Beranda Opini

Hati Seorang Pemimpin

Oleh : Debi Firdaus (Ketua BEM FAI UIKA)

Pemimpin adalah salah satu manusia yang memiliki potensi yang sangat tinggi didalam memimpin suatu kelompok baik itu organisasi perusahaan ataupun negara, maka dari itu tidak bisa sembarangan didalam memilih pemimpin, ada beberapa hal yang meski kita jadikan barometer didalam memilih pemimpin tersebut, yang diantaranya :

AGAMA : agama menjadi salah satu tolak ukur didalam menentukan apakah pemimpin itu layak atau tidak, dan satu satunya agama yang di ridhoi oleh Allah adalah agama islam, sebagaimana didalam firmannya ان دين عند الله الاسلام yang artinya “sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah adalah islam”. Kata الاسلام diambil dari kata salaama, yaslumu, islaaman yang artinya selamat, ini menunjukkan bahwa agama yang dapat menyelamatkan seseorang dari jalan yang salah hanya islam, karena islam berlandaskan kepada firman Allah yaitu Al-qur’an dan juga berlandaskan ucapan serta perbuatan Nabi Muhammad saw yang dikenal dengan sebutan Al-hadits atau As-sunnah. Allah sudah merancang dengan sesempurna mungkin isi kandungan didalam Al-qur’an sehingga mampu menjawab segala permasalahan yang akan terjadi, yang sedang terjadi dan yang sudah terjadi. Sedangkan dalam Al-hadits membantu menjelaskan perkara-perkara yang belum jelas didalam Al-qur’an, seperti haramnya meminum khomr, didalam Al-qur’an hanya dilarang meminum khomr tapi tidak ada larangan dalam menjualnya, hal ini di perjelas oleh hadits sehingga menjualnya pun tidak boleh karena didalam menjual khomr hanya akan menimbulkan kemudhorotan yang banyak di bandingkan dengan manfaatnya.

Maka jika seseorang berpedoman kepada Al-qur’an dan hadits maka ia akan selamat di dunia dan di akhirat.

Ingat lah!!! Ketika anda memilih seorang pemimpin tanpa melihat agamanya maka hidupmu tidak akan aman, sesungguhnya suaramu dalam memilih pemimpin itu lah yang akan menentukan akan menjadi apa kamu nantinya. Allah sudah menjelaskan didalam surat Al-maidah ayat 51 yang berbunyi :

ياايها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى اولياء بعض. ومن يتولهم منكم فإنه منهم ان الله لا يهدي القوم الظلمين

“Wahai orang-orang beriman janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia (wali, pelindung atau pemimpin) mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa diantaramu yang menjadikan mereka teman setia (wali, pelindung atau pemimpin) maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zholim”.

Baca:  Pemilu dan Pengawasannya sebagai Nafas Demokrasi

Ibnu Katsir didalam Tafsirnya menjelaskan terkait dengan surat Al-maidah ayat 51 ini sebagai berikut :

Allah SWT melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin mengangkat orang-orang yahudi dan orang-orang nasroni sebagai wali mereka, karena mereka adalah musuh-musuh Islam dan para penganutnya, semoga Allah melaknat mereka.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, dari Kasir ibnu Syihab, dari Ibnu Sa’id Ibnu Sabiq, dari Amr Ibnu Abu Qois, dari Sammak ibnu Harb, dari Iyad, bahwa Umar pernah memerintahkan Abu Musa Al-asyari untuk melaporkan kepadanya tentang semua yang diambil dan yang diberikannya (yakni pemasukan dan pengeluaran) dalam suatu catatan lengkap. Dan pada saat itu yang menjadi sekretarisnya Abu Musa adalah orang Nasrani. Kemudian hal itu dilaporkan kepada khalifah Umar r.a. lalu ia berkata, “sesungguhnya orang ini benar-benar pandai, apakah kamu dapat membacakan untuk kami sebuah surat didalam mesjid yang datang dari negeri syam?” dia tidak bisa melakukannya wahai kholifah Umar, jawab Abu Musa Al-asyari, Kholifah Umar bertanya lagi “apakah dia sedang mempunyai jinabah?” Abu Musa Al-Asyari menjawab, tidak, tetapi dia adalah seorang Nasrani.

Maka dengan spontan Kholifah Umar membentaknya dan memukul paha Abu Musa sambil berkata “pecatlah dia”.
Dari penjelasan Imam Ibnu Katsir ini sangatlah jelas bahwa Kholifah Umar bin Khotob pun melarang seseorang menjabat sebagai pemimpin.

TAQWA : Imam Ibnu Hajar Al-asqolani mendefinisikan kata taqwa didalam kitabnya yang berjudul Nashoihul Ibaad, yang mana kata Taqwa dalam bahasa Arab memiliki 4 huruf yaitu ت ق و ي yang tentunya pada masing-masing huruf memiliki makna tersendiri.

