LIPUTANBOGOR.COM – Pembangunan Rumah Layak Huni (Rulahu) dalam pemetaan CPCL dinilai tidak efektif dalam pelaksanaannya, hal itu disampaikan Kades Mulyajaya Kecamatan Kutawaluya Kabupaten Karawang, Selasa (22/11/22).
Bahkan Kades pun menyebut, kacaunya pemetaan Rulahu terjadi karena ulah oknum, yang memegang domain Rulahu tersebut tidak bekerja secara profesional.
Padahal persyaratan dan sasaran serta kriteria haruslah menjadi acuan penerima bantuan Rulahu, kenyataannya bisa dikatakan terbalik, tanpa adanya kajian bahaya yang akan dihadapinya.
“Secara pribadi, saya sebagai Kepala Desa berterimakasih dan mengapresiasi akan program Rulahu ini, dimana dalam program itu warga kami Mulyajaya menjadi penerima bantuan Rulahu itu,” kata Endang ‘Macan Kumbang’, Kades Mulyajaya Kecamatan Kutawaluya Kabupaten Karawang, Selasa (22/11/22).
“Tapi kenyataannya yang mendapat justru yang dinilai tidak tepat sasaran, juga persyaratan untuk mendapat bantuan itu,” tambahnya.
Seperti diketahui, bahwa Perbup no 38 tahun 2011 membahas tentang aturan Rumah Tidak Layak Huni, dan dalam Perbub itu juga mengatakan bantuan diberikan berbentuk uang yang diseleksi kepada keluarga miskin.
“Dalam Perbub kan jelas adanya seleksi untuk mendapatkan bantuan itu, tapi kenyataannya malah adanya kepentingan, seperti kedekatan ataupun kepentingan golongan,” ucap Endang.
“Perbub seperti dilemahkan oleh oknum yang memegang domain Rulahu itu, hanya mereka yang memiliki peran akan bantuan Rulahu dan untuk kepentingan mereka yang mendapatkan,” ungkapnya.
“Bisa dibilang bantuan Rulahu ini bertentangan dengan aturan dan ketentuan, tanpa usulan mereka bisa mendapatkan bantuan itu,” terangnya.
Secara aturan, penerima bantuan yang terhimpun dalam kelompok pembangunan rumah tidak layak huni, harus mengajukan usulan penggunaan bantuan, yang diketahui Camat dan Kepala Desa/Lurah.
“Tapi ketika kegiatan rulahu dilaksanakan di wilayah desa saya, Perbup yang memiliki kekuatan hukum tetap tentang Bantuan Sosial pembangunan rumah tidak layak huni, sama sekali tidak dipatuhi serta indahkan, terkesan mati suri,” pungkasnya.(*)





