Beranda Opini

Hedonisme dalam Perspektif Islam

Zhofirah seorang Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIKA

Oleh : Zhofirah – Komunikasi dan Penyiaran Islam Jurnalistik

Gaya hidup hedonisme adalah suatu pola hidup yang bertujuan untuk mencari kesenangan hidup dunia, seperti sering keluar rumah, lebih banyak bermain, senang membeli barang mahal yang disenangi, serta ingin menjadi pusat perhatian oleh orang lain.

Hedonisme sendiri merupakan sebuah pandangan hidup yang menyatakan bahwa kesenangan adalah segalanya. Padahal kesenangan yang dihasilkan hedonisme sendiri hanya berupa materi dan bersifat sesaat dan tidak berlangsung lama.

Kondisi hedonisme ini sangat banyak kita temukan dikalangan pelajar, terutama mahasiswa.  Mahasiswa yang merupakan “ agen of change” inilah yang justru membuat pasar hedonisme ini berkembang, hal ini disebabkan karena lingkungan mahasiswa yang berasal dari berbagai macam suku budaya, strata keluarga yang berbeda-beda yang kebanyakan dari mereka adalah orang-orang berduit yang selalu memperhatikan penampilan luar, sehingga hal ini memicu mahasiswa lain untuk mengikuti tren yang ada.

Iklan-iklan yang memanjakan mata akan tren-tren kekinian menjadi alasan remaja kini meningkatkan gaya hidupnya. Sisi dimana remaja saat ini tidak ingin dibilang “kudet (kurang update), norak, ataupun kuper”. Sehingga budaya hedonisme ini merusak pola pikir remaja saat ini.

Kini, memasuki era global dan zaman modern, umat Islam dihadapkan dengan ragam tantangan dan perlawanan dari musuh Islam. Selain fisik, benturan tersebut kian merambah kepada pertarungan budaya dan pemikiran.

Baca:  Lagu KPI Bisa Persembahan KPI UIKA untuk Prodi KPI se-Indonesia

Sebut saja misalnya, paham materialisme, hedonisme dan konsumerisme. Biasanya gaya hidup yang hedonisme yang menjanjikan kesenangan ini dikemas dengan 3F (Food-Fun-Fashion)

Food, berbagai makanan siap saji membuat Muslim tak peduli dengan konsep halal. Bahkan kini Restoran kebanyakan disesaki kalangan remaja. Tanpa peduli makanan di restoran tersebut halal atau tidak. Yang terpenting restoran tersebut terkenal sehingga remaja saat ini tak ingin ketinggalan untuk mengunjungi serta berfoto di restoran yang memiliki konsep yang bagus demi meningggikan eksistensinya. Apalagi saat ini makanan siap saji yang sedang marak di hidangkan adalah berbahan daging. Yang di olah menjadi masakan ala korea, western, japan dll. Yang tanpa kita sadari sifat ke-halalan nya.

Fun, yaitu hiburan dan tontonan yang melalaikan hati. Seperti kebanyakan remaja saat ini yang sering menghabiskan liburan dengan nonton bioskop serta konser musik. Remaja bahkan anak-anak pun kini sering kita temukan di mall – mall, seakan mall menjadi kebutuhan mereka untuk melepas penat setelah seharian di tumpuki oleh tugas sekolah.

Baca:  Tauhid

Kemudian fashion yang menuntut pola pikir remaja bahwa pakaian dan penampilan adalah aktualisasi diri dengan mengikuti tren kekinian. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh style artis-artis idola remaja saat ini. Apalagi di kalangan wanita yang menjadikan penampilan adalah prioritas utama.

Menurut Ali Syariati, seorang ulama terkemuka Timur Tengah pernah berkata bahwa tantangan terbesar bagi remaja muslim saat ini adalah budaya hedonisme (kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup) yang seolah sudah mengurat nadi. Budaya yang bertentangan dengan ajaran islam inji digemari dan dijadikan sebagai gaya hidup (life style) kawula muda masa kini, kaya atau miskin, ningrat atau jelata, sarjana atau kaum proletar, di desa ataupun dikota seolah sepakat menjadikan hedonisme yang sejatinya kebiasaan hidup orang barat ini sebagai “tauladan” dalam pergaulannya. Ini menjauhkan dan mengeluarkan mereka dari gaya hidup yang beradab, yaitu dari hukum ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ…

Firman Allah SWT, “ … Dan orang-orang yang zalim hanya mementingan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS. Huud: 116).

Dalam Islam, paham  hedonisme dianggap merusak akhlak pribadi seorang Muslim. Karena paham tersebut mengajarkan pada israf (berlebih-lebihan) dan tabzir (boros). Dua perkara ini yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa ta’ala

Baca:  Pemilu dan Pengawasannya sebagai Nafas Demokrasi

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah tetapi jangan berlebihan. sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf : 31)

Hedoisme ini pula menjadikan manusia kurang bersyukur atas nikmat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan. karena selalu ingin mencari yang lebih dari apa yang sudah di dapatkan. menurut Muhammad Nazhif Mansyur dalam bukunya Living Smart, menegaskan tentram, ridho dan tenang hakikatnya bersumber dari pancaran energi syukur. Dengan bersyukur Allah senantiasa melimpahkan nikmat lebih dari apa yang kita dapat sekarang, tetapi manusia jarang menyadari akan hal penting ini.

Maka sebagai muslim atau mahasiswa “agen of change” haruslah kita tau apa yang baik untuk kita. Budaya hedonisem yang telah melekat dikalangan remaja harus kita hindari. Tetap kritis dalam melihat kemunculan tsaqofah (kelemahan perdaban) atau budaya selain Islam.

Wallahu a’lam Bishawab …