Depok – Adanya sistem belajar yang baru yaitu pembelajaran di era pandemi yang dilaksanakan secara daring membuat pembelajaran berpusat pada murid sulit untuk diterapkan. Karena dalam pembelajaran daring tersebut tidak ada interaksi langsung antara guru maupun murid.
Pada pembelajaran daring kebanyakan guru yang berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Banyak kendala yang dihadapi murid seperti susah sinyal dan tidak semua murid mempunyai android sehingga pembelajaran menjadi tidak efektif.
Menurut Suryadi, Anggota Komunitas Guru Belajar Nasional (KGBN) Kota Depok, pembelajaran berpusat pada murid adalah proses, cara perbuatan menjadikan murid aktif belajar dengan mempertimbangkan karakteristik pada diri murid yang akan belajar.
“Karakteristik setiap murid digunakan sebagai dasar dalam perancangan proses pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran. Pada pembelajaran tersebut tampak bahwa murid berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran,” ujar Suryadi
Dia melanjutkan, keadaan seperti itulah yang diharapkan pada proses pembelajaran dimana pengajar tidak memberikan informasi kepada murid tetapi terjadi proses berpikir kritis.
Selain itu kata dia, guru harus memahami profil belajar, profil belajar adalah karakteristik unik setiap individu yang mempengaruhi gaya dan kebiasaannya dalam belajar, yang membantunya untuk bisa lebih cepat memahami konsep dan menguasai keterampilan baru.
Suryadi menambahkan, Profil belajar mempengaruhi cara belajar anak. Terbentuk karena faktor bawaan dan lingkungan misal: temperamen, pola asuh, gizi, pengalaman berhasil, juga situasi dalam lingkungan belajar.
“Penting untuk memperhatikan profil belajar anak, terutama karena yang menjalani proses belajar adalah anak sendiri,” ungkapnya.
Suryadi juga menuturkan, sebagai pelaku belajar, anak perlu memiliki motivasi untuk menambah pengalaman bermakna atau menguasai keterampilan baru. Semua itu bisa terjadi jika anak merasa nyaman dalam lingkungan belajar: diterima, didengarkan, dipahami, tahu tahapan belajar yg harus dilalui, tahu tujuan belajar, dapat umpan balik positif, dan punya pengalaman berhasil.
Dia menyebutkan, Guru perlu tahu profil belajar anak seperti, media belajar yang bagaimana yg membuat anak tertarik dan terlibat, bagaimana materi belajar dapat diterima dan dipahami anak, Kriteria kelas yang bagaimana yang nyaman untuk belajar anak, sudah sampai di mana tingkat pengetahuan dan pemahaman anak tentang materi belajar dan Apa tujuan belajar anak.
“Jika semua profil belajar anak diketahui dan bisa dipenuhi, proses belajar berjalan lancar, anak mendapatkan pengalaman berhasil, menjadi termotivasi untuk belajar lagi dan yang penting bisa memperkaya pengalaman guru lewat proses belajar yang unik,” tutur Suryadi.
Suryadi menjelaskan, interaksi belajar yang baik adalah jika terjadi saling belajar antara guru dan murid. Belajar tidak hanya untuk murid dan mengajar tidak hanya untuk guru.
Selain itu, perlu dukungan orang tua dalam proses kegiatan belajar mengajar, bagaimana orangtua mendukung, tentunya dengan bersama-sama guru dan sekolah melihat anak sebagai individu yang unik, yang memiliki cara dan percepatan sendiri untuk berhasil. Orang tua dan guru harus bekerjasama.
“Dan guru juga perlu menyediakan area-area yang memungkinkan berbagai kegiatan sesuai pilihannya. Membuat lingkungan belajar yang menarik susuai dengan minat dan bakat murid dapat membuka pikiran murid sehingga lebih fokus dalam belajar,” tutupnya.





