Beranda Opini

Kampus dan Masyarakat

Oleh : Ahmad Wildan (Mahasiswa Universitas Ibn Khaldun Bogor)

Kampus adalah simbol pendidikan masyarakat. Yang darinya lahir insan insan intelektual yang kredibel untuk menjalankan peran pembaharuan dan perbaikan bagi kemajuan masyarakat. Karena keberadaan masyarakat yang masih sangat tertinggal dan terbelakang maka kampus didirikan untuk mengentaskan segala problematika tersebut. Guna mencipta kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran bagi rakyat. Itulah mengapa Tri Dharma perguruan tinggi menempatkan visi pengabdian masyarakat sebagai cita cita akhir dari sebuah proses pembelajaran dan penelitian di perguruan tinggi.

Namun ironi memang fakta hari ini, kampus justru memasang pagar pagar kokoh yang menjulang tinggi untuk melindungi kemegahannya. Dan malah memberi jarak dan batasan terhadap rakyat di sekitarnya. Kampus seolah barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan dan golongan tertentu. Dengan kedudukan ekonomi tertentu. Rakyat jelata tak bisa sembarang keluar masuk dengan dalih ketertiban dan keamanan. Yang lebih menyedihkan lagi fakta bahwa masih banyak sekali persoalan masyarakat yang justru berada tak jauh dari area kampus. Kemiskinan, pengangguran, dekadensi moral, minimnya keterampilan dan sederet problematika yang seolah tak terlihat bagi insan akademisi yang keseharian nya mondar mandir di sekitarnya. Bahkan ada beberapa kampus ternama di negeri ini yang mulai dikelola layaknya properti bisnis. Mulai dari mendirikan ruang hiburan dan cafe-cafe elit di area kampus. Hingga bekerja sama dengan pengembang swasta seperti apartemen, hotel, wisma dan berbagai bisnis properti berkelas lainnya dengan target pasaran mahasiswa.

Baca:  Kebijakan Ekonomi di Masa Abu Yusuf

Walhasil mahasiswa yang harusnya menjalani pendidikan dengan kesederhanaan sebagai bekal pengabdian nanti di masyarakat. Justru dibentuk hidup dalam hedonisme dan akhirnya lulus sebagai pekerja yang hanya siap bekerja di tempat yang bisa menjamin hidupnya secara materil belaka. Persis seperti apa yang diucapkan oleh seorang petani penemu bibit padi sertani Surono Danu bahwa “kampus hari ini hanya mencetak sarjana bagaikan ubin yang tidak bisa berkembang, seharusnya kampus melahirkan sarjana agar dia bisa berkembang dengan akal dan ilmu yang telah Tuhan anugerahkan padanya”.

Baca:  Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan UIKA Bogor Giat Sosialisasi Protokol Kesehatan

Sudah saatnya kampus kembali pada jati dirinya sebagai tempat pengolahan pikiran dan keterampilan untuk pembangunan dan kemajuan bagi masyarakat. Bukan sekedar membangun fasilitas yang megah dan mewah semata. Melainkan membangun manusia manusia yang siap hadir menjadi solusi di tengah peliknya kehidupan masyarakat. Agar fungsi kampus sebagai lembaga pendidikan masyarakat, benar benar berjalan sesuai koridor dan jalurnya. Dalam rangka menceraskan kehidupan berbangsa dan bertanah air.