Beranda Sadaya

Saksi Rindu

Malam ini aku kembali menatap layar kecil di genggaman. Tahukah, layar ini adalah saksi atas senyum cengengesan yang sering kukembangkan kala chat panjang denganmu, atau juga saksi atas air mata yang seringkali jatuh berderai karenamu.

Kau adalah emojiku. Setiap kata yang kukirim disertai tawa, disana kau membaca kata-kata itu pun dengan tawa. Setiap ketukan keyboard membuat kita tak henti cengengesan menatap layar di genggaman hingga lupa waktu. Ah, kupikir hanya orang jatuh cinta saja yang mengerti itu.

Baca:  Mempelai Perempuan Rahasia

Kau adalah emojiku. Tak cuma tawa, kau juga sering membuatku tak mampu membendung air mata. Entah apa alasan tangis ini sering jatuh karenamu. Yang kutahu, aku berharap padamu, aku mulai bergantung padamu, kuakui aku candu kepadamu. Sampai aku lupa bahwa: kau memang baik pada siapa saja.

Waktu yang mengundangmu datang, biar waktu pula yang mangantarmu pulang. Rasaku ini tak pernah tenang. Aku lebih sering menahan luka dibanding tawa, aku lebih sering rasakan sedih daripada bahagia. Menantimu, mengharapkanmu, mengidolakanmu, memujamu, itu tak sehat bagiku.

Baca:  IBU

Untuk kamu yang disana, terima kasih untuk semua ekspresi emoji yang kau berikan pada wajahku. Aku jadi mengerti bahwa: tangis-tawa semua akan berlalu dan pergi. Kini satu tekad dan niatku: berharap hanya kepada-Nya selalu.

Karya : Wahyuni