Beranda Dunia Islam Baitul Maqdis

Dari Palestina untuk Dunia: Pesan Prof. El-Awaisi tentang Pentingnya Merdeka dalam Pikiran

Foto: news.ius.edu.ba)
(Foto: news.ius.edu.ba)

LIPUTANBOGOR.COM — Dunia boleh berubah, tapi bentuk penjajahan ternyata tak selalu datang dengan senjata. Itulah pesan kuat yang disampaikan Prof. Dr. Abd al-Fattah El-Awaisi, akademisi asal Palestina, saat berbicara dalam kuliah umum di Universitas Indonesia (UI), Senin (20/10), bertajuk “Beyond 1948: Reclaiming the Palestinian Intellectual Legacy & Confronting the Intellectual Nakba.”

Dalam acara yang digelar oleh UI Palestine Center bersama UI Students for Justice in Palestine (UISJP) itu, Prof. El-Awaisi mengajak peserta untuk memahami bahwa perjuangan membela Palestina sejatinya adalah perjuangan membebaskan pikiran.
“Penjajahan pikiran lebih buruk daripada penjajahan tanah,” ujarnya dengan suara tegas, disambut tepuk tangan peserta yang hadir di ruang kuliah dan yang menonton melalui siaran langsung YouTube Universitas Indonesia.

Baca:  Beijing Geram: Resolusi Gaza Tanpa Solusi Dua Negara, DK PBB Dianggap Gagal Total

Menurut profesor yang juga Fellow of the Royal Historical Society (UK) ini, dunia Muslim selama ini terlalu fokus pada konflik politik dan perang bersenjata, padahal akar persoalannya justru ada pada hilangnya kemandirian berpikir. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai “Nakba Intelektual”, atau bencana pengetahuan—saat umat kehilangan kendali atas narasi dan warisan ilmunya sendiri.

Prof. El-Awaisi menegaskan, sejak masa pendudukan Inggris tahun 1917, kolonialisme modern tidak hanya merebut tanah, tetapi juga merusak sistem pengetahuan dan kesadaran politik masyarakat Palestina. “Ketika ilmu kita dikuasai, arah perjuangan pun akan dikendalikan pihak lain,” katanya.

Baca:  AWG Berangkatkan Relawan dari Bogor dalam Ekspedisi 1000 Pendaki untuk Palestina

Dalam paparan risetnya, ia juga membongkar pandangan umum yang selama ini keliru. Konflik di Gaza, menurutnya, bukan sekadar perang, melainkan genosida yang dijalankan oleh Amerika Serikat dan Inggris dengan Israel sebagai alatnya. Ia juga menolak menyebut Israel sebagai negara, karena menurut hasil penelitiannya selama lebih dari 30 tahun terhadap arsip Inggris, entitas itu adalah “proyek kolonial Barat.”

El-Awaisi pun mengingatkan agar umat Islam tidak lagi terjebak pada gagasan Two State Solution atau solusi dua negara, yang ia sebut sebagai “mitos politik” untuk menunda kemerdekaan Palestina.
“Sudah saatnya kita sadar bahwa solusi itu dibuat bukan untuk menyelesaikan, tetapi untuk mengelola konflik,” ujarnya.

Baca:  Semangat Berbagi di Hari Raya, Masjid As-Salaf Cibogor Sembelih 2 Sapi dan 15 Kambing pada Iduladha 1447 H

Bagi Prof. El-Awaisi, Indonesia memiliki peran penting dalam perjuangan ini. Sebagai bangsa yang pernah dijajah dan berhasil bangkit melalui pendidikan, Indonesia dinilainya bisa menjadi contoh bagi dunia Muslim. “Indonesia punya pengalaman sejarah luar biasa. Kini saatnya membantu membebaskan dunia Islam dari penjajahan intelektual,” katanya.

Di akhir kuliah umum yang berlangsung hampir dua jam itu, Prof. El-Awaisi menutup dengan optimisme. “Saya tidak punya sedikit pun keraguan bahwa Palestina akan merdeka. Dan saya yakin, generasi kita yang akan menyaksikannya,” ucapnya dengan senyum penuh keyakinan. (ed/RJ)