Beranda Opini

Kemuliaan Perempuan Islam

Foto : Dream.co.id

Oleh: INTAN (Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor)

Bismillahirrahmanirrahim,

Masyarakat India dalam Encyclopedia Britanica mengemukakan, Di India, kepatuhan merupakan prinsip yang paling utama. Siang dan malam perempuan harus dijaga dan tergantung kepada penjaganya dan peraturan hak waris merupakan bagian keturunan laki-laki dimana hubungan darah melalui laki-laki yang cenderung mengabaikan perempuan.

Di Athena, kedudukan perempuan tidak lebih baik daripada di India dan Romawi. Perempuan Athena selalu berada di posisi yang lebih rendah (minor) tunduk terhadap laki-laki baik kepada ayah mereka, saudara laki-laki mereka, atau keluarga laki-laki mereka. Persetujuannya untuk menikah secara umum tidak dipandang perlu dan dia berkewajiban untuk patuh terhadap keinginan orang tuanya dan menerima suaminya ataupun tuannya meskipun dia adalah orang asing baginya.

Dalam Encyclopedia Britanica, kita menemukan ringkasan mengenai status legal perempuan dalam masyarakat Romawi. Dalam hukum Romawi, perempuan dalam masa sejarah sangat tergantung sepenuhnya. Jika menikah, dirinya dan hartanya berpindah tangan dalam kekuasaan suaminya dan seorang isteri merupakan harta yang dapat diperjualbelikan bagi suaminya, dan layaknya budak hanya dibutuhkan untuk sebuah keuntungan.

Perempuan tidak dapat bekerja di sektor publik, tidak dapat menjadi saksi, penjamin, pengajar, kurator, dan dia tidak dapat mengadopsi atau diadopsi, membuat surat wasiat atau kontrak. Ruang gerak perempuan sangat terbatas dan cenderung di batasi oleh kaum laki-laki masa itu.

Baca:  Tentang Pemuda Islam

Perempuan dalam I S L A M:

  • Aspek Spiritual

Al-qur’an sudah memberikan bukti yang nyata bahwa perempuan benar-benar setara dengan laki-laki di mata Allah sesuai hak-hak dan kewajibannya. Dalam Al-qur’an dinyatkan: “Tiap-tiap diri bertangung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al-Mumtahanah:38)

 “Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. Maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs An-Nahl: 9)

  • Aspek Sosial

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Barangsiapa yang memiliki anak perempuan dan tidak menguburkannya hidup-hidup, tidak mempermalukannya, dan tidak melebihkan anak laki-laki atasnya. Sesungguhnya Allah akan memasukannya ke dalam syurga.” (HR Ahmad)

Selain kemuliaan mempertahankan anak perempuan, mereka juga memiliki hak untuk mencari ilmu yang tidak berbeda dengan laki-laki. Rasulullah Saw bersabda: “Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim laki-laki dan Muslim perempuan.” (HR Al-Baehaqi)

Baca:  TIDAK MENGAPA

Kemuliaan sebagai seorang Istri, sebagai seorang isteri Al-qur’an jelas sudah menunjukan bahwa perkawinan atau pernikahan memiliki tujuan untuk meneruskan generasi manusia. Pernikahan adalah untuk pelepasan kebutuhan emosional dan keseimbangan spiritual. Dengan landasan cinta dan kasih sayang.

Menurut hukum Islam seorang perempuan tidak boleh dipaksa untuk menikah tanpa persetujuannya. “Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa seorang perempuan datang kepada Rasulullah dan dia menceritakan bahwa ayahnya telah memaksanya untuk menikah tanpa persetujuannya. Rasululullah Saw memberinya dua pilihan antara menerima pernikahan itu atau membatalkannya.” (HR Ahmad)

Selain itu, telah diperintahkan secara khusus bahwa perempuan memiliki hak penuh atas maharnya, hadiah perkawinan yang diberikan kepadanya oleh suaminya yang mana hal tersebut termasuk ke dalam akad perkawinan dan kepemilikan tersebut tidak dapat dipindahkan kepada ayahnya atau suaminya. Konsep mahar Islam bukan merupakan simbolis sebagaimana yang terdapat dalam beberapa budaya. Namun, lebih kepada sebuah hadiah yang melambangkan cinta dan ketertarikan.

Sebagai Ibu, Seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad dan bertanya: “Ya Rasulullah, siapa diantara manusia yang paling berhak aku pergauli dengan baik? Rasulullah menjawab, Ibumu. Laki-laki itu bertanya lagi, kemudian siapa? Rasulullah menjawab, Ibumu. Dia bertanya lagi, lalu siapa lagi? Rasululullah kembali menjawab, Ibumu. Dia bertanya lagi, kemudia siapa? Rasululullah menjawab, kemudian ayahmu.” (HR Bukhari Muslim)

  • Aspek Ekonomi

Islam menetapkan hak yang hilang dari perempuan pada masa sebelum Islam dan sesudahnya (bahkan sampai abad ini), hak kepemilikin independent. Menurut hukum Islam, hak-hak perempuan terhadap uang, real estate, dan jenis harta lainnya diakui secara penuh. Hak ini berjalan tanpa perubahan apakah dia berstatus belum menikah atau sudah menikah.

Baca:  Mereka adalah Pemuda

Dia memiliki hak untuk membelanjakan, menjual, menggadaikan atau menyewakan apa saja dari hartanya. Tidak akan ditemukan dimanapun dalam hukum Islam yang menunjukan bahwa perempuan berkedudukan rendah hanya karena dia seorang perempuan. “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya. Dan bagi perempuan ada hak bagian pula dari harta peninggalan ibu bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut aturan yang sudah ditetapkan.” (QS An-Nisa: 7)

Wallahu ‘alam….