LIPUTANBOGOR.COM – Belasan warga Perumahan My Village Bone Bogor mendatangi rumah owner dari Developernya yang berlokasi di Ciomas, Kabupaten Bogor, pada Jumat, 18 Oktober 2024.
Kedatangannya untuk mempertanyakan keseriusan pihak pengembang yang diduga lalai dalam melaksanakan kewajibannya selama hampir 8 tahun terkait penyediaan fasilitas air bersih bagi warga perumahan.
Perumahan My Village, yang beralamat di Bojong Neros Semplak Curug, Bogor Barat, Kota Bogor, telah beroperasi sejak 2014, namun memiliki catatan buruk di mata penghuninya.
Banyak fasilitas yang dijanjikan belum direalisasikan, terutama penyediaan air bersih yang sangat krusial. Selain itu, beberapa fasilitas lainnya seperti pengadaan CCTV dan pos keamanan (security) juga belum terpenuhi.
Maisyaroh, SM, selaku Koordinator dan perwakilan warga perumahan, menyatakan bahwa pihak developer terkesan mengulur waktu hingga 8 tahun.
“Ini sungguh tidak masuk akal. Awalnya, kami sempat berpikir untuk mengajukan pengaduan masyarakat di berbagai media, tetapi sebagian warga menyarankan untuk menunggu sambil memberi kesempatan kepada developer,” ujar May panggilan akrabnya pada Jum’at (18/10).
Namun kata May, melihat sikap developer yang terkesan acuh tak acuh, warga memutuskan untuk mengambil inisiatif sendiri dengan mengajukan pengelolaan air bersih langsung kepada PDAM melalui Regulasi Bisnis dan Teknologi (RBT).
May menambahkan, “Saat developer menawarkan perumahan dengan angsuran hingga 5 juta rupiah, mereka tidak peduli apakah kami mampu membayar atau tidak. Sekarang, saat giliran mereka menyediakan fasilitas yang dijanjikan, malah terkesan lepas tangan.”
Ia juga menyampaikan bahwa warga My Village merasa tertipu dengan janji-janji manis dari developer saat awal pembelian rumah.
“Banyak warga terjerat dan mau mengambil rumah di sini karena iming-iming fasilitas yang seharusnya sudah tersedia. Namun, sampai saat ini belum ada tindakan nyata dari pihak pengembang,” terangnya.
Kondisi ini memaksa warga untuk kembali mempertanyakan komitmen developer dalam memenuhi kewajibannya. Salah satu warga bahkan mengeluhkan bahwa air yang disediakan oleh pihak developer sangat minim dan tidak memadai untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kami seperti hidup di zaman penjajah, harus bergantung pada air yang diberikan pada jam-jam tertentu. Selain itu, kualitas air juga tidak layak untuk digunakan,” tambahnya.
Warga juga menyampaikan bahwa fasilitas keamanan yang dijanjikan seperti CCTV dan keamanan 24 jam hingga kini belum terealisasi, meskipun sudah termasuk dalam biaya yang dibayarkan. Dari 30 unit rumah yang sudah ditempati, hanya 17 rumah yang terisi, dan seluruh warga mengalami masalah yang sama terkait fasilitas yang dijanjikan.
“Kami sudah cukup sabar selama 8 tahun. Saatnya pihak developer menunjukkan itikad baik dan menyelesaikan kewajiban mereka,” tukas May.
Namun, warga tetap skeptis. Mereka merasa bahwa janji-janji yang diberikan developer tidak disertai dengan tindakan nyata. Maisyaroh menyatakan bahwa warga sudah lelah menunggu dan berharap ada transparansi dari pihak developer terkait proses yang sedang berlangsung.
“Yang kami minta hanya kejelasan. Jika memang dalam proses, kami ingin tahu tahapan-tahapannya. Jangan hanya diminta sabar, tapi tidak ada update yang jelas,” tegasnya.
Sementara Heri selaku pemilik dari dari PT Satrio Bongkar Jagat selaku developer dari perumahan My Village Bone Bogor saat di konfirmasi langsung menyatakan, bahwa mereka terus berupaya mencari solusi terbaik. Menurutnya, tingginya biaya penyambungan air dari PDAM menjadi kendala utama.
“Biaya yang diminta PDAM sangat tinggi, hampir mencapai Rp12 juta per rumah untuk sambungan baru, dan itu sangat tidak masuk akal,” ujar Heri.
Heri menambahkan bahwa mereka saat ini sedang dalam proses negosiasi dengan pihak PDAM untuk menurunkan biaya tersebut. Jika negosiasi tidak berhasil, pihak developer akan mencari sumber air bersih lain, seperti mata air atau sumur dalam.
“Kami berkomitmen untuk menyelesaikan masalah ini. Kami memahami keluhan warga, dan sebagai developer, kami bertanggung jawab untuk menyediakan fasilitas yang layak. Negosiasi masih berjalan, dan kami berharap bisa segera mendapatkan solusi terbaik untuk semua pihak,” tukasnya.
Permasalahan ini masih terus bergulir, dan warga berharap pihak developer segera menunjukkan itikad baiknya untuk menyelesaikan masalah ini secepat mungkin.(Sally)





