LIPUTANBOGOR.COM – Proses seleksi Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor tengah menjadi sorotan tajam publik. Di tengah upaya reformasi birokrasi, Ikatan Mahasiswa Angkatan Muda Siliwangi (IMA AMS) Kota Bogor menyatakan sikap tegas terhadap proses seleksi yang dinilai tidak transparan dan tertutup dari partisipasi masyarakat.
Sekretaris Jenderal IMA AMS Kota Bogor, Ikhwan Zaenudin, menekankan pentingnya posisi Sekda sebagai ujung tombak dalam menerjemahkan visi-misi kepala daerah ke dalam kebijakan dan program pembangunan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
“Sekda itu bukan sekadar jabatan kosong yang perlu diisi. Ini adalah posisi kunci dalam pemerintahan. Ia harus mampu menggerakkan roda birokrasi untuk menciptakan perubahan yang nyata,” tegas Ikhwan dalam keterangannya kepada media, Kamis (12/6/2025)
IMA AMS menyoroti absennya prinsip transparansi dan partisipasi publik dalam tahapan seleksi. Menurut mereka, publik tidak diberi akses terhadap informasi mendasar seperti kriteria penilaian, latar belakang calon, maupun hasil evaluasi.
“Sejak awal publik tidak pernah dilibatkan. Tidak ada kejelasan tentang kandidatnya, bagaimana rekam jejak mereka, dan seperti apa proses penilaiannya. Semua berjalan di balik pintu tertutup,” lanjut Ikhwan.
Menurutnya, perubahan skema seleksi yang tidak lagi melalui mekanisme terbuka dan kompetitif justru menjadi kemunduran dalam upaya menciptakan birokrasi yang profesional. Kendati berlandaskan pada Permen PANRB Nomor 3 Tahun 2020, proses internal yang tertutup tidak seharusnya menghilangkan prinsip dasar demokrasi seperti keterbukaan informasi dan akuntabilitas publik.
IMA AMS secara tegas mendesak agar hasil seleksi calon Sekda diumumkan secara terbuka kepada masyarakat. Menurut mereka, jabatan strategis seperti Sekda tidak boleh dijadikan alat politik atau diberikan hanya karena loyalitas semata.
“Ini jabatan penting yang akan sangat menentukan kualitas pelayanan publik di Kota Bogor. Masyarakat berhak tahu siapa kandidatnya dan apa rekam jejak serta pencapaiannya,” ujar Ikhwan.
IMA AMS juga berkomitmen untuk mengawal penuh proses seleksi hingga tuntas dan memastikan tidak ada rekayasa atau pelanggaran yang mencederai nilai-nilai meritokrasi.
“Kami ingin proses seleksi yang adil, jujur, dan transparan. Bukan sekda yang hanya royal secara politik, tapi yang benar-benar berkualitas dan punya kapasitas,” pungkasnya.(***)





