadar angka yang berubah di papan SPBU. Bagi kami di sektor industri media, kreatif, dan dunia usaha secara makro, kebijakan ini adalah sebuah sinyal kuat bahwa kita sedang diuji untuk memiliki daya tahan (resilience) yang lebih tinggi.

​Sebagai pelaku industri, kita harus melihat kebijakan ini secara jernih dan proporsional. Di satu sisi, kita memahami bahwa langkah ini merupakan konsekuensi logis dari fluktuasi harga minyak mentah dunia dan bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga kesehatan fiskal serta ketahanan energi nasional. Keputusan untuk tetap mempertahankan harga BBM penopang hajat hidup orang banyak seperti Pertalite dan Biosolar juga patut diapresiasi agar daya beli masyarakat bawah tidak langsung terpukul.

Baca:  Siap Manjakan Lidah Anda, Hotel Santika Premiere Bintaro Hadirkan Kuliner Lezat

​Namun, di sisi lain, sebagai pimpinan korporasi, saya melihat ada efek domino (multiplier effect) yang tetap harus kita mitigasi dengan cermat. Ada tiga catatan kritis yang perlu menjadi perhatian para pelaku usaha saat ini:

​1. Tantangan Cost-Push Inflation pada Operasional

​BBM nonsubsidi seperti Pertamax adalah urat nadi bagi mobilitas kelas menengah, pekerja profesional, hingga armada operasional bisnis skala ringan dan menengah. Kenaikan harga ini berpotensi memicu terjadinya cost-push inflation—di mana biaya operasional harian, biaya distribusi, dan logistik akan terkoreksi naik. Bagi industri media dan kreatif yang menuntut mobilitas tinggi tim di lapangan untuk memproduksi konten berkualitas, situasi ini memaksa kita untuk menghitung kembali efisiensi belanja operasional tanpa mengorbankan produktivitas.

Baca:  Sinergi Aglomerasi hingga PLTSa, Dedie A. Rachim Bidik Pembangunan Kota Bogor yang Inovatif di 2027

​2. Tekanan pada Konsumsi Kelas Menengah

​Kelas menengah adalah motor penggerak utama konsumsi domestik. Ketika porsi pendapatan mereka tersedot lebih besar untuk biaya energi dan transportasi, ruang untuk belanja sekunder maupun tersier otomatis akan menyempit. Ini adalah lampu kuning bagi industri periklanan, retail, dan sektor kreatif. Pelaku usaha harus lebih jeli dan kreatif dalam mengemas produk atau jasa agar tetap relevan di tengah ketatnya prioritas pengeluaran konsumen.

​3. Momentum Keberlanjutan dan Transformasi Digital

​Di balik setiap tekanan, selalu ada peluang untuk berbenah. Momentum 10 Juni ini harus kita jadikan cambuk akselerasi transformasi. Ini adalah waktu yang tepat bagi para CEO untuk mematangkan sistem kerja yang lebih fleksibel, mengoptimalkan infrastruktur digital demi memangkas rantai operasional yang tidak efisien, hingga mulai serius menyusun peta jalan (roadmap) transisi ke kendaraan operasional berbasis listrik (EV) demi keberlanjutan jangka panjang.

Baca:  Bantuan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa, Tahap 3 Tahun Anggaran 2021 Desa Gobang

​Kesimpulan

Kita tidak bisa mengontrol pergerakan harga minyak mentah global, tetapi kita memiliki kendali penuh atas bagaimana organisasi kita meresponsnya. Kami memilih untuk melihat situasi ini sebagai fase adaptasi, bukan titik surut. Pemerintah telah mengambil keputusan untuk menjaga stabilitas makro; kini giliran kita para pelaku industri untuk memastikan roda ekonomi mikro di perusahaan masing-masing tetap berputar dengan strategi mitigasi yang presisi, inovasi tanpa batas, dan kepemimpinan yang adaptif.