Beranda Opini

Mengenal Lebih Dekat Sosok KH Sholeh Iskandar

M. Ihsan Ar-rofie

Oleh :M. Ihsan Ar-rofie – Mahasiswa Fakultas Agama Islam, Ekonomi syari’ah, Universitas Ibn Khaldun Bogor

K.H Sholeh Iskandar merupakan seorang ulama karismatik di wilayah Jawa Barat khususnya Bogor. Beliau seorang ulama yang gigih menentang kolonialisme Belanda di Indonesia. Masa mudanya dihabiskan di medan perang yakni sebagai komandan Hizbullah (Batalyon O). Pernah menjadi anggota TNI dengan pangkat terakhir kolonel pada zaman presiden Soekarno. Namun, dalam perjalanannya beliau berenti menjadi anggota TNI dan lebih aktif berpolitik bersama K.H M Natshir sebagai pengurus Masyumi. Garis politik Masyumi bersebrangan dengan nasakomnya presiden Soekarno, itulah akhirnya beliau harus merasakan bertahun-tahun meringkuk dalam penjara.

Baca:  PEMUDA TERBAIK

Selepas dari penjara, kira-kira tahun 1967 beliau aktif bergerak di bidang sosial dan pendidikan karyanya yang masih bisa dirasakan sampai saat ini adalah:

Membangun Desa Pasarean Kecamatan Pamijahan sebagai perkampungan modern dengan tata ruang yang memenuhi syarat kesehatan dan lingkungan yang tertata dengan baik.
1. Pondok Pesantren Pertanian Darul Fallah di kawasan Cinangneng.
2. Universitas Ibn Khaldun Bogor yang didirikan pada tanggal 23 april 1961.
3. Rumah Sakit Islam Bogor pada tahun 1982
4. BPRS Amanah Ummah era tahun 80-an

Baca:  Perempuan yang Dianggurin Surga

Yang tidak kalah penting adalah keikhlasan beliau dalam mentransformasikan ilmu kepada murid-muridnya telah melahirkan ulama-ulama besar khusunya di wilayah Bogor diantaranya Prof. Dr. K.H Didin Hafidhuddin, M.Sc.

Ustad Muhajir Afandi menyampaikan setidaknya ada 4 karakter K.H SHOLEH ISKANDAR yang patut diteladani yaitu:
1. Sosok pemberani dan amanah
2. Tegas dalam menolak dan melawan kedzaliman
3. Merakyat
4. Keberpihakan kepada umat di atas kepentingan pribadi dan golongan

Beliau telah mencatatkan namanya dalam sejarah perjuangan Islam dan Indonesia, kita mungkin mengagumi beliau sebagai pejuang dan pembela kebenaran namun mungkin belum merasakan luka dan lelah berkorban demi Izzah Islam. Ust. Anis matta mengatakan, ada 3 syarat agar kita bisa menjadi pahlawan, yaitu:
1. Bekerja lebih banyak daripada berbicara.
2. Berpikir lebih banyak daripada berbicara.
3. Berjalan lebih banyak daripada duduk.

Baca:  Maqoshid Syariah

Semoga apa yang K.H SHOLEH ISKANDAR torehkan, mampu diteruskan perjuangannya oleh kita generasi saat ini dan generasi masa yang akan datang sebagai bentuk kecintaan kita kepada Islam dan Negeri Indonesia.