Beranda Opini

Negosiasi Syariah

Oleh : Dennis Bimo Prakoso, Mahasiswa STEI SEBI Depok

Dalam prespektif Islam, kehidupan manusia dalam bisnis haruslah dalam rangka kerjasama yang saling menguntungkan, saling meminta satu sama lain dan menghindari cara-cara yang bathil. Dalam praktik bisnis, kerjasama dan saling meminta itu terjadi setiap waktu.

Salah satu cara yang ditempuh dalam proses bisnis guna mencapai hasil yang saling menguntungkan itu, adalah negosiasi. Negosiasi merupakan proses mencapai kesepakatan diantara pihak yang berkepentingan melakukan transaksi. Kesepakatan yang memuaskan dan saling menguntungkan kedua belah pihak yang bernegosiasi sangatlah penting bagi terciptanya nilai tambah ekonomi, nilai tambah silaturahim bagi masing masing pihak.

Ada contoh sederhana negosiasi yang tidak mengindahkan nilai nilai saling menguntungkan kedua belah pihak. Seorang pedagang yang menempuhkan jarak lebih dari 20 kilometer menjajakan dagangan di sebuah komplek, harga yang di tawarkan pedagang kepada pembeli sebesar Rp. 75 ribu. Si pembeli menawar dagangan nya dengan nilai awal Rp. 25 ribu, karena pedagang ini merasakan keberatan dengan tawaran pembeli, permintaan dinaikan secara berturut turut hingga mencapai harga Rp. 50 ribu, pedagang memberikan tawaran terakhir sebesar Rp. 60 Ribu, sembari menyatakan bahwa harga tersebut hanya memberi margin sebesar 10 persen. Calon pembeli tidak bergeming lagi dengan permintaannya. Sehingga negosiasi berakhir dengan nilai menang bagi si pembeli dan nilai kalah bagi si pedagang, karena pedagang melepas dagangannya tanpa memperoleh keuntungan.

Dalam hal tersebut pedagang terpaksa menjual tanpa memperoleh keuntungan karena sebelumnya tidak ada satupun dagangannya yang terjual. Dia tidak ingin rugi walaupun belum memperoleh keuntungan. Tidak ada yang salah dalam negosiasi tersebut kaarena kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan. Sayangnya kesepakatan yang tercapai berakhir dengan adanya yang menang dan adanya yang kalah. Itu berati tidak terjadi negosiasi. Pembelajaran yang bisa di petik dari hal tersebut. Pertama, tidak ada keluasan negosiasi dalam proses tawar menawar tersebut. Kedua, kurangnya posisi salah satu pihak dalam negosiasi menciptakan tekanan kebutuhan sehingga tidak memproleh kepuasan. Ketiga, tidak berfungsinya paradigma partnership dalam proses mencapai kesepakatan bisnis tersebut.

Berbicara di dalam dunia perbankan syariah, negosiasi antara nasabah dan bank syariah basisnya adalah keadilan dua pihak yang bersepakat melakukan kerjasama. Negosiasi berbasis nilai nilai kerjasama, take and give antar manusia dalam bbisnis selalu terjadi. Negosiasi berbasis nilai nilai damam prespektif islam terarah pada negosiasi yang menghasilkan kesepakatan yang saling memuaskan kedua pihak.
Negosiasi dalam prespektif manajemen modern, merupakan salah satu cara mencapai kesepakatan yang harus berujung sama sama menang, tidak ada negosiasi jika tidak menghasilkan manfaat yang sama sama memuaskan para pihak dengan kontrak yang jujur dan tidak multi tafsir. Itulah sebabnya, dalam menjalankan transaksi bisnis di dalam dunia perbankan syariah dan nasabah, jarang terjadi konflik sebagai akibat isi kontrak yang tidak adil. Dalam melakukan syirkah dalam mudharrabah antara pihak bank syariah dan nasabah misalnya, negosiasi dalam ketentuan pengeolaan dan bagi hasil dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi kedua belah pihak adalah bagian penting prinsip syariah.