Beranda News Pendidikan

Sekolah Vokasi IPB Gelar Edukasi Gizi Terintegrasi untuk Cegah Stunting di Mulyaharja

BOGOR – Upaya pencegahan stunting di Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor mendapat dukungan nyata dari Sekolah Vokasi IPB melalui kegiatan Workshop Penilaian Status Gizi. Berlangsung di Saung KWT Ciharashas, Jl. Ciharashas RT 06 RW 01 pada Sabtu, 27 September 2025, kegiatan ini menghadirkan edukasi komprehensif tentang gizi ibu hamil dan balita kepada 30 peserta yang merupakan ibu balita dan kader posyandu setempat.

Kegiatan pengabdian masyarakat yang diinisiasi oleh Program Studi Manajemen Industri Jasa Makanan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Kepada Masyarakat Terpusat dan Terpadu Sekolah Vokasi IPB 2025, menandai keterlibatan aktif dunia akademis dalam menanggulangi masalah gizi di masyarakat.

Fokus pada Periode Emas Pertumbuhan

Dr. Ir. Rina Martini, M.Si., Wakil Dekan bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Sekolah Vokasi IPB yang membuka acara menyampaikan bahwa asupan gizi di 1000 Hari Pertama Kehidupan menjadi penentu kualitas tumbuh kembang anak. Periode yang berlangsung sejak konsepsi hingga anak berusia dua tahun ini merupakan masa krusial yang tidak dapat terulang kembali.

“Jendela kesempatan (windows of opportunity) untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak hanya ada satu kali. Jika terlewatkan, dampaknya bisa permanen terhadap masa depan anak,” papar Dr. Rina. Monitoring pertumbuhan secara berkala menjadi kunci untuk mendeteksi sedini mungkin adanya gangguan pertumbuhan yang dapat berujung pada stunting.

Baca:  Bawaslu Kota Bogor Edukasi Pemilih Pemula untuk Cegah Pelanggaran Pemilu 2024

Muslim Yuliantono, S.Sos., Lurah Mulyaharja turut memberikan dukungan dengan mendorong para orang tua untuk lebih selektif dalam memberikan asupan kepada balita. “Bukan sekadar kenyang, tetapi pastikan makanan yang dikonsumsi anak berkualitas dan beragam. Gizi seimbang bisa diperoleh tanpa harus mengeluarkan biaya mahal,” ujarnya.

Integrasi Tiga Aspek Penting Kesehatan Ibu dan Anak

Workshop menghadirkan tiga topik strategis yang disampaikan oleh dosen Program Studi Manajemen Industri Jasa Makanan, Sekolah Vokasi IPB. Topik pertama mengangkat isu Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil yang dibawakan oleh Dr. Ir. Rina Martini, M.Si. KEK merupakan kondisi defisiensi gizi pada masa kehamilan yang berpotensi mengganggu kesehatan ibu dan menghambat perkembangan janin dalam kandungan.

Deteksi dini KEK dapat dilakukan melalui pengukuran sederhana menggunakan pita ukur Lingkar Lengan Atas (LILA). Standar yang digunakan adalah 23,5 cm, di mana ibu hamil dengan LILA di bawah angka tersebut dikategorikan berisiko dan membutuhkan perhatian khusus. Peserta mendapatkan pemahaman tentang pola makan ibu hamil yang ideal dengan konsep 3C: Cukup Makan, Cukup Minum, dan Cukup Istirahat, serta pentingnya konsumsi protein hewani dan nabati.

Topik kedua seputar evaluasi status gizi balita dipaparkan oleh Ksatriadi Widya Dwinugraha, S.Gz., M.Si. Pemantauan pertumbuhan balita memerlukan metode pengukuran yang akurat dengan tiga ketepatan: alat yang terkalibrasi, teknik pengukuran yang benar, dan pencatatan usia yang presisi.

Baca:  Soal Ujian SMP dikecam Netizen

Ksatriadi menjelaskan bahwa monitoring pertumbuhan bertujuan mengidentifikasi apakah perkembangan fisik anak berjalan normal atau mengalami hambatan yang memerlukan intervensi. Peserta diajarkan teknik pengukuran yang berbeda untuk anak di bawah dan di atas dua tahun. Panjang badan dengan posisi berbaring untuk anak di bawah 2 tahun dan tinggi badan dengan posisi berdiri untuk anak di atas 2 tahun. Selain itu disampaikan juga, cara mencatat hasilnya pada kurva pertumbuhan di Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

Topik ketiga membahas urgensi imunisasi balita yang disampaikan Vieta Annisa Nurhidayati, S.Gz., M.Sc. Imunisasi berperan vital dalam melindungi anak dari berbagai penyakit berbahaya. Selain memberikan kekebalan individual, cakupan imunisasi yang tinggi juga menciptakan perlindungan komunal yang menghalangi penyebaran penyakit.

Materi juga mencakup edukasi tentang reaksi ringan pasca vaksinasi seperti demam ringan atau pembengkakan di lokasi suntikan yang merupakan respons normal tubuh. Peserta diberikan panduan penanganan di rumah serta pentingnya kepatuhan terhadap jadwal imunisasi dasar dan pengulangan (booster) untuk memaksimalkan perlindungan.

Pembelajaran Melalui Praktik Lapangan

Keunggulan workshop ini terletak pada sesi praktik langsung yang memungkinkan peserta menerapkan langsung pengetahuan yang diperoleh. Ibu balita dan kader posyandu mendapat kesempatan melakukan pengukuran antropometri balita mulai dari persiapan alat, pelaksanaan pengukuran dengan posisi yang tepat, memastikan lima titik kontak (kepala, bahu, punggung, bokong, dan tumit) menyentuh alat ukur, hingga memplotkan hasilnya pada grafik pertumbuhan.

Baca:  Branding Diri, IPB University Harus Mampu Gaet Kalangan Zilenial

Keterampilan praktis ini sangat esensial bagi kader posyandu yang akan menjadi garda terdepan dalam pemantauan pertumbuhan di masyarakat, sementara bagi para ibu, pemahaman ini memampukan mereka untuk lebih proaktif memantau kondisi anak.

Pendampingan Berkesinambungan

Komitmen Sekolah Vokasi IPB dalam mendampingi masyarakat Mulyaharja tidak berhenti pada satu kegiatan. Dua agenda lanjutan telah disiapkan untuk melengkapi edukasi yang telah diberikan. Kegiatan selanjutnya akan membahas penyusunan menu bergizi dengan perhitungan nilai gizi secara detail, diikuti dengan pelatihan praktis pembuatan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang memanfaatkan bahan pangan lokal.

“Pendampingan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan program ini. Kami tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memastikan masyarakat mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan komprehensif ini, kami yakin prevalensi stunting di Kelurahan Mulyaharja dapat ditekan,” ungkap Dr. Rina Martini menutup kegiatan.

Inisiatif seperti ini membuktikan bahwa IPB memiliki tanggung jawab sosial dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan masyarakat, terutama dalam menyiapkan generasi masa depan yang berkualitas dan terbebas dari masalah gizi kronis seperti stunting. (*)