Beranda News Nasional

KPAI Jasra Putra: Rokok Per Batang Murah, Prevalensi Perokok Anak Sulit Ditekan

Jasra Putra
Komisioner KPAI, Jasra Putra . (Foto: Istimewa)

LIPUTANBOGOR.COM, JAKARTA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai upaya pemerintah dalam hal pengawasan peredaran rokok di pasaran perlu dilakukan secara berkelanjutan demi melindungi masyarakat terutama anak-anak dari bahaya rokok.

Penyebabnya, Komisioner KPAI, Jasra Putra menegaskan, saat ini keberadaan rokok murah menjadi salah satu kendala pemerintah mengendalikan konsumsi rokok, terutama oleh anak-anak yang sensitif terhadap harga rokok yang murah.

Lebih lanjut, Jasra Putra mengatakan, saat harga rokok naik orang akan berpindah ke rokok yang lebih murah. Harga rokok saat ini masih terbentang mulai dari Rp500 hingga Rp2.000 per batang.

Baca:  Ciuman Arkana Pada Foto Eril Simbol Kesedihan Bagi Seorang Bayi

Jasra menilai perlunya mendukung pengawasan harga transaksi pasar rokok yang dilakukan oleh pemerintah.

Ini memang perlu upaya serius,” jelas Kepala Divisi Pengawas, Monitoring, dan Evaluasi KPAI tersebut.

Sesuai regulasi, dia melanjutkan berdasarkan tugas pokok dan fungsinya pengawasan harga rokok di pasaran merupakan kewenangan Kementerian Keuangan melalui Badan Kebijakan Fiskal dan Ditjen Bea Cukai.

“KPAI juga turut memantau dan mengawasi harga rokok untuk melindungi kepentingan terbaik anak dari zat adiktif,” ujarnya.

Jasra mengatakan, penegakan kebijakan dan pengawasan merupakan bagian penting untuk diimplementasikan, apalagi berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angka perokok anak di Indonesia masih cukup tinggi, bahkan mengalami kenaikan dari 7,2 persen per 2013 menjadi 9,1 persen per 2018.

Baca:  Kantor Pestigo Diresmikan, Bima Arya Sampaikan Waktu Tepat Berbisnis di Kota Bogor

Senada, Project lead Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) Iman Mahaputra Zein mengatakan bahwa keterjangkauan rokok terhadap kelompok rentan yakni anak dan keluarga miskin sangat dekat sehingga tidak heran jika prevalensi perokok anak tetap tinggi.

“Selain itu karena banyaknya menu dan pilihan harga rokok. Masyarakat yang tadinya kita harapkan berhenti malah mengganti rokoknya ke merek yang lebih murah,” imbuhnya.

Dia mengatakan kondisi ini terjadi karena banyaknya variasi harga rokok di pasaran akibat kebijakan cukai yang berlaku saat ini.

Baca:  Disdik Kota Bogor dan KPAI Luncurkan Serbuaktif

 

(Andi)