Beranda Opini

Mahasiswa Harus Tahu Sejarah Kampus Perjuangan UIKA

Oleh : M. Ihsan Ar-rofie (Mahasiswa Ekonomi Syariah)

Jasmerah “ jangan sekali kali melupakan sejarah”, itulah pesan Sukarno untuk generasi penerus bangsa ini. Karena sejarah adalah bagian penting dalam keberlanjutan estafet perjuangan para pahlawan demi mewujudkan cita cita kemerdekaan bangsa ini. Dengan sejarah kita bisa memahami tujuan dan hakikat perjuangan para pendahulu kita secara mendasar. Apa yang mereka perjuangkan dan bagaimana cara mereka berjuang. Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya dalam sejarah itu terdapat pesan-pesan yang penuh pelajaran, bagi orang-orang yang memahaminya” (Q.S:Yusuf:111). Pesan dan pelajaran itulah yang perlu kita tangkap dan pahami untuk diri kita

Oleh karena itu, penting bagi kita selaku generasi penerus dan pewaris perjuangan para pahlawan untuk meneguhkan spirit perjuangan mereka dalam diri kita. Agar kita bisa menjadi generasi penerus perjuangan mereka yang sejalan dan searah dengan narasi perjuangan mereka. Sehingga apa yang mereka belum capai dan peroleh di masa lalu dapat kita wujudkan dan realisasikan di masa sekarang dan yang akan datang.

Sudah puluhan tahun UIKA berdiri, banyak sekali sejarah dan berkas yang ditorehkan UIKA. Banyak cendekiawan dan pemikir islam hingga tokoh-tokoh nasional lahir dari kampus yang hadir dengan penuh romantika perjuangan ini. UIKA didirikan oleh tokoh dan juga ulama masyarakat Bogor, diantaranya : Cr.Marzuki Mahdi, KH.Sholeh Iskandar, RSA. Karta Djumena, Ir.Prijono Harjosentono, Djunus Dali, Ir.Imam Rhardjo, RSA Sawigyo, H.M.Djunaedi. Pada tanggal 23 April 1961 UIKA Bogor resmi didirikan dengan KH.Marzuki Mahdi yang juga ketua MASYUMI sekaligus ketua DPRD kota Bogor sebagai Ketua Yayasan dan Abdullah Siddik yang juga pernah menjadi duta besar RI untuk Bangkok sebagai Rektor UIKA pertama. Pada era orde lama UIKA mengahadpi banyak sekali benturan yang mengancam keberadaanya, namun karena kegigihan dan semangat juang para pendirilah yang membuat UIKA terus bertahan dengan identitas ke-Islamannya. Sempat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, hingga akhirnya mendapatkan tempat permanen hingga saat ini. Semua berkat keberkahan dan semangat dakwah serta perjuangan para petinggi UIKA saat itu demi tegaknya islam melalui perjuangan dakwah mereka di jalur pendidikan.

Baca:  Peduli Gizi Masyarakat, Mahasiswa KKN UIKA Adakan Penyuluhan Stunting di Desa Cigudeg

Semangat perjuangan para pendiri UIKA tidak hanya terfokuskan pada ruang lingkup dakwah islam saja, namun juga pada pengorbanan bagi bangsa dan negara. Hal itu jelas terlihat ketik terjadi pemberontakan G30SPKI para tahun 1965, civitas akademika UIKA berjuang bersama KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indoensia), KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia), dan KASI( Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia) untuk menentang rezim orde lama kala itu. Beralih ke orde baru, ternyata benturan terhadap UIKA belum berakhir. Pada tahun 1978 Ketua yayasan yang pada waktu itu dijabat oleh K.H Sholeh Iskandar ditahan oleh pemerintah tanpa prosedur hukum yang jelas. Tidak hanya beliau namun juga para aktivis, mahasiswa, pegawai dan juga guru pondok pesantren darul alah turut ditahan karena dianggap tidak sejalan dengan pemerintah. Berbagai dinamika dalam perjuangan dan mempertahankan kampus islam inilah yang kemudian membuat K.H Sholeh Iskandar mengatakan bahwa UIKA adalah kampus perjuangan. Perjuangan yang dilakukan para pendiri UIKA sehingga UIKA masih bisa bertahan hingga saat ini dan menjadi tempat kita menuntut ilmu.

Baca:  Sebar Dakwah Ala Cakrawala Millenials dengan Gelar Bakti Sosial

Memasuki era kepemimpinan A.M Saefuddin, 1983-1985 UIKA semakin memantapkan posisinya sebagai kampus islam dengan tampil sebagai pelopor lahirnya kurikulum Islamisasi Sains Kampus yang dilandasi oleh Iman Ilmu dan Amal. ISK itu kemudian mendapat sambutan yang luar biasa dari mahasiswa di berbagai kampus di pulau Jawa hingga ke Makassar. Sementara itu di tingkat internal UIKA mendirikan pondok pesantren mahasiswa Ulil albab yang didasari oleh tesis M Natsir, yang menyatakan bahwa kekuatan umat itu terbentuk pada tiga aspek yakni Masjid, Pesantren dan Kampus. Dari ponpes Ulil Albab inilah kemudian menjadi inspirasi lahirnya pondok-pondok pesantren mahasiswa di berbagai kampus di tanah air.

Dalam perkembangannya ISK kemudian diperkenalkan pada tingkat nasional dengan terbentuknya poros kampus islam Jakarta, Bogor, dan Bandung. Jakarta diwakili oleh Universitas Islam As-syafi’iyah (UIA), dan Bogor diwakili oleh Universitas Ibn Khaldun (UIKA), serta Bandung diwakili oleh Universitas Islam Bandung (UNISBA).

Kontribusi besar para pendiri UIKA dalam perjuangan dakwah dan pemberdayaan umat melalui lembaga pendidikan adalah pesan dan narasi yang harus disadari oleh semua civitas akademi UIKA saat ini. Sehingga estafet perjuangan KH Sholeh Iskandar dkk dapat terus dilanjutkan dan diperjuangkan, demi dedikasi dan kontribusi UIKA di usianya yang sudah semakin tua ini bagi agama, bangsa, dan negara. Namun, jika pesan dan narasi ini tidak ditangkap dan dipahami oleh generasi Ibn khaldun saat ini, maka bukan tidak mungkin  kampus yang didirikan dengan penuh romantika perjuangan ini mulai tak sejalan dengan narasi perjuangan para pendiri kampus perjuangan ini. Pelajaran penting yang patut kita ambil dari para  pendahulu kita adalah keikhlasan dalam berjuang dan jauh dari keterikatan dengan materi. Semoga kita menjadi golongan orang orang Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran dari perjuangan ulama kita di masa lampau. Sebagai bentuk penghargaan kita terhadap perjuangan dan pengorbanan mereka untuk UIKA hingga bisa rasakan manfaatnya saat ini. Harapan dari mereka kepada kita tak lain adalah tetap teguh mempertahankan karakter dan identitas islam kampus perjuangan ini. Dengan tetap pada landasan Iman, Ilmu, dan Amal dalam setiap kebijakan dan aktivitas seluruh civitas akademi universitas Ibn Khaldun. Semoga cita-cita Islamisasi Sains dan kampus yang telah digariskan, dapat kita lanjutkan dan perjuangkan hingga jadilah UIKA sebagai kampus yang betul-betul menerapkan Islamisasi Sains Kampus secara utuh dalam setiap lini kehidupan kampus seperti apa yang para pendahulu kita harapkan.