Huruf ت yang merupakan kepanjangan dari Tadhoru’ yang artinya merendahkan diri di hadapan Allah SWT, karena pada hakikatnya manusia itu hanya boleh merendahkan diri dihadapan allah saja tidak kemudian dihadapan makhluknya. Bersikap menghinakan diri dihadapan Allah adalah salah satu perbuatan yang sangat terpuji karena Allah adalah raja-Nya para raja, pemimpin-Nya para pemimpin serta pemilik langit dan bumi juga isinya. Setiap manusia yang selalu merendahkan dirinya dihadapan Allah itu adalah manusia yang takut kepada Allah dan selalu berserah diri kepada Allah atas apapun yang ia akan hadapi dan apapun yang ia akan lakukan. Maka dengan ini pemimpin yang tadhoru’ tidak akan bersifat sombong dan membusukkan dada di hadapan rakyatnya, tetapi ia akan hidup merakyat, ramah serta mampu bersikap adil terhadap rakyatnya.

Baca:  Peran Vital Kontestasi Sekretaris Daerah untuk Menghasilkan Pemimpin Berkualitas dalam Pembangunan Daerah Kota Bogor

Huruf ق kepanjangan dari Qonaa’ah yang maknanya merasa cukup atas nikmat Allah yang sudah diberikan kepadanya baik itu besar ataupun kecil, karena ia mengetahui bahwa setiap rizqi yang Allah berikan kepadanya pasti Allah sudah atur dan Allah pasti akan menyimpan keberkahan dalam rizqi yang diberikan kepadanya dengan catatan menerima dengan penuh rasa syukur. Pemimpin yang sudah tertanam dalam jiwa dan raganya sifat qonaa’ah maka tidak akan mungkin akan memakan uang rakyat, tidak akan mungkin akan korupsi. Yang pasti pemimpin yang qonaa’ah itu akan mempergunakan uang rakyat tersebut dengan sebaik mungkin demi kemaslahatan ummat.

Huruf و kepanjangan dari kata Waro’ yang artinya senantiasa berhati-hati atas apa yang akan ia lakukan agar terhindar dari perkara-perkara yang haram, makruh dan juga syubhat (yang belum jelas halal dan haramnya). Seandainya pemimpin di jaman kontemporer ini mampu merealisasikan sifat waro’ dalam kehidupan sehari-harinya maka ia tidak akan tergiur dengan uang banyak ketika ada seseorang yang mencoba menyogok dengan uang yang bernilai sangat besar, karena ia mengetahui bahwa hal itu dilarang dalam syari’at islam.

Huruf ي merupakan kepanjangan dari kata Yaqin yang artinya percaya, percaya kepada Rukan Agama yang 3 diantaranya : rukun Islam, rukun Iman, dan rukun Ihsan.

Rukun Islam : Syahadat, sholat, zakat, puasa dibulan romadhon, dan menunaikan ibadah haji ke baitullah bila mampu.

Rukun Iman : Iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rosul-rosul-Nya, kepada hari akhir, dan kepada takdir yang baik dan yang buruk.

Rukun Ihsan : Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engakau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.

Sungguh jika seorang pemimpin memiliki keyakinan seperti yang sudah dipaparkan diatas maka ia akan mampu untuk bergerak serta melakukan sesuatu sesuai dengan Al-qur’an dan Hadits karena sudah meyakini bahwa Rukun Islam, Iman dan Ihsan akan menjadi barometer utama dalam mengukur keimanan seseorang dan kebaikan seseorang.

Baca:  Kekuasaan

Agama dan Taqwa adalah dua kriteria yang akan menjadi tolak ukur keadilan seorang pemimpin karena dengan dua kriteria ini pemimpin akan bekerja semaksimal mungkin serta akan berlandaskan Al-qur’an dan Hadits, akan hidup merakyat dan tidak sombong terhadap orang-orang yang ia pimpin, sebagaimana Sayyidina Umar bin Khotob ketika menjadi Kholifah menggantikan Abu Bakar Sidiq, beliau setiap harinya selalu mengelilingi kampung yang pada saat itu berada dibawah pimpinannya, maka setiap ia menemukan anak-anak yatim ia selalu elus bagian kepala anak yatim tersebut sambil berkata “beginilah seharusnya engaku nantinya nak” perkataan itu mengandung arti bahwa kita harus mencontohkan kepada rakyat kita perbuatan yang baik dan terpuji agar menjadi satu contoh yang nantinya dapat ditiru olehnya.
Dijaman kontemporer ini banyak seorang pemimpin yang tak mau dekat dengan rakyatnya karena mereka mengira bahwa derajatnya jauh berbeda dengannya, tak sadarkah dia bahwa dirinya menjadi seorang pemimpin itu berkat doa dan suara rakyatnya yang mencoblos pada saat pemilihan, sebagaimana hadits Nabi mengatakan :

حدثنا عبدالله بن مسلمة عنمالك عن عبدالله بن دينلر عن عبدالله بن عمر, ان رسول الله ص.م قال : الا كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته فالأمير الذي على الناس راع عليهم وهو مسئول عنهم والرجل راع على اهل بيته وهو مسئول عنهم والمراة راعية على بيت بعلها وولده وهي مسئولة عنهم والعبد راع على مال سيده وهو مسئول عنه فكلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته

“Diriwayatkan Abdullah bin Maslamah dari Malik bin Abdullah bin Dinar, dari Abdullah bin Umar berkata : saya telah mendengar Rosulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara akan diminta tanggung jawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggung jawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu atau pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya (diminta pertanggung jawaban) dari hal-hal yang dipimpinnya. (HR. Bukhori dan Muslim).

Maka jadilah pemimpin yang amanah yang mampu memakmurkan rakyar dan mampu membahagiakannya.