Beranda News Bogor Raya

YDAI Temukan 53 Kasus Kekerasan di Satuan Pendidikan Kota Bogor

LIPUTANBOGOR.COM – Yayasan Diffable Action Indonesia (YDAI) menggelar Seminar Hasil Pemantauan terkait angka kekerasan di lingkungan pendidikan. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Bima Arya, Perpustakaan Kota Bogor, pada Senin (22/12/2025).

Berdasarkan hasil pemantauan selama lima bulan (Juli–November 2025), YDAI mencatat sebanyak 53 kasus kekerasan terjadi di berbagai jenjang pendidikan di Kota Bogor, mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi.

Sekretaris Jenderal YDAI, Isna, mengungkapkan bahwa kekerasan verbal menjadi jenis pelanggaran yang paling sering ditemukan di lapangan.

1. Jenis Kekerasan:

Verbal: 20 Kasus

Fisik: 13 Kasus

Baca:  Hadapi PLN Proliga 2024, Tim Voli Putri Jakarta Electric PLN Datangkan Bintang Muda Marina Markova

Bullying: 12 Kasus

Psikologis: 3 Kasus

Diskriminasi: 3 Kasus

Seksual: 2 Kasus

2. Waktu Kejadian:

Data menunjukkan bahwa jam istirahat menjadi waktu yang paling rawan terjadinya tindak kekerasan.

Sebelum masuk kelas: 10 kasus

Saat di dalam kelas: 9 kasus

Jam istirahat: 15 kasus

Saat pulang sekolah: 12 kasus

Di perjalanan: 7 kasus

SMP Swasta Jadi Jenjang Paling Rawan

Dilihat dari jenjang pendidikan, SMP Swasta mencatatkan angka tertinggi dengan 12 kasus. Berikut adalah rincian sebarannya:

SMP Swasta: 12 kasus

SD Negeri: 10 kasus

Perguruan Tinggi Negeri (PTN): 7 kasus

Baca:  Polsek Cibinong Gelar Operasi Zebra Dengan Berikan Edukasi Secara Humanis

SMP Negeri, SMA (Negeri/Swasta), SMK: Masing-masing 5 kasus

Perguruan Tinggi Swasta (PTS): 4 kasus

Penyebab dan Analisis

Isnurul menjelaskan bahwa kekerasan ini sering kali dipicu oleh kebiasaan buruk siswa di lingkungan rumah yang terbawa ke sekolah. Selain itu, ia menyoroti dampak sampingan dari sistem zonasi.

“Sistem zonasi sebenarnya bagus untuk pembauran, namun hal ini juga menciptakan heterogenitas latar belakang sikap dan lingkungan yang sangat kontras, sehingga memicu gesekan jika tidak dikelola dengan baik,” ujar Isnurul, Senin (22/12).

Guna menekan angka kekerasan di sekolah, YDAI mendesak pemangku kepentingan untuk menerapkan delapan langkah strategis:

Baca:  Prosesi Khidmat Penaikan Bendera di Tugu Kujang Dihadiri Sekda dan Tokoh Masyarakat

Penguatan Kapasitas: Pelatihan rutin bagi guru, tenaga kependidikan, dan siswa.

Optimalisasi TPPK: Menguatkan peran Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan.

Pelibatan Akar Rumput: Menggandeng PKK dan Posyandu dalam pengawasan.

Sistem Pelaporan Aman: Menyediakan kanal aduan yang menjamin kerahasiaan korban.

Kampanye Publik: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya kekerasan.

Monitoring Berkala: Evaluasi rutin terhadap kondisi keamanan di sekolah.

Pengawasan Jam Istirahat: Memperketat penjagaan di titik rawan saat jam bebas.

Pendampingan Digital: Edukasi dan pengawasan aktivitas siswa di dunia maya.(Heri)