Beranda News Bogor Raya

Pura Parahyangan Jagatkarta, Serpihan Bali di Tanah Sunda

Pura Parahyangan Jagatkarta

LIPUTANBOGOR.COM – Bogor ternyata memiliki banyak peninggalan sejarah dan kebudayaan sisa kerajaan Padjajaran yang menguasai tataran sunda. Salah satu bukti peninggalanya yaitu ‘Pura Parahyangan Jagatkarta’ yang berada di desa Warung Loa kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor. Dibangun diatas tanah suci  yang konon katanya merupakan petilasan dari Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran.

“Disana kami temukan yang dibelakang itu batu besar, menurut kepercayaan masyarakat disini itulah petilasan prabu siliwiangi tempat beliau bersemedi sampai beliau moksa. Moksa itu kalo di ajaran agama hindu artinya menghilang, menghilang tanpa jasad,” ujar Made, bumangku pura Parahyangan Jagartkarta.

Baca:  D'Antos, Sensasi Ngantosan Kopi Nikmat Tanpa Rasa Berat

Butuh sekitar 13 kilometer dari pusat kota Bogor untuk sampai ke tempat ini, suasana hijau nan sejuk terus mendominasi sepanjang jalan area Pura. tak heran, karena pura dengan luas tanah 2,5 hektar ini berdiri langsung diatas lereng gunung Salak.

Suasana sakral mulai tercipta ketika mulai memasuki Pura, kita akan disambut oleh dua patung harimau didepan pintu utama. Ornamen-ornamen seperti Bali menghiasi area pura bahkan sebagian propertinya pun langsung  didatangkan dari Bali.

Siapa sangka, ternyata pura ini merupakan pura terbesar di pulau jawa dan berada dinomor urut dua setelah pura besakih yang berada di Bali. Tidak hanya dikunjungi oleh warga sekitar tetapi juga pengunjung dari luar kota maupun luar negeri, baik itu untuk sembahyang maupun sekedar berwisata. Namun area utama ditutup bagi pengunjung hanya untuk umat hindu yang ingin beribadah saja demi terjaganya kesucian pura. Pengunjung yang berwisata hanya diizinkan masuk ke area yang telah ditentukan.

Baca:  Bima Arya Minta KB FKPPI Ikut Bantu Tangani Pandemi

Bagi anda yang sedang mencari referensi liburan, apa salahnya tidak mencoba. Tidak perlu jauh-jauh ke Bali, cukup ke Bogor saja anda sudah dapatkan nuansa seperti di Bali. Jangan khawatir, pura ini terbuka untuk umum namun tetap jaga sopan santun dan patuhi aturan-aturan yang berlaku. Dibuka mulai dari pagi hingga sore hari dan tidak dikenakan biaya masuk apapun hanya donasi seikhlasnya. (IF)