ISTANBUL — Suasana Hari Raya Iduladha 2025 di Istanbul terasa tenang dan berbeda dibandingkan dengan perayaan di Indonesia. Tidak terdengar lantunan gema takbir di setiap sudut kota, jalanan tampak lengang, toko-toko tutup, dan sebagian besar warga lokal memilih pulang ke kampung halaman di wilayah Anatolia. Kota besar seperti Istanbul justru menjadi sunyi selama masa libur Iduladha.
Bagi mahasiswa Indonesia yang telah lama tinggal di Istanbul, kondisi ini bukan hal baru. Namun, setiap tahunnya, semangat untuk merayakan Iduladha tetap dijaga, meski hanya bersama teman-teman terdekat.
Tahun ini, Iduladha jatuh pada 6 Juni 2025, bertepatan dengan periode ujian akhir semester di banyak universitas. Kesibukan akademik membuat waktu untuk merayakan Lebaran menjadi terbatas. Ada yang masih harus menyelesaikan tugas akhir, ada pula yang tengah mempersiapkan presentasi. Meski begitu, para mahasiswa tetap menyempatkan diri untuk berkumpul dan merayakan hari besar ini bersama.
“Kami sangat bersyukur karena banyak komunitas diaspora Indonesia di Istanbul, termasuk para pekerja dan ibu rumah tangga, yang berbaik hati mengundang mahasiswa untuk ikut makan bersama atau piknik. Ada juga yang membagikan daging kurban agar bisa kami masak sendiri di rumah,” ujar Haritsah Mujahid, mahasiswa asal Indonesia di Istanbul.
Kebersamaan seperti ini terasa sangat bermakna, terlebih bagi mereka yang harus merayakan Lebaran jauh dari keluarga.
Tradisi Iduladha di Turki memiliki kekhasan tersendiri. Jika di Indonesia pemotongan hewan kurban sering dilakukan di masjid dengan pembagian kupon, di Turki proses penyembelihan jauh lebih terorganisir. Pemerintah kota menyediakan lokasi pemotongan resmi yang dilengkapi fasilitas kebersihan dan pengelolaan limbah. Banyak keluarga memesan hewan kurban melalui koperasi atau layanan daring, sehingga prosesnya lebih praktis dan profesional.
Meski begitu, sebagian warga tetap menyembelih hewan kurban sendiri, baik di halaman rumah maupun di lahan kosong, dengan tetap memperhatikan kebersihan dan etika lingkungan.
Setelah pemotongan selesai, daging kurban dibagikan ke tetangga dan kerabat secara langsung. Tradisi kunjungan antar keluarga pun menjadi momen penting yang mempererat silaturahmi di tengah suasana lebaran yang hangat, meskipun sederhana.
Bagi mahasiswa Indonesia di Istanbul, menyaksikan langsung tradisi Iduladha di Turki menjadi pengalaman yang berharga. Selain sebagai pelajaran budaya, momen ini juga memperkaya makna pengorbanan dan kebersamaan dalam perayaan hari besar umat Islam.
“Lebaran di Istanbul memang tidak semeriah di Indonesia, tetapi bukan berarti tidak bermakna. Di tengah kesibukan dan jarak dari keluarga, kami tetap menjaga nilai kebersamaan, saling berbagi, dan tentu saja bersyukur atas hangatnya solidaritas yang tumbuh di tanah rantau,” tutup Haritsah. (Haritsah Mujahid)





