LIPUTANBOGOR.COM – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, atmosfer di Kota dan Kabupaten Bogor mulai diwarnai dengan keriuhan tradisi lokal yang khas. Salah satu yang paling menonjol adalah tradisi “Cucurak”, sebuah ritual makan bersama beralaskan daun pisang yang telah menjadi identitas budaya tak terpisahkan bagi warga muslim di wilayah Tatar Sunda, khususnya Bogor.
Tradisi ini melibatkan perkumpulan keluarga, rekan kerja, hingga komunitas yang duduk bersila dalam lingkaran untuk menyantap hidangan tradisional. Namun, di balik keriuhan santap bersama tersebut, terselip makna filosofis tentang kesetaraan, kebersamaan, dan rasa syukur dalam menyambut bulan penuh ampunan.
CEO Gentama Media Group, Dadan Gandara, memberikan pandangannya terkait eksistensi tradisi ini di tengah moderasi zaman. Menurutnya, Cucurak adalah manifestasi nyata dari kekuatan ikatan sosial yang dimiliki oleh masyarakat Bogor.
Ia menilai bahwa kekuatan tradisi ini terletak pada kemampuannya menyatukan berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial.
”Cucurak bukan sekadar ritual makan-makan atau hura-hura menjelang puasa. Ini adalah instrumen perekat sosial yang luar biasa. Di atas daun pisang itu, semua orang duduk sama rendah, menyantap nasi liwet yang sama, dan saling memaafkan. Inilah esensi budaya muslim Bogor yang sangat inklusif,” ujar Dadan Gandara saat memberikan opininya di Bogor, Selasa (17/2/2026).
Dadan juga menjelaskan bahwa tradisi ini memiliki kaitan erat dengan aspek psikologis manusia yang membutuhkan momen rekonsiliasi sebelum menjalani ibadah puasa.
Cucurak dianggap sebagai media untuk membersihkan hati melalui silaturahmi yang hangat. Ia meyakini bahwa selama nilai-nilai kekeluargaan masih dijunjung tinggi di Bogor, tradisi ini tidak akan pernah hilang ditelan arus modernisasi.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa di era digital saat ini, Cucurak justru seringkali menjadi konten positif yang menunjukkan sisi humanis masyarakat Indonesia.
Ia menekankan bahwa meskipun teknologi komunikasi terus berkembang, pertemuan tatap muka melalui media makan bersama tetap memiliki energi yang tidak bisa digantikan oleh panggilan video sekalipun.
”Harapan kita, generasi muda tetap memelihara jati diri ini. Jangan sampai Cucurak hanya dianggap sebagai agenda tahunan tanpa makna. Kita harus melihatnya sebagai upaya menjaga warisan leluhur yang mengajarkan kita untuk selalu berbagi dan peduli terhadap sesama,” tambahnya dengan nada optimis.
Fenomena Cucurak di Bogor kini memang telah merambah ke berbagai tempat, mulai dari gang-gang sempit perkampungan hingga hotel berbintang.
Hal ini membuktikan bahwa tradisi lokal mampu beradaptasi tanpa kehilangan substansinya sebagai simbol kebersamaan warga muslim Bogor dalam menjemput Ramadan dengan hati yang riang.(*)





