Beranda Opini

Mengenal Lebih Dekat Konsep Mudharabah

(Kerjasama dagang dengan memberikan saham harta atau jasa)

Oleh : Muhammad Miqdad S. (STEI SEBI,Depok)

Kata Mudharabah Berasal dari bahasa arab yaitu kata al-darb, berarti memukul atau bejalan, pengertiannya al-darb dapat di artikan dengan ‘’poses melangkahkan kakinya berusaha dalam melaksanakan usahanya’’.

Mudharabah atau biasa di sebut juga dengan nama qriad bagian dari salah satu pejanjian kerja sama. Istilah qirad biasa di gunakan oleh orang Hijaj sedangakan mudharabah biasa di gunakan orang iraq. Dengan demikian keduanya memiliki arti yang sama.

Menurut sebagian fuqoha istilah mudharabah ialah: Pemilik saham menyerahkan sahamnya kepada pekerja(pengusaha), untuk di kembangkan(memper dagangkan), sedangkan hasil dari keuntungan di bagi antara keduanya dengan kesepakan bersama yang sudah di tentukan di awal perjanjian.

Dengan demikian Mudharabah adalah akad kerja sama antara dua pihak, pihak pertama sebagai pemilik saham menyediakan seluruh sahamnya, sedangkan sepihak kedua sebagai pengelola. Keuntungan usaha di bagi sesuai ke sepakatan besama atau yang telah di tuangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi di tanggung oleh pemilik saham selama kerugian tersebuk bukan sebagai akibat kelalai pihak pengelola saham. Apabila kerugian tesebut di akibatkan karena kelalaian dan kecurangan pengelola saham, maka pengelola saham harus betanngung jawab tas keugian.

Baca:  Etika Bisnis Ala Rasulullah SAW

Kemudian di dalam akad Mudharabah terdapat rukunnya, dalam hal ini para fuqoha berbeda pendapat dalam menentukan rukun mudharabah, menurut Ulama Hanafiah bahwa rukun mudharabah ada dua yaitu ijab(pernyataan penerima saham), dan qabul (pernyataan penerima saham atau pekerja). Apabila keduanya telah melafalkan ijab dan qabul, maka perjanjian tesebut telah memenuhi rukunyna, dan dinyatakan sah.

Sedangkan menurut jumhur ulama bahwa rukun mudharanah ada tiga, ialah : ‘aqidayni (dua oang yang melakukan kesepkatan atau perjanjian), ma’qud ‘alayhi (saham/modal) dan sigat: (peryataan ijab dan qobul dari kedua belah pihak), sedangkan Ulama Shafi’iah lebih rinci dalam menentukan rukun Mudharabah, yaitu: pertama al-‘aqidayn (dua orang yang melakukan perjanjian , Kedua: mal (saham atau modal), ketiga : ‘amal (usaha yang di kelola, keempat: al-ribhu( laba atau keuntungan) dan kelima: sigat (pernyataan ijab & qobul dari kedua belah pihak.

Setelah rukun mudharabah ada juga Syarat syarat dalam Mudharabah yang harus di penuhi, Pertama: al-‘aqidyn (dua oang yang melakukan perjanjian, haruslah orang yang cakap bertindak hukum dan cakap di angkat sebagai wakil, kerena satu posisi orang yang akan mengelola saham adalah wakil dari pemilik saham, itu sebabna, saat saat seorang wakil juga berlaku bagi pengelola saham dalam transaksi mudharabah.

Baca:  Bolehkah Jual Beli Followers dalam Islam

Kedua: mal (saham atau modal), harus di ketahui dengan jelas agar dapat di bedakan antara saham yang di perdagangkan dengan keuntungan dari pedagang yang akan di bagikan kepada kedua belah pihak sesuai dengan perjanjian yang telah di sepakati, saham atau modal boleh berupa harta yang tidak begerak, boleh tempat usaha, tidak boleh berupa utang.

Ketiga: al-‘ amal (usaha yang di kelola), usaha yang di kelola tidak bertentangan dengan hukum islam, misalnya usaha tempat judi dan obat obatan terlarang, dan usaha ang lainnya yang merugikan hidup dan kehidupan manusia.

Keempat: al-ribhu (laba atau keuntungan), keuntungan akan menjadi milik bersama sesuai dengan kesepakan bersama dan di bagi sesuai dengan kesepakan di awal perjanjian, apabila perjanjian itu tidak jelas maka menurut Hanafiah perjanjianya batal (rusak).

Baca:  Optimalisasi Dana Zakat untuk Pemberdayaan UMKM Mustahik di Tengah Wabah Virus Corona

Kelima: sigat (perjanjian ijab& qobul dari kedua belah pihak) untuk melaksanakan usaha.

Pembagian mudharabah secara umum di bagi menjadi duabagian, yaitu, mudharabah mutlaqoh (penyeraham secara mutlak, tampa syarat dam pembatasan), dan mudharabah muqoyyadah (penyerahan saham dengan syarat dan batasan tertentu).

Dasar hukum mudharabah yang biasa di gunakan para ulama adalah bedasarkan Al-Quran dan Hadist dan ijma Salah satunya ialah: Q.S Al-Muzammil : 20(………….Dan orang yang berjalan dimuka bumi mencari karunia allah…..) kemudian Hadist tentang Mudharabah , H.R AN-Nasa’I no. 3867 (Nabi Muhammad pernah berkata; Tanahku seperti harta mudharabah kerja sama dagang dengan membeikan saham atau jasa, apa yang layak untuk harta mudharabah maka layak untuk tanahku dan apa yang tidak layak untuk harta mudharabah maka tidak layak untuk tanahku. Dia memandang tidak mengapa jika dia menyerahkan tanahnya kepada pembajak tanah, agar di kerjakan oleh pembajak tanah sendiri,anaknya serta orang yang membatunya serta sapinya, pembajak tidak memberikan biaya sedikitpun, dan semua pembiayayan dari pemilik saham).