Beranda Opini

Sexy Killers & Demokrasi Tak Bermutu Kita

Oleh : Hadiyan Fariz (Ketua Umum GARBI Kota Bogor)

Sekitar tahun 2007 hingga 2011 akhir, saya ingat sekali, dalam beberapa seminar yang menghadirkan pihak pemerintah, khususnya kementerian ESDM sejak dari zaman Purnomo Yusgiantoro sampai Jero Wacik dan beberapa seminar lainnya yang menghadirkann BUMN energi kita, salah satunya Pertamina. Saya selalu melontarkan satu pertanyaan “kapan kita mulai serius pada EBT dan mulai lepas dari fosil” jawabannya selalu sama di sertai seringai tawa menyepelekan yang sama “cadangan migas dan batubara kita masih banyak”.

Itu sepenggal memori yang kemudian seolah dipaksa kembali naik ke permukaan ingatan ketika kini kita dibuat terbelalak dengan apa yang disajikan oleh watchdoc dalam video berdurasi 60 menit lebih di youtube. Video dokumenter lokal yang pertama kali bisa menyentuh angka diatas 1 juta penonton, dan kini sudah menembus angka 7 juta dalam waktu beberapa hari saja.

Baca:  Hati Seorang Pemimpin

Banyak yang kemudian, entah apakah mereka menonton dengan penuh atau hanya tertarik karena ada testimoni-testimoni khusus dari kawannya yang dilihatnya di media sosial, karena testimoni yang marak muncul berikutnya malah berkaitan dengan Pilpres. Dimana beberapa orang mencoba memanfaatkan dokumentasi watchdoc sebagai bahan demarketisasi pihak lainnya dan promosi yang lainnya. atau sekedar berucap “setelah menonton, saya tau harus memilih yg mana”.

Belum selesai kesedihan saya menonton tayangan ini, semakin dibuat miris lagi melihat cara sebagian kita melihat persoalan, dan mengeksploitasi persoalan tersebut.

Sungguh apa yang coba disampaikan oleh watchdoc dalam sexy killers bukan panduan memilih siapa yang lebih baik dari siapa, tapi ini menggugah kesadaran kita, bahwa bertahun-tahun kita telah abai terhadap permasalahan ini, 200 juta sekian orang abai selama bertahun-tahun.

Dan di Pilpres ini kita di tunjukkan tontonan dimana para aktor, yang masih atau pernah, terlibat dalam proses perusakan ini sedang kejar-kejaran merebut tahta orang nomor 1 Indonesia. Dan sebagian dari kita tetap tak sadar juga, malah dengan gegap gempita mencoba menggunakan konten dokumentasi ini untuk mempromosikan salah satu calon dukungannya, yg tak lebih baik dari yg lainnya.

Baca:  Mengenal Lebih Dekat Sosok KH Sholeh Iskandar

Permasalahan batu bara ini bukan barang baru, beberapa dekade telah berlalu dengan cerita lama yang sama, namun memang semakin parah di setengah dekade terakhir.

Ini bukan salah batu bara, karena energi kotor ini lah pilihan terbaik kebutuhan energi murah meriah kita saat ini. jawaban paling ringkas dari kita yg selama bertahun-tahun malas berpikir repot untuk membangun kemampuan dan kapasitas kita untuk mengembangkan alternatif energi bersih.

Ini juga bukan tentang kontestasi Pilpres oleh para aktor energi kotor.

Baca:  Negosiasi Syariah

Ini tentang praktik bisnis kotor para pengusaha busuk yang abai terhadap dampak lingkungan dan sosial. Bisnis kotor para konglomerat busuk yang tak pikir selain perutnya dan perut kerabat keluarga, bukan, bukan perut, karena kalo cuman perut, makan ikan asin dengan sambal tomat pun sudah kenyang dan senang kita, ini tentang rakus yg merasuk terlalu dalam.

Ini tentang pemerintah yang abai terhadap segala bentuk pelanggaran-pelanggaran korporasi terhadap berbagai regulasi yang ditetapkannya sendiri, abai terhadap kejahatan yang dibuat korporasi terhadap rakyatnya sendiri, dan parahnya pemerintah yang malah menjadi bagian dari kejahatan itu sendiri.

Dan ini tentang kita, 200 juta lebih orang yang abai terhadap segala bentuk kriminal atas tanah airnya, penjajahan atas kedaulatan bangsanya dan perusakan terhadap bumi pertiwinya. Semoga ibu pertiwi tak dengar cerita hari ini.