Beranda Opini

Moltazam : Mahasiswa bagaikan Manusia Setengah Dewa

Mencari ilmu adalah sebuah kewajiban bagi setiap orang Islam baik dimulai sejakkanak- kanak, dewasa maupun sudah tua. Para pencari ilmu harus lahap terhadap ilmu itu sendiri dan wajib tidak bosan untuk menimba ilmu, sekalipun sangat jauh sekali.

Sesuai dengan Hadist masyhur, Rosulullah SAW bersabda “Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri China”. Terkadang para kaum terdidik milenial sampai-sampai mempunyai slogan “tuntutlah cinta sampai ke negeri China” saking populernya hadist ini.

Proses belajar mengajar baik formal maupun informal ini dinamakan ‘pendidikan’. Di negeri tercinta ini kita berhak memperoleh pendidikan meliputi hak-hak asasi bidang: hukum, politik, ekonomi dan sosial budaya. Hal ini termaktub dalam Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi “ Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Demi terselenggaranya kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan juga bertanggung jawab atas masyarakat adil makmur yang di Ridhoi Allah SWT.

Melalui pendidikan dasar yang wajib di tempuh hingga perguruan tinggi yang di ampu. Di sinilah mahasiswa di gembleng, diikat dengan kewajiban- kewajibannya. Biasanya, orang-orang menyebutnya dengan “manusia setengah dewa”. Kalau ada slogan “Vox Populi, Vox Dei” suara rakyat, suara tuhan mungkin tak cukup tanpa adanya ‘manusia setengah dewa’. Namun, ini hanyalah istilah. Jangan sampai merongrong keteguhan aqidah dan keimanan.

Semua kekuasaan yang di pegang manusia hanya sekedar, ada batasnya. Segala puji Allah Tuhan Raja atas segala Raja. Maha Suci Allah dan dengan mengucapkan puji-pujian pada-Nya. sebanyak hitungan makhluk-Nya, sesuai dengan keridhoan Zat-Nya, seberat timbangan ‘arasy-Nya dan sepanjang beberapa kalimah-Nya.

Baca:  Sexy Killers & Demokrasi Tak Bermutu Kita

Mahasiswa dengan ciri-ciri yang khas: rasional (masuk akal), analisis (menganalisa), kritis (kritik), universal (luas), sitematis (tersusun), inovatif (berkarya), ulet, dan motivatif. Betapa tidak menerimanya akal jika maha-nya para siswa jauh dari ciri tersebut, meskipun itu hanya sekelumit dari sekian banyak ciri-ciri mahasiswa.

Menurut para ahli : mahasiswa adalah ‘orang yang belajar di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, dan memiliki hak dan kewajiban untuk mengikuti semester berjalan dengan dapat dibuktikan secara administratif. Selain batasan-batasan itu mahasiswa mempunyai peran sangat penting yakni: peran moral, peran sosial, dan peran intelektual. Ataupun yang biasanya di gadangkan; fungsi mahasiswa sebagai agent of social control (pengontrol dalam) masyarakat dan agent of change (agen perubahan). Begitu beratnya menyandang gelar ‘Mahasiswa’.

Sebagai Mahasiswa, apalagi Mahasiswa Baru atau akrabnya Maba, bukan sekedar status gaya-gaya-an ke sana-kemari atau bahkan pelengkap profil di media sosial.

Mengutip perkataan Pidi Baiq “Dulu, nama besar kampus disebabkan oleh karena kehebatan mahasiswanya. Sekarang, mahasiswa ingin hebat karena nama besar kampusnya”. Realita-nya, selain ingin besar dengan nama kampus. Mahasiswa sekarang lebih mudah akses, terfalitasi, prasana, sarana, transportasi. Dengan adanya itu semua ‘Mahasiswa Setengah Dewa’ kehilangan arah. Bukan menambah mudahnya berpendidikan malah sebaliknya terpeleset ke jurang romantisme apatisme. Acuh tak acuh membuang gelar Setengah Dewa-nya dengan hedonis dan oportunis masing-masing maupun kelompok masing-masing. Jadilah sifat pragmatis terbang kemana-mana.

Baca:  Khalifah Tuhan

Bagi lembaga pendidikan: Perguruan Tinggi harus menjalankan kewajiban-kewajibannya sesuai aturan legal yang mengikat, tidak hanya menuntut segi administratifnya saja. Walaupun memang hal itu kewajiban bagi mahasiswa tapi perlu diingat itu bukan syarat pertama dan paling utama dalam dunia pendidikan. Tak heran jika terkadang sebagian kampus dijadikan ladang bisnis untuk memenuhi hasrat dan nafsu para petinggi-petingginya. Sedemikan, kampus tidak sanggup memenuhi kebutuhan mahasiswa.

Demi menjunjung tinggi dan dinilai sebagai pendukung tridharma perguruan tinggi muncul kelompok-kelompok yang membangun gerakan-gerakan intelektual atau organisasi kemahasiswaan baik intra kampus maupun ekstra. Ada patutnya kampus berterima kasih atas kemunculan berbagai organisasi dan pergerakan mahasiswa. Dengan kehadiran mereka, negara dan kampus menjadi dinamis.

Berbicara tentang organisasi intra dan ekstra, sebagian mahasiswa bingung, kelompok yang berada di naungan organ intra dan ekstra. Terlebih mahasiswa baru. Untuk itu, yang di maksud organisasi intra kampus ialah organisasi dengan memiliki tujuan tertentu, serta memiliki keterkaitan langsung dengan kampus (Muniruddin, Said: 2014).

Baca:  Agar Kita Tidak Merugi di Bulan Ramadhan

Dalam bukunya “Bintang Arsy” Said Muniruddin menjelaskan “Sementara itu, organisasi kemahasiswaan ekstra kampus umumnya terkait dengan tujuan-tujuan ideologis, serta memiliki jaringan dan struktur secara nasional. Mereka ini tidak berafiliasi dengan manajemen kampus. Namun memiliki anggota, wilayah kerja, dan pengaruh yang besar dalam dinamika kampus”.

Dengan bermacam motif organisasi internal kampus yaitu: Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), ruang lingkup fakultas maupun universitas. Ada juga, Himpunan Jurusan (HIMA). Pun ada pengembangan bakat minat yang terdiri unit-unit kegiatan mahasiswa atau UKM.

Terkait dengan organisasi eksternal di antaranya: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Mahasiswa Pancasila (MAPANCAS), Gema Pembebasan dan lain sebagainya.

Dengan banyaknya organisasi yang lahir dari rahim Revolusi ataupun anak kandung Reformasi perbedaan usia sangatlah jelas. Tercatat Himpunan Mahasiswa Islam merupakan organisasi Senior dari pada organisasi lain, namun tak mengurangi semangat juang dan tali persaudaraan demi satu tujuan ber-kaca mata Pancasila.

Dengan demikian peran Mahasiswa sebagai penyandang gelar ‘manusia setengah dewa’ terealisasikan. Di sini mereka menemukan jati diri dan kesadaran sosialnya agent of change. Dengan catatan tetap memprioritaskan kewajiban akademis yang di tempuhnya.