Beranda Opini

Komitmen Sang Musuh Abadi

Oleh : Ahmad Wildan

Manusia merupakan makhluk Istimewa, sejak pertama kali penciptaannya manusia sudah membuat gempar makhluk-makhluk lainnya. Para malaikat langsung mempertanyakan perihal penciptaan Adam kala itu kepada Allah subhanau wata’ala (Al-Baqarah:30). Yang kemudian Allah subhanahu wata’ala jawab dengan menunjukan langsung kemampuan Adam kepada para malaikat (Al-Baqarah: 31). Dan seketika membuat mereka tertunduk malu mengakui keistimewaan Adam sebagai manusia pertama. Suasana khidmat dalam menyambut penciptaan Khalifah di muka bumi itu sedikit tercoreng dengan sikap sombong dan angkuh dari Iblis yang tak mau mengakui keistimewaan manusia. Rasa hasad dan dengkinya terlalu besar, sehingga membuat Iblis enggan untuk bersujud kepada Adama alaihi salam (Al-Baqarah:34) yang mana itu merupakan perintah Sang Penciptanya. Allah subhanahu wata’ala akhirnya menvonis Iblis sebagai makhluk terkutuk yang akan kekal menjadi penghuni neraka akibat pembangkangannya terhadap perintah Allah tersebut (Al-hijr:34-35). Tidak berhenti sampai disitu, Iblis justru kemudian mendeklarasikan permusuhan abadi kepada Allah dan manusia, dengan kalimat tegas dan arogan sang Iblis berkata “ Tuhanku, oleh karenanya Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, maka aku pasti akan jadikan kejahatan terasa indah bagi mereka (manusia) di bumi, dan akan aku sesatkan mereka semuanya”.(Al-Hijr: 39). Komitmen inilah yang menjadi tonggak awal permusuhan antara Iblis dan manusia. Dimana Iblis akan berusaha dengan segenap tipu dayanya untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Dari jalan ketaatan dan kepatuhan pada perintah Allah menuju pada jalan kegelapan (Al-Baqarah:257). Jalan yang penuh dengan kemaksiatan dan pembangkangan terhadap apa yang Allah perintahkan. Semua agar semakin banyak manusia yang berbuat kemaksiatan dan kerusakan di muka bumi, dan kelak menemani Iblis menjadi penghuni neraka jahannam naudzu billahi min dzalik. Misi penyesatan dan permusuhan ini yang kelak terus dipropagandakan oleh Iblis dan para pengikutnya dari kalangan jin dan manusia hingga hari kiamat nanti.

Baca:  Akhlak Terhadap Informasi

Dalam setiap lekuk dan sisi kehidupannya, seorang muslim akan selalu berhadapan dengan bujukan, rayuan, dan hasutan syaitan untuk melenceng dari apa yang telah Allah subhanahