Beranda Opini

Nisbah Bagi Hasil Dalam Perbankan Syariah

 

Oleh : Dennis Bimo Prakoso
Mahasiswa STEI SEBI Depok

LIPUTANBOGOR.COM-Secara ideal dalam praktek perbankan syariah memang nisbah bagi hasil ditetapkan dengan dasar perbandingan modal dari kedua belah pihak yang bersepakat melakukan syirkah dan mudharrabah. Tetapi dasar penentuan nisbah bank syariah saat ini umumnya masih berkiblat pada tingkat SBI sebagai alat pebanding.

Ketika seorang pemilik dana ingin mendepositokan dananya dalam bentuk akad mudharrabah, ditawarkan nibah bagi hasil oleh pihak bank syariah. Misalnya, untuk deposito 80 bagi nasabah dan 20 bagi bank maka ekuivalensier bandingan modal dari kedua belah pihak yang bersepakat melakukan syirkah dan mudharrabah. Tetapi dasar penentuan nisbah bank syariah saat ini umumnya masih berkiblat pada tingkat SBI sebagai alat pebanding.

Baca:  Pemilu dan Pengawasannya sebagai Nafas Demokrasi

Ketika seorang pemilik dana ingin mendepositokan dananya dalam bentuk akad mudharrabah, ditawarkan nibah bagi hasil oleh pihak bank syariah. Misalnya, untuk deposito 80 bagi nasabah dan 20 bagi bank maka ekuivalensi hasil untuk nasabah akan turun naik. Sebenarnya penggunaan margin pada akad mudharrabah dengan menggunakan metode bank konvensional hanyalah metode penetapan margin sebagai cara bersaing dan bukan sebagai dasar penetapan. Dalam penetapatan nisbah bagi hasil bank syariah pada umumnya berpendoman pada tingkat SBI sebagai standar.

Dalam praktek perbankan syariah, pada kenyataannya masyarakat belum bisa secara konsekuen dan konsisten menerapkan prinsip syariah termasuk dalam hubungan dengan perbakan syariah karena belum terdengar nasabah yang bersedia menyatakan bahwa, jika bank syariah menglami kerugian dalam mengelola dana mudharrabah atau syirkah, maka nasabah yang melakukan akad bagi hasil akan menanggung kerugian. Sedangkan pihak bank syariah pun akan berhati hati menyatakan bahwa bersedia menanggung kerugian jika terjadi kerugian yang diderita nasabah sebagai mudharib sehingga diperlukan jaminan. Sikap seperti ini yang membuat praktek perbankan syariah dilihat dari kepentingan kedua belah pihak belum mampu menerapkan prinsip prinsip syariah secara murni. Harus diakui masyarakat kita baru ingin menuju bank syariah yang sesungguhnya.Kita tidak dapat memutar kembali arus yang sedang di lewati saat ini dalam semangat membangun masyarakat syariah, termasuk membangun ekonomi, keungan syariah sebagai pendukung.

Baca:  Negosiasi Syariah

Secara realita, nasabah bank syariah masih membandingkan antara bank konvensional dan bank syariah dalam segi aspek pembiayaan. Apalagi pangsa pasar konvensional saat ini masih jauh lebih besar jika dibandingka dengan syariah. Akibatnya dalam penentuan nisbah diawal untuk pembiayaan mudharrabah atau musyarakah sekalipun, faktor yang menentukan adalah besaran return bagi hasil yang diharapkan dengan tetap berpendoman pada tingkat SBI. Sebab jika nisbah terlalu tinggi boleh jadi nisbah bagi hasil yang diberikan nasabah kepada bank lebih tinngi dari tingkat rata rata suku bunga. Jika hal itu terjadi maka nasabah bank syariah akan pindah ke bank konvensional.

Baca:  KAMMI Menuju Perwujudan Prinsip Gerakan Ke-Enam