Oleh : Arief Rahardjo.
Perjalanan selalu menyuguhkan pengalaman.
Terkadang juga menghadirkan kenangan. Hari ini aku mengenang kembali, kerikil-kerikil tajam yang memperkaya arti hidupku.
Manisnya madu cerita hidup yang membuat senyumku lepas.
Akhirnya aku tahu, bahwa dalam cerita hidup, ada penerimaan, ada juga penolakan.
Lalu akhirnya aku belajar, menerima dengan seluas hati membuatku lebih bahagia; lebih menghargai hidup.
–melihat hidup sesuai dengan usiaku.
Rentang waktu adalah sebuah perubahan, amanah dan tanggung jawab.
Perjalanan pun menorehkan kesadaran dalam kisah suka dan duka, bahwa aku hanya manusia, yang tak luput dari kesalahan dan kesesatan.
Keberadaan Tuhanlah yang menentukan langkah selanjutnya dalam penerima upaya dan do’a untuk berguna, berjalan bersama, dan melintasi cakrawala; hingga nasib membuat untuk dimengerti.
Hingga jejak dapat dipahami,hingga takdir dapat dijalani
Kepada Tuhan, kupasrahkan segalanya.
Pada kedua orangtua, kusandingkan demi masa depan, demi tanggung jawab.
Harus lah aku berjuang mengitari waktu yang tersisa dengan penuh syukur, apa adanya; dan tak lupa pula do’a orang-orang disekitarku, adalah tonggak mengintropeksi diri.
Sekarang hanya sisa hidup, bagaimana aku mengentahkan kaki ini melangkah. semoga sejarah hidupku sebagai cermin, untuk menatap masa depan yang menyuguhkan kerinduan, cinta, kasih sayang sebagai manusia dan seorang hamba yang lebih baik.





