LIPUTAN BOGOR.COM-Prasasti Ciaruteun merupakkan batu peringatan yang berasal dari masa Kerajaan Tarumanegara sekitar abad V Masehi yang ditandai dengan bentuk tapak kaki Raja Purnawarman. Berlokasi di Desa Ciaruteun, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.Prasasti Ciaruteun sekarang di tempatkan Pada lahan berpagar seluas sekitar 1.000 m2 dan dilengkapi cungkup berukuran 8 x 8 m.
Pak Agan Suganda selaku Juru Pelihara Prasasti Ciaruteun menjelaskan bahwa di wilayah Kampung Muara terdapat beberapa Situs peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang saling berhubungan satu dengan lainnya, karena di wilayah Kampung Muara tersebut ada beberapa Situs seperti, Situs Ciaruteun, Situs Kebon Kopi, Situs Megalitik, dan Situs Cianten “Jadi mengenai tentang latar belakang wilayah Kampung muara ini, jadi wilayah sini ada beberapa Situs cagar Budayaa yang merupakan bukti Sejarah peninggalan masa lalu. Jadi disini ada beberapa Situs ya yang berkaitan dengan masa-masa Kerajaan Tarumanegara yang terutama yang merupakan Kerajaan tertua di Nusantara, disini ada Situs Ciaruteun, Situs Kebon Kopi, Situs Megalitik, dan Situs Cianten” Ucapnya (21/7).
Prasasti Ciaruteun awal mula ditemukan di sungai Ciaruteun pada tahun 1683 “Ya itu Prasasti Ciaruteun memang ditemukan disungai Ciaruteun bahwa sebagai tanda memang Wilayah sini dulu mempunyai posisi penting Pada zaman Kerajaan, jadi secara letak Geografis sangat strategis makanya oleh Raja Purnawarman Pada tahun 400 yang sekarang secara administratif Kampung Muara Jaya dulu jadikan sebagai pusat pemerintahan,karna ada 3 aliran sungai yaitu untuk transportasi Pada saat itu. Jadi Situs-Situs atau peninggalan-peninggalan walaupun tidak tepat ditemukan dipinggir sungai tapi tidak jauh dari sungai tersebut.”
Saat ditemukannya Batu Prasasti Ciaruteun ini berada di Sungai Ciaruteun maka pada saat ditemukannya oleh Sang Kakek Pak Agan Suganda, dilakukan pemindahan pada tahun 1981 dengan mendatangkan alat berat yang di datangkan dari Jogja dan dibantu oleh Mahasiswa Arkeolog UGM, UI untuk Pemindahannya “Nah jadi karena Prasasti Ciaruteun ini sudah banyak dikenal oleh orang dan sangat penting untuk pengetahuan untuk pendidikan Sejarah. Nah pada tahun 1981 prasasti ini dilakukan pemindahan relokasi dengan menggunakan alat takel yang didatangkan dari Jogja pada saat itupun dibantu oleh anak-anak arkeolog dari UGM, dari UI untuk proses pemindahan Prasasti Ciaruteun”
Berdasarkan pemindahan dengan alat berat yang mencapai 10 TON maka sudah bisa diperkirakan berat Batu Prasasti tersebut adalah 8 TON yang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pemindahan dari sungai Ciaruteun ke tempat datar “Alatnya takel terdiri dari rangkaian seling rante dan katrol jadi prosesnya cukup lama kurang lebih 1 bulan baru sampe ketempat yang datar, alat tersebut berkekuatan 10 TON jadi Prasasti Ciaruteun diketahui beratnya ya sekitar 8 TON dari alat pengangkatnya itu dari katrolnya” Jelas Pak Agan Suganda.
Prasasti yang ditemukan terdapak tapak jejak kaki dan ada 4 baris tulisan Palawa peninggalan Kerajaan Tarumanegara tulisan tersebut dibacakan oleh Pak Agan Suganda yang berbunyi :
“VIKKRANTA SYAVANI PAKTEH SRIMATAH PURNNAVARMMANAH TARUMANAGARENDRASYA VISNORIVA PADADVAYAM, Disitu dibuktikan bahwa diantara Raja-raja Tarumanegara yang diagungkan disetiap peninggalan disitu tertulis nama Raja yang agung yaitu Raja Purnawarman, seperti Prasasti di Ciaruteun disitu nampak sepasang tapak kaki yang seperti kaki Dewa Wisnu ialah kaki yang mulya Sang Raja Purnawarman yaitu sebagai Raja penguasa dunia pada saat itu” Jelas Pak Agan
Pak Agan juga berpesan kepada generasi penerus bahwa sebagai generasi yang akan selalu ingat akan Sejarah jangan sampai melupakan peninggalan-peninggalan Nenek Moyang karena Sejarah sebuah ciri dan tanda sebagai besarnya bangsa ini dimasa lalu, maka dari terus dilestarikan dan dijaga agar tidak terlupakan begitu saja “Pesan Bapak ya sebagai juru pelihara di Situs Cagar Budaya kepada generasi muda Milenial sekarang ya, Bapak berharap jangan sampailah melupakan peninggal-peninggalan Sejarah Nenek Moyang kita itukan adalah sebuah ciri atau tanda sebagai besarnya bangsa kita di masa lalu itulah Sejarah, jadi kita jangan sampai melupakan Sejarah dan Budayaa karena bangsa yang besar adalah di lihat dari Budayaa dan Sejarah bangsanya sendiri. Semoga Prasasti bukan hanya Ciaruteun saja ya bahkan ditempat lainpun semoga tetap terawat lestari agar generasi kedepan tahu bahwa inilah bukti Sejarah Nenek Moyang kita betapa besarnya bangsa kita dimasa lalu” tandasnya. (*)





