LIPUTANBOGOR.COM – Kepala SPPG La Isola Batu Tulis, Agus Murianto, menegaskan bahwa penyediaan menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak semata-mata dinilai dari ukuran porsi, melainkan dari kualitas, kandungan gizi, serta keamanan bahan pangan yang digunakan.
“Jadi tidak bisa diukur itu hanya dari besar atau kecilnya. Kalau rotinya besar tapi keras dan mengandung bahan pengawet, ya kami tidak mau. Produk kami semuanya fresh. Hari ini dibuat, besok dikirim. Kualitasnya premium semua,” ujar Agus saat ditemui wartawan di Bogor.
Menurutnya, SPPG La Isola Batu Tulis tidak berorientasi pada keuntungan semata, melainkan fokus menyukseskan program pemerintah dalam meningkatkan gizi masyarakat. “Orientasi kami bukan mengejar profit, tapi bagaimana menyukseskan program pemerintah yang baik ini,” tegasnya.
Selama bulan Ramadan, menu yang disajikan didominasi makanan kering sesuai arahan Badan Gizi Nasional (BGN). Agus menjelaskan, makanan matang hanya dapat bertahan maksimal tujuh jam, sehingga demi menjaga kualitas dan keamanan, dipilih menu kering yang tetap bernilai gizi tinggi.
“Ini arahan dari BGN, jadi kami menggunakan makanan kering. Tapi kering yang kami sajikan tetap kualitas premium,” katanya.
Terkait keluhan sebagian orang tua mengenai ukuran menu, Agus menilai hal tersebut kerap dipersepsikan dari sisi kuantitas, bukan kualitas. “Kalau soal gizi itu kan ahlinya ahli gizi. Kadang orang tua melihatnya hanya besar dan kecil. Tapi di kami, sampai hari ini, yang diberikan adalah kualitas terbaik,” jelasnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab, pihaknya membuka diri terhadap kritik dan saran masyarakat. Agus mengaku rutin melakukan pengecekan kebersihan dan kualitas dapur, bahkan hingga di luar jam kerja.
“Kalau ada kritik, kami selalu terima. Saya cek langsung, jam berapa pun saya buka handphone. Saya pastikan kebersihan dan kualitas sebelum tim pulang,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan skema anggaran MBG, di mana untuk siswa SD kelas kecil dialokasikan Rp8.000 per porsi, sedangkan untuk dewasa Rp10.000. Menurutnya, menu kering kerap terlihat kecil, namun memiliki nilai ekonomi dan gizi yang tinggi.
“Snack atau makanan kering itu harganya mahal. Kelihatannya kecil, tapi nilainya besar. Contohnya satu susu bisa Rp6.000. Jadi tantangannya itu pemahaman masyarakat,” ungkap Agus.
Berbeda dengan beberapa SPPG lain yang menerapkan sistem rapel, SPPG La Isola Batu Tulis memastikan distribusi makanan dilakukan setiap hari. “Kalau di kami tidak dirapel. Setiap hari rutin, dan semuanya fresh,” tegasnya.
Dalam penentuan menu, Agus menyebutkan bahwa peran utama berada di tangan ahli gizi. Namun, sebagai mitra, pihaknya tetap melakukan pengawasan dan evaluasi untuk memastikan kualitas tetap terjaga.
“Kami intervensi untuk memastikan bahan-bahan premium digunakan. Contohnya roti, kami pakai standar Holland Bakery, tanpa bahan pengawet. Kurma juga kami pilih yang premium,” katanya.
Saat ini, SPPG La Isola Batu Tulis mengelola tiga dapur, masing-masing melayani sekitar 2.000 penerima manfaat. Total tenaga kerja yang terserap mencapai sekitar 150 orang, dengan setiap dapur mempekerjakan sekitar 50 orang.
“Tujuan kami bukan hanya mencari untung, tapi mencari berkah dan kualitas. Masa anak-anak yang disiapkan untuk Indonesia Emas kita beri makanan yang tidak bergizi,” pungkas Agus.(D2N)





