Beranda News Bogor Raya

Revolusi Pengelolaan Sampah Kota Bogor: Dari Limbah Rumah Tangga Menuju Sumber Energi Listrik

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, saat memeriksa pembangunan akses jalan menuju PSEL Kayumanis pada Selasa (21/7/2026).

LIPUTANBOGOR.COM – Kota Bogor bersiap melakukan lompatan besar dalam pengelolaan lingkungan. Tidak lagi sekadar menumpuk limbah di TPA, sampah masyarakat akan disulap menjadi energi listrik bernilai guna melalui fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kayumanis di Kecamatan Tanah Sareal.

​Kesiapan tersebut ditinjau langsung oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, saat memeriksa pembangunan akses jalan menuju PSEL Kayumanis pada Selasa (21/7/2026).

Jalan tersebut dibangun khusus untuk memastikan kelancaran mobilitas armada pengangkut sampah yang akan menyuplai material ke fasilitas modern ini.

​Menariknya, fasilitas PSEL di Bogor tak hanya diperuntukkan bagi sampah lokal. Dedie mengungkapkan bahwa proyek ini dirancang untuk berpotensi melayani wilayah Kabupaten Bogor hingga daerah penyangga Jabodetabek.

Baca:  Kolaborasi Industri Kreatif dan UMKM di Masjid Al Muttaqin, Tingkatkan Perekonomian Umat

​”Armadanya bisa dari Kota dan Kabupaten Bogor, Depok, bahkan sampah bisa kita olah dari mana-mana agar Jabodetabek dan Indonesia semakin bersih,” ujar Dedie, Selasa (21/7).

​Sistem PSEL akan mengakhiri paradigma lama pengelolaan sampah secara mendasar. Dengan mengadopsi teknologi yang telah teruji di Eropa, Amerika, Jepang, hingga Korea Selatan, proses pengolahan dipastikan ramah lingkungan dan bebas emisi.

​Sebagai langkah komparasi, Dedie bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor, Rudi Mashudi, sebelumnya sempat bertolak ke Jepang untuk mempelajari sistem pengelolaan sampah di sana.

Baca:  Jelang Ramadan, Wakil Walikota Bogor Tinjau Pasar Kebon Kembang

​”Greater Tokyo saja memiliki 22 PSEL. Indonesia baru memulai, dan Bogor beruntung mendapat dua lokasi, yaitu di Galuga dan Kayumanis,” jelasnya.

​Secara kapasitas, PSEL Kayumanis dirancang mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari, sedangkan PSEL Galuga memiliki kapasitas lebih besar mencapai 1.500 ton per hari.

​Meski mengusung teknologi tinggi, Dedie menekankan pentingnya peran aktif masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah. Sampah bernilai ekonomi dianjurkan untuk didaur ulang terlebih dahulu, sementara residu akhir barulah yang dikirim ke PSEL.

​”Daripada dibuang begitu saja, mending didaur ulang jadi uang. Ini kesempatan warga untuk mulai memilah. Yang masuk ke PSEL benar-benar residu yang sudah tidak punya nilai jual,” imbaunya.

Baca:  Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kota Bogor Giat Bimbang Teknis CHSE

​Pengolahan sampah di PSEL ini menerapkan prinsip zero waste. Sisa pembakaran berupa Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) tidak akan dibiarkan menumpuk, melainkan diolah kembali menjadi produk material konstruksi seperti Paving block, Road base, ​konstan jalan​ dan berbagai kebutuhan infrastruktur lainnya

​Kehadiran PSEL Kayumanis dan Galuga diharapkan menjadi solusi jangka panjang masalah sampah di Kota Bogor menghasilkan energi bersih, mengurangi beban TPA, sekaligus membangun kesadaran lingkungan masyarakat sejak dari rumah.(D2N)