Beranda News

Pendidikan Karakter Pancawaluya : Budaya sekolah, Sapa pagi 

LIPUTANBOGOR.COM – Degradasi  moral  dan  krisis  karakter  di  kalangan  peserta  didik  menjadi  tantangan serius  dalam  sistem  pendidikan  Indonesia  kontemporer.  Fenomena  kekerasan  di lingkungan sekolah, intoleransi, dan menurunnya empati sosial menunjukkan urgensi penguatan   pendidikan   karakter   yang   kontekstual  dan   berbasis   kearifan   lokal.

Merespons  tantangan  tersebut,  Pemerintah  Provinsi  Jawa  Barat  mengembangkan Program Pendidikan Karakter Pancawaluya sebagai model pembinaan karakter yang kontekstual,  membumi,  dan  berakar  pada  nilai-nilai  budaya  Sunda.

 

Pendidikan Karakter Pancawaluya sebagai model pembinaan karakter  berbasis  nilai-nilai  budaya  Sunda  di  Jawa  Barat. Pancawaluya yang diintegrasikan  ke  dalam  lima  nilai  inti: Cageur (sehat  jasmani-rohani), Bageur(berakhlak   mulia), Bener (jujur   dan   bertanggung   jawab), Pinter (cerdas   dan bijaksana),  dan Singer (kreatif  dan  inovatif).

Baca:  Pemerintah Hormati Putusan MK Terkait UU Cipta Kerja

Hasil  kajian  menunjukkan  bahwa Pendidikan  Karakter  Pancawaluya  merepresentasikan  model  inovatif  pembinaan karakter   yang   mengintegrasikan   nilai-nilai   budaya   Sunda   dengan   kerangka kompetensi  global,  menawarkan  solusi  kontekstual  terhadap  krisis  karakter  yang dihadapi generasi muda Indonesia.

Melalui lima nilai inti “Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer” Pancawaluya membentuk profil Manusa Waluya, yaitu manusia paripurna  yang  seimbang  secara  jasmani,  rohani,  intelektual,  sosial, dan  spiritual. Selain itu Pancawaluya memiliki koherensi kuat dengan kerangka kompetensi globalInner .

Sasaran Pendidikan Karakter Pancawaluya Jabar Istimewa adalah siswa SMA/SMK/MA, SMP/Mts, dan sederajat yang terindikasi melakukan tidakan indispliner level sedang dan berat sesuai standar sekolah, menggangu ketertiban umum, melakukan tidakan kekerasan yang berpotensi mencederai orang lain atau merusak fasilits umum/ aset pribadi

Baca:  Gen Z Beraksi: Bootcamp 3.0 SMK YKTB Bogor Cetak Pemimpin Konseptual & Sosial

Menurut Kepala Sekolah  SMAN 1 Bogor yaitu Drs.Atip Suherman MSi

Sapa Pagi Merupakan pembiasaan positif yang ada di sekolah. Sebagai bentuk komitmen bersama, Bapak Kepala Sekolah dan Dewan Guru mengapresiasi murid dengan menyambut murid-murid. Hasilnya tercermin  dari ketepatan waktu murid-murid hadir di sekolah sebelum pukul 06.30 WIB dan data menunjukkan periode Juli sd November 2025 diketahui bahwa murid-murid hadir sebelum-tepat pukul 06.30 WIB sebanyak 99% dan murid terlambat antara rentang 06.31 sd 06.40 WIB sebanyak 1% (15 siswa)

Penerapan sapa pagi di SMAN 1 Bogor, bagian dari internalisasi Gapura Pancawaluya, berfokus pada pembiasaan budaya positif untuk membangun karakter siswa. Kegiatan ini tidak hanya sekadar sapaan, tetapi terintegrasi dengan aksi nyata seperti jalan kaki atau bersepeda pada hari tertentu untuk menciptakan lingkungan yang sehat (cageur) dan tenang (singer).

Baca:  Ketua Harian Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Bogor Lantik Satgas Pramuka Peduli dan Mabiran Kwartir Ranting Bogor Timur

• Aspek Karakter (Pancawaluya): Pembiasaan ini bertujuan membentuk karakter bener (jujur/disiplin) dan bageur (santun/ramah) melalui interaksi langsung antara guru dan siswa.

• Aksi Nyata: Di SMAN 1 Bogor, sapa pagi dikaitkan dengan aksi bebas kendaraan (pada hari Selasa) sebagai bentuk nyata implementasi nilai-nilai lingkungan dan kesehatan dalam Gapura Pancawaluya.

• Tujuan: Menciptakan suasana sekolah yang kondusif, meningkatkan kedisiplinan, serta mempererat hubungan emosional yang baik antara warga sekolah.

Penerapan sapa pagi di SMAN 1 Bogor berfokus pada pembiasaan budaya positif untuk menyambut warga sekolah di awal hari Secara keseluruhan, sapa pagi di SMAN 1 Bogor merupakan upaya rutin untuk membangun atmosfer sekolah yang ramah dan disiplin.

Oleh : Siti Nurhalifa

Universitas Negeri Jakarta