Beranda Sastra & Budaya

MULAK, Perjalanan Kembali Rotua Magdalena Pardede Melukis Jejak Rindu Batak

Lukisan dan buku ‘MULAK: Rotua Magdalena Pardede di Titik Rindu’
Lukisan dan buku ‘MULAK: Rotua Magdalena Pardede di Titik Rindu’

Bogor – Setelah tiga dekade berkarya di dunia seni rupa, perupa Rotua Magdalena Pardede kembali menyapa publik melalui pameran tunggal bertajuk “MULAK”, yang berarti pulang atau kembali dalam bahasa Batak. Pameran Tunggal ke-10 sepanjang kariernya ini digelar di Saung Grajen, Cibinong, Kabupaten Bogor, mulai 4 hingga 14 Oktober 2025.

Pameran tunggal “MULAK” menjadi momentum penting bagi Magda – sapaan akrabnya – untuk kembali menelusuri akar budaya Batak yang telah lama menjadi sumber inspirasi dalam perjalanan artistiknya. “Berkat terbesar selama puluhan tahun berkarya adalah saya selalu merasakan hadirnya orang tua dan para leluhur Batak mendampingi saya dengan doa terbaik mereka. Dari perenungan itu, lahirlah karya-karya dalam pameran MULAK ini,” ungkap Magda.

Menurutnya, pameran ini merupakan awal dari rangkaian proyek seni bertema kebinekaan Nusantara yang akan digelar selanjutnya. Dalam “MULAK”, Magda menampilkan 26 karya lukis dan instalasi, yang mengangkat simbol-simbol budaya Batak, seperti perempuan menjunjung tandok – wadah anyaman pandan berisi beras – sebagai lambang ketangguhan perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Hadir Tokoh Budaya dan Seniman Nasional

Acara pembukaan pameran pada Sabtu (4/10) berlangsung meriah. Sejumlah tokoh hadir, di antaranya Drajat Muhtiar, SE dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor, Dumoly F. Pardede, Ruhut P. Sitompul, Iskandar Sitompul, Elizabeth M. Taylor (perupa dan pemilik The Coastal Branch, New Zealand), Ika W. Burhan (Bentara Budaya), serta para seniman, budayawan, media, keluarga, dan sahabat Magda.

Baca:  Dulu Vs Kini

Kurator pameran Iskandar Surya Putra, yang juga pendiri Saung Grajen, mengungkapkan bahwa proses pameran ini lebih dari sekadar kurasi karya. “Kami berdiskusi panjang mengenai konsep, produksi, hingga penataan ruang agar pesan dan perasaan Magda tentang kerinduan serta pencarian jati diri Bataknya tersampaikan dengan kuat kepada publik,” ujarnya.

Iskandar juga turut berkontribusi menampilkan instalasi karya berupa sampan bermotif gorga khas Batak Toba dan patung pria berkuda. Ia berharap penyelenggaraan pameran “MULAK” dapat menjadi tonggak bagi Saung Grajen sebagai oase berkumpul, berkarya, dan berdiskusi bagi para pelaku seni dan budaya lintas disiplin.

Apresiasi dari Dunia Seni

Perupa asal New Zealand, Elizabeth M. Taylor, yang membuka pameran, memberikan pujian atas konsistensi dan kekuatan ekspresi Magda. “Magda adalah seniman yang hidup dan bernapas dalam karyanya. Setiap karyanya adalah cerminan hidup yang bahagia dan bebas, dengan pengaruh kuat dari warisan Bataknya. Ia bukan seniman yang terikat aturan, sehingga karya-karyanya terasa jujur dan tanpa batas,” ungkap Liz.

Baca:  Kasat Lantas Polres Bogor Gelar Sosialisasi Millenial Road Safety Festival di SMA 3 Cibinong

Apresiasi juga datang dari Ika W. Burhan dari Bentara Budaya. Ia menilai Magda memiliki komitmen kuat dalam memajukan seni dan budaya Indonesia. “Sebagai perupa perempuan sekaligus tenaga pendidik, Magda aktif mendukung berbagai kegiatan seni, dari pameran bersama hingga workshop seni anak-anak,” ujar Ika.

Peluncuran Buku dan Kegiatan Pendukung

Dalam acara pembukaan, turut diluncurkan buku berjudul “MULAK: Rotua Magdalena Pardede di Titik Rindu” karya Dwi Aryo. Selain pameran, rangkaian kegiatan “MULAK” juga akan diisi dengan workshop seni interaktif serta pertunjukan budaya, termasuk musik, tari, kuliner khas Batak, dan Wayang Beber Metropolitan, pertunjukan wayang kontemporer yang memadukan unsur Jawa dan Batak.

“Seni dan budaya harus dirayakan dengan rasa sukacita sebagai wujud cinta dan syukur atas hidup itu sendiri,” tutur Magda menutup perbincangan.

Baca:  Mahkota Raja Pajajaran Binokasih dan Artefak Dipamerkan di Perpustakaan Kota Bogor

Tentang Rotua Magdalena Pardede

Rotua Magdalena Pardede merupakan perupa, kurator, konsultan seni, sekaligus dosen dengan gelar Master of Art in Urban Art dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia pernah menjalani program Artist in Residence di Australia (PICA Institute of Perth, Curtin University), Jepang (Kashiwa Bunka, Tokyo Geldai), dan Italia (Como Antonio Ratti Foundation).

Karya-karyanya banyak menampilkan perpaduan antara manusia dan alam melalui medium digital, grafis, dan lukisan. Tema yang diangkat sering berpusat pada bentuk-bentuk feminin, keindahan alam, serta ekspresi emosional manusia.

Selain aktif mengajar di IKJ, Interstudi University, dan Binus International, Magda juga menjadi kurator serta juri di berbagai ajang seni, seperti Gudang Garam Indonesia Art Awards dan Triennial Graphic Bentara Budaya. Ia merupakan pendiri komunitas seni Makna Seni Indonesia, Kama Budaya, dan Refreshink Printmaking.

Di sepanjang kariernya, Magda telah menerima berbagai penghargaan nasional dan internasional, antara lain Pelukis Nasional Terbaik Philip Morris Awards, Mahasiswa Terbaik Seni Grafis IKJ & Tempo, serta 4th Asian Print Awards.