Beranda Opini

Kekuasaan

Oleh : Arief Rahardjo

Kenyataan hidup memang harus selalu berputar. Begitulah, suka atau tidak kita memang tidak selamanya diatas, kita tidak selamanya bisa mengatur dan memerintah orang lain. Ada titik tertentu dimana kita harus turun untuk digantikan. Mungkin kita memang tak lebih dari sehelai daun, yang kalau sudah berwarna cokelat harus gugur. Dan hukum kehidupan memang seperti sebuah siklus besar yang tak seorang pun bisa mengubah atau menghentikannya.

Meski begitu. Toh, ada saja diantara kita yang tetap ngotot, tetap bermimpi bisa berkuasa selamanya. Mungkin saja, orang model begitu tak pernah baca sejarah: Ken Arok, Napoleon Bonaparte, Mao Zedong, Ferdinand Marcos dan orang-orang besar lainnya yang dulu perkasa, yang dulu berkuasa, lihatlah nasibnya setelah berkuasa. Tak jarang dari mereka yang kini namanya justru dicemooh. Bahkan orang kuat macam Gatot Kaca pun tidak bisa selamanya berkuasa. Memang ia punya tulang kawat dan otot besi, tapi jangan lupa, baik kawat maupun besi dalam kurun waktu tertentu bisa berkarat!

Baca:  Ramadhan untuk Surga

Tentang kekuasaan yang banyak diimpikan dan dipertahankan orang. Memang bisa dimaklumi. Konon, kekuasaan itu seperti sebuah alat yang bisa merealisasikan apapun keinginanmu. Bahkan seorang bijak, entah sedang menyindir atau tidak, pernah berkata: “kekuasaan adalah kekuatan dimana mimpi yang paling mustahil pun bisa di genggam olehnya!”.

Kekuasaan dan mimpi, keduanya memang saling terkait, kita memimpikan kekuasaan dan kekuasaan memberikan impian. Lalu ketika seseorang bertanya “manakah yang lebih baik, dikuasai atau menguasai ?”. kalau mau jujur, tentu saja, banyak diantara kita yang memilih jadi penguasa daripada dikuasai. Dalam kisah Thinker Od The East yang ditulis Idries Shah. Dharwish, tokoh dalam cerita tersebut, memiliki jawaban yang lain. Ia lebih memilih menjadi orang yang dikuasai daripada menjadi penguasa. Mengapa ?

Baca:  Terindah Yang Tersimpan

“Orang yang dibawah kekuasaan orang lain akan senantiasa diberi tahu oleh yang berkuasa bahwa ia salah, baik ia memang benar-benar bersalah atau tidak. Ini memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri, sementara orang yang berkuasa hampir selalu membayangkan dirinya atau peraturannya benar, sehingga ia pun hanya punya sedikit kesempatan untuk menelaah tingkah lakunya sendiri”.

Benar juga. Kekuasaan memang seringkali membuat orang lupa dengan tingkah lakunya sendiri. Banyak penguasa yang sibuk mengurusi moral orang lain, tapi ia sendiri lupa bahwa tingkah lakunya sendiri sangat konyol. Banyak penguasa yang terbukti gagal mengurusi masyarakat tapi tetap ngotot berkuasa karena tak pernah mau bercermin pada kenyataan. Ia hanya mau melihat mimpi, hanya mau berjingkrak-jingkrak di kursinya yang empuk sambil meniup-niup dasinya yang panjang.

Baca:  Mau Masuk UI? Ini Beberapa Jalur Masuk UI Selain SNMPTN dan SBMPTN

Karena itu rasanya sudah saatnya kita menghadirkan sebuah sistem yang dapat memberikan kesempatan lebih banyak kepada penguasa untuk ‘menelaah dirinya sendiri’. Atau kalau ada cermin besar, boleh lah kepada para penguasa itu kita berikan satu-satu. Setidaknya agar mereka bisa bercermin diri agar selalu rapih dan klimis.