Oleh : Shintawati Octaviani
BOGOR,LIPUTANBOGOR.COM – Dari hasil sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui bahwa salah satu generasi yang mendominasi jumlah penduduk Indonesia hingga 2020 adalah generasi milenial. Generasi ini ada yang berprofesi sebagai penyuluh, petani, pustakawan, peneliti, akademisi, enterpreuneur serta ASN, mereka berpotensi menjadi target pengguna Perpustakaan, Bagaimana kiat agar perpustakaan dapat digemari oleh generasi tersebut?
Seperti di lansir oleh Media Online Tempo.co.id (8/03/2021) yang menyebutkan bahwa hasil sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui jumlah penduduk generasi milenial mencapai 69,90 juta jiwa atau 25,87 persen. Untuk dapat menggaet generasi ini bagaimana caranya?
Sebelum melakukan strategi, para pengelola harus dapat memahami bagaimana hubungan antara generasi milenial dan perpustakaan, diungkap oleh CNN yang menyebutkan bahwa generasi milenial adalah generasi yang menduduki peringkat pertama (53 %) sebagai pengunjung perpustakaan. Hal ini bisa menjadi dasar untuk mengembangkan perpustakaan menjadi lebih baik lagi dengan menggaet generasi milenial.
Pakar Media Sosial yang juga Director Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, mengungkapkan bahwa selain menghubungkan generasi milenial dengan perpustakaan, perlu juga di amati inovasi perpustakaan yang dibutuhkan oleh generasi ini, bagaimana cara milenial mencari buku? menurutnya rekomendasi dan review menduduki peringkat tertinggi, kemudian peringkat kedua adalah media sosial, selanjutnya mencari buku melalui aplikasi menduduki peringkat ketiga, kemudian mencari buku melalui web, selanjutnya para milenial juga mencari buku melalui toko buku, peringkat terakhir para milenial juga mencari buku melalui komunitas online.
Berdasarkan fenomena tersebut sangat terlihat jelas bahwa generasi milenial terbiasa mendapat informasi dan referensi dari media sosial dan jaringan pertemanan, untuk itulah sudah selayaknya para pengelola perpustakaan melek teknologi, menjadikan peluang menjadi tantangan dengan memanfaatkan apa yang menjadi kebiasaan para generasi milenial.
Tidak dapat dipungkiri perkembangan teknologi dan modernisasi perkembangan zaman menuntut para pengelola harus berinovasi menemukan flatfoam yang cocok untuk generasi milenial, sebuah inovasi layanan baru berbasis flatpoam sosial sangat dibutuhkan, salah satu contohnya adalah pemanfaatan goodreads, dengan pemanfaatan flatfoam ini perpustakaan tidak perlu membuat inovasi layanan dengan membangun teknologi baru. Dengan Flatfoam ini perpustakaan dapat terhubung dengan milenial melalui goodreads.
Selanjutnya perpustakaan juga dapat memanfaatkan flatfoam lain yang banyak digunakan oleh generasi milenial seperti youtube, whatsapp, facebook, Instagram, line, twitter. Untuk menarik perhatian para generasi milenial perpustakaan dapat menampilka konten-konten menarik seperti menghadirkan sisi tampilan wajah perpustakaan paling bagus, hadirkan konten terbaik atau terfavorit yang disukai generasi milenial, selanjutnya tunjukan koleksi buku yang dimiliki, selanjutnya berikan pelayanan yang terbaik dengan menghadirkan staf yang good looking dan ramah, selanjutnya informasikan layanan yang diberikan perpustakaan adalah dengan membuat video-video pendek terkait layanan peepustakaan, selain itu para pengelola perpustakaan juga dapat membuat review buku secara berkala selanbjutnya kumpulan review tersebut bisa dibuat menjadi buku.
Untuk lebih menarik perhatian generasi milenial, para pengelola perpustakaan juga dapat berinovasi dengan menciptakan teknologi yang mungkin masih jarang di gunakan oleh perpustakaan pada umumnya, perpustakaan dapat membuat augmented reality (AR) melalui berbagai koleksi, ada satu sisi menarik ketika perpustakaan menghadirkan teknologi ini selain mendapatkan informasi dan memperoleh kemudahan, para generasi milenial juga akan mendapat hiburan.
Generasi milenial merupakan generasi yang tidak bisa lepas dari gadget, meski demikian untuk urusan membaca buku, mereka masih lebih memilih membaca buku tercetak dari pada ebook. Perpustakaan konvensional harus mengikuti perkembangan jaman serta mampu menggaet para generasi millenial, bagaimana caranya? Cara yang paling sederhana adalah dengan memberikan layanan yang lengkap sepertiakses internet, tempat yang nyaman serta koleksi buku yang lengkap. Dengan begitu para generasi milenial akan betah berlama-lama di perpustakaan.
Selanjutnya terkait konsep tersebut apa yang sudah dilakukan Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA) sudah cukup beragam, mulai dari mengembangkan flatfoam media sosial seperti youtube, facebook, serta IG, pada flatfoam ini Pustaka sudah senantiasa hadir memberikan informasi digital dengan memberikan informasi menarik berupa video maupun infografis, modal ini dapat dijadikan sebagai dasar PUSTAKA dalam mengembangkan perpustakaan berbasis digital, selanjutnya PUSTAKA juga sudah mengembangkan informasi perpustakaan berbasis aplikasi android ITANI, dimana para generasi milenial dapat membaca dan meminjam buku hanya dalam gengaman.
Selain itu PUSTAKA juga sudah memiliki layanan berbasis web berupa repositori pertanian yang berisi publikasi terbitan Kementerian Pertanian. Layanan repository ini merupakan layanan andalan PUSTAKA dimana layanan ini sudah berhasil menggaet pengunjung lebih dari 5.000 pengunjung per hari. Dari semua flatfoam yang disarakan oleh Ismail Fahmi, yang belum dilakukan PUSTAKA adalah menggaet generasi milennial melalui twitter dengan konten-konten kreatif berupa hastag-hastag menarik, yang kedua flatfoam jaringan sosial yang belum dimanfaatkan PUSTAKA adalah flatfoam sosial goodreads, tim tata kelola TI dan Promosi Iptek baru akan menggarapnya tahun ini serta membenahi konten perpustakaan melalui twitter dengan membantu menghadirkan hastag-hastag menarik.
Kemudian hal yang masih perlu diskusi lebih lanjut adalah mencipatakan inovasi Augmented Reality (AR), konsep AR cocok diterapkan di unit layanan Perpustakaan Pengetahuan Pertanian Digital (P3D), didukung dengan kondisi bangunan yang modern serta berbasis digital, konsep AR cocok diterapkan di unit layanan ini. Selain memanfaatkan flafoam sosial, PUSTAKA juga sudah membuat review buku hanya saja review buku belum dibuatv berkala dan dibukukan kembali. Untuk perpustakaan konvensional PUSTAKA sudah memiliki tempat yang nyaman hanya perlu penambahan beberapa fasilitas yang dapat menarik perhatian generasi milenial, seperti penyediaan tablet dan fasilitas pendukung lainnya seperti café atau coffe corner.
Editor : Dadan Gandara
Sumber : Shintawati Octaviani





