Beranda Opini

Merger Bank Syariah BUMN, What’s The Impact?

sumber foto : hukumonline.com

Oleh : Sovia Agustina

Rencana kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Tohir akan melakukan merger (penggabungan) bank syariah BUMN pada bulan Februari 2021. Ide untuk merger bank syariah
ini sebenarnya sudah ada sejak lama yang kemudian muncul kembali pada masa kementrian BUMN saat ini.

Sebelumnya rencana ini pernah dibahas pada era pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang saat itu menteri BUMN nya adalah Dahlan Iskan,  sehingga rencana merger bank syariah ini bukanlah rencana baru. adapun bank-bank syariah yang akan dimerger adalah PT Bank Syariah Mandiri (BSM), PT Bank Negara Indonesia Syariah dan PT Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRIS).

Merger bank syariah ini diharapkan untuk menguatkan struktur permodalan dan pelaksanaan efektifitas dan efisiensi dalam pengelolaan perbankan syariah dimasa yang akan datang. Menurut data terakhir yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per April 2020 market share bank syariah berada di angka 6,02 persen atau dengan aset senilai Rp 521,23 triliun. Jika terjadi penggabungan dimana pada Q1 Bank Syariah Mandiri  memiliki aset sebesar Rp. 114 T dengan total ekuitas sebesar  Rp.9,61 T, BNI Syariah memiliki aset sebesar Rp. 51 T dengan total ekuitas sebesar Rp. 5,18 T, dan BRI Syariah sebesar Rp. 42 T dengan total ekuitas sebesar Rp. 5,16 T. Sehingga total Aset gabungan menjadi Rp. 207 T dan total ekuitas sebesar Rp. 19,95 T.

Baca:  Negosiasi Syariah

Sehingga dari penggabungan Bank Syariah tersebut akan masuk pada Bank Buku 3 yakni bank-bank umum dengan kepemilikan modal inti antara Rp 5 triliun hingga kurang dari Rp 30 triliun. Sedangkan pangsa pasar keuangan syariah terhadap sistem keuangan di Indonesia per April 2020 mencapai 9,03 persen. Jumlah tersebut naik dari posisi 2019 sebesar 8 persen. Pemerintah pun menargetkan pangsa pasar keuangan syariah mencapai 20 persen pada rentang waktu 2023-2024.

Dari sisi perbankan, aset bank syariah masih tergolong rendah, yakni sebesar 6,07 persen per April 2020 yang berasal dari 20 unit usaha syariah, 14 bank umum syariah, dan 163 BPR Syariah. Per April 2020, total aset perbankan syariah mencapai Rp 534,86 triliun.

Baca:  Hedonisme dalam Perspektif Islam

Dilihat dari data diatas, sudut pandang lain dari merger bank syariah ini dinilai hanya akan menggabungkan asset tetapi tidak meningkatkan nilai industri. Dikutip dari Republika.co.id, peneliti Ekonomi Syariah SEBI School of Islamic Economics, Azis Budi Setiawan menyampaikan “Pangsa pasar bank syariah masih akan bertahan dibawah tujuh persen dan hal ini akan berdampak pada ekosistem yang masih tidak menguntungkan untuk akselerasi industri perbankan, keuangan dan ekonomi syariah secara luas.”

Oleh karena itu, rencana merger ini perlu dikaji dengan baik dan tidak perlu tergesa-gesa karena hal ini tidak mudah. Adapun dampak dari merger bank syariah ini adalah adanya perombakan IT yang digunakan masing-masing bank syariah dan hal ini akan memakan waktu, selain itu perlu adanya penyatuan mindset diantara bank syariah BUMN sehingga tidak lagi membawa ego dari bank-bank sebelumnya, belum lagi efisiensi karyawan karena
perusahaannya digabung.