Beranda Opini

Euforia Ramadhan ; Antara Kesederhanaan dan Konsumerisme

kesenjangan china

Oleh : Ahmad Wildan (Staf Pengajar Pondok Pesantren Al-quran Wal-Hadits Bogor)

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, amal perbuatan apapun akan sangat bernilai makna nya bagi kehidupan umat dan masyarakat. Karena limpahan fadhilah dan pahala Allah janjikan bagi amal kebajikan apapun yang dilakukan oleh umat-Nya selama bulan yang mulia ini. Selama itu mengharap ridho dan keberkahan dari-Nya. Setiap orang berlomba-lomba meraup segala keberkahan dalam setiap bidang kehidupan yang sekiranya bisa dimaksimalkan, tak ketinggalan termasuk bidang ekonomi.

Tentu akan menjadi nilai yang sangat berarti jika keberkahan ekonomi yang dimaksud adalah sikap dan prilaku yang menghantarkan umat pada pengorbanan dan kedermawanan. Dengan berbagai amal sunduqiyah dan maliyah seperti zakat, infaq, shodaqah, hibah dsbnya. Namun sepertinya perlu kita membahas hal tersebut sedikit lebih jauh dengan melihat realita kehidupan masyarakat sehari-hari di bulan Suci Ramadhan ini. Di satu sisi, euforia dan fenomena berbagi tentu sangat gencar tersaji di hadapan mata kita. Masyarakat dari berbagai kalangan berlomba-lomba mengais berkahnya bulan suci dengan berbagai agenda berbagi seperti santunan anak yatim dhuafa, buka bersama, aksi sebar takjil dan makanan sahur, hingga gerakan donasi santunan dalam skala yang lebih besar seperti maraknya outlet-outlet zakat di berbagai pusat perbelanjaan. Tentu semua fenomena ini dapat memberikan kita ghirah dan motivasi kedermawanan yang sangat luar biasa bagi nilai-nilai kemanusiaan yang mungkin di luar bulan Ramadhan banyak terlalaikan oleh sikap hedonism kita yang cenderung lupa untuk berbagi kepada orang lain.

Baca:  Kembali ke Tujuan Pendidikan

Namun di sisi yang lain, ada satu hal yang perlu untuk kita hayati bersama bahwa seiring dengan semangat berbagi yang semakin tinggi diantara masyarakat. Di bulan suci Ramadhan ini juga kita merasakan adanya peningkatan yang signifikan  dalam hal daya beli dan nilai konsumerisme masyarakat. Betapa tidak, bulan yang seharusnya kita belajar untuk sederhana, menahan syahwat kita terhadap berbagai kebutuhan hidup yang berlebihan dalam upaya memupuk rasa empati kita pada saudara-saudara kita yang keseharian hidupnya penuh dengan kemelaratan dan keterbatasan bahkan dalam urusan perut sekalipun. Kita justru temukan kebanyakan dari kita justru sibuk memikirkan level kebutuhan kita dalam menjalani ibadah puasa ini. Pola kebutuhan sandang dan makan kita justru meningkat drastis dibandingkan bulan-bulan di luar Ramadhan. Masih banyak dari kita yang lebih sibuk dan merepotkan diri pada menu-menu makanan berbuka maupun sahur. Bahkan banyak yang rela menghamburkan uang yang tidak sedikit hanya untuk sekali makan di berbagai restoran mewah dan kafe-kafe favorit dan bergengsi. Padahal di saat yang sama masih banyak orang yang sahur ataupun berbuka hanya dengan mie instan ataupun gorengan dan air putih saja. Inilah fakta yang sangat perlu kita telaah dan kita renungkan. Bahwa keberkahan bulan suci Ramadhan dalam bidang ekonomi bukan dimaknai dengan mengalir dan berputarnya harta kita pada supermarket, mall-mall , dan berbagai restoran dan rumah makan yang sudah kadung jadi konglomerat di luar bulan Ramadhan sekalipun. Namun makna keberkahan bulan ramadhan yang Hakiki dalam bidang ekonomi ialah perubahan pola kebutuhan sandang dan makan kita yang menjadi lebih sederhana. Karena kita sibuk mengalirkan harta kita berputar di tempat-tempat kumuh masyarakat, di kolong-kolong jembatan, di panti asuhan, pondok-pondok pesantren yang tentunya akan jauh lebih bermakna dan berarti bagi nilai-nilai kemanusiaan kita dalam hidup ini.

Baca:  Dapur Pencetak Sukses Alumni Teknik UIKA

Semoga kita termasuk orang-orang yang lebih memilih sibuk dengan amalan-amalan Ramadhan baik maliyah, ruhiyah dan jasadiyah yang sudah jelas perintahnya dari Allah ta’ala. Dan kita berlindung pada Allah agar dijauhkan dari golongan orang-orang yang di bulan kemuliaan ini lebih sibuk pada menu-menu makanan, pilah-pilih pakaian, hingga diskon-diskon belanjaan di berbagai pusat perbelanjaan. Naudzu billahi min dzalik.