Beranda News Bogor Raya

Peduli Gizi Masyarakat, Mahasiswa KKN UIKA Adakan Penyuluhan Stunting di Desa Cigudeg

Liputanbogor.com – Indonesia merupakan negara yang jumlah penduduknya banyak mengalami stunting. Berdasar data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes), menunjukkan prevalensi stunting sebanyak 30,8%. Sebelumnya, World Health Organization (WHO), sebagai Badan Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) yang menyangkut kesehatan umum internasional telah menyatakan ambang batas prevelansi stunting dari angka 20 sampai kurang 30 persen terkategori tinggi. Masalah stunting ini menjadi suatu hal yang serius bagi sejumlah pihak. Salah satunya sekelompok mahasiswa Universitas Ibn Khaldun yang sedang melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kampung Cicere, Desa Cigudeg, Kabupaten Bogor. Mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok KKN 61-62 tersebut mengadakan Penyuluhan Stunting dengan tema yang diusung “Stunting Dengan Perbaikan Gizi” pada Rabu (28/8).

Penanggung Jawab Acara yang sekaligus menjabat Wakil Ketua Kelompok KKN 61-62, Aliyah Kusumawardani, mengatakan, alasan pihaknya mengadakan penyuluhan stunting karena mengetahui di Kecamatan Cigudeg terdapat penduduk yang mengalami stunting. Dia menambahkan, penyuluhan tersebut merupakan inisiatif kelompoknya yang memang disarankan pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor.
Aliyah yang merupakan mahasiswa semester tujuh Fakultas Ilmu Kesehatan, menuturkan, pihaknya juga berkonsultasi dengan Puskesmas Cigudeg untuk bisa bekerja sama dalam pelaksanaan penyuluhan. “Alhamdulillah pihak puskesmas setuju mengenai hal itu dan kebetulan pihak Puskesmas juga mempunyai program terkait stunting,” kata Aliyah melalui pesan tertulis, Kamis (29/8).

Baca:  Dishub Kota Bogor dan Organda Bahas Usia Operasional Angkot

Petugas Puskesmas Cigudeg yang juga sebagai pemateri di kegiatan peyuluhan stunting, Widya Dwi Lestari, menjelaskan, stunting merupakan suatu gangguan pertumbuhan kronis pada anak yang diakibatkan kurangnya asupan nutrisi dalam jangka waktu yang lama. Menurutnya, stunting bisa diketahui sejak masa anak- anak yang terlihat dari bentuk tubuh yang tergolong lebih pendek dibanding anak seusianya.
Perempuan yang dipanggil Widy itu menyampaikan, permasalahan stunting perlu diantisipasi sejak dini karena jika tidak maka akan berdampak pada pertumbuhan secara fisik maupun kecerdasan anak. Jika dibiarkan hal itu dapat berkepanjangan hingga dewasa dan tidak dapat tumbuh secara optimal,” ucap Widy yang juga lulusan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr Hamka Jakarta.

Baca:  Mahasiswa KKN UIKA Datangkan Penyediaan Air Bersih

Dalam pelaksanaan, Widy memberikan penyuluhan stunting kepada warga dengan berbagai materi seperti penyebab stunting, ciri- ciri stunting, dampak stunting dan cara mengatasi stunting. Dalam penjelasannya dia menyampaikan, ciri- ciri stunting itu tidak hanya terlihat dari ukuran tinggi badan, melainkan wajahnya juga tampak lebih muda dibanding yang seusianya, serta mengalami kesulitan berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Widy pun memaparkan pencegahan stunting pada anak sejak dini. Pertama, untuk ibu hamil perlu dibiasakan meminum tablet tambah darah minimal 90 tablet selama masa kehamilan. Kedua, ibu hamil memakan makanan tambahan yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi ibu dan janin. Ketiga, pemenuhan asupan zat gizi pada ibu hamil. Keempat, persalinan seharusnya dilakukan oleh tenaga medis untuk mengantisipasi resiko yang tidak diinginkan. Kelima, melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Keenam, memberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan. Ketujuh, memberikan makanan pendamping ASI ketika bayi berusia 6 bulan. Kedelapan, memberikan imunisasi lengkap. Kesembilan, melakukan pemantauan pertumbuhan anak di posyandu. Kesepuluh, membiasakan perilaku bersih dan sehat seperti mencuci tangan dengan sabun, membersihkan bahan makanan dan alat yang digunakan untuk memasak.

Baca:  Kopi Warna Bumi, Sensasi Santai Seruput "Fajar dan Senja"

Kegiatan tersebut menuai tanggapan yang baik dari warga. Menurut Cucum, selaku Ketua RW 20 Kampung Cicere, Desa Cigudeg, setelah adanya penyuluhan tersebut, warga terlihat banyak yang membeli sayuran untuk diolah menjadi makanan sehari- hari.
Cucum juga menyampaikan harapannya, agar pihak Puskesmas terus berkelanjutan memberikan penyuluhan kepada warga. “Masyarakat perlu terus diperingati lagi tidak hanya sekali,” ungkapnya. Cucum mengaku, kalau kegiatan penyuluhan stunting baru dilakukan sekali pada saat itu saja, sebelumnya hanya ada kegiatan dari Posyandu desa setempat.

Aliyah menerangkan kegiatan penyuluhan ini cukup mengundang antusiasme masyarakat sekitar. Menurutnya, masyarakat senang karena penyuluhan tersebut menambah pengetahuan masyarakat terhadap stunting. Dia pun berharap, semoga pihak terkait seperti puskesmas, dinas kesehatan, dan stockholders setempat bisa membuat atau merutinkan program pencegahan stunting. Sehingga masyarakat dapat memahami dan mempraktekan pengetahuan yang didapat.
(Sendi Romadhon Simorangkir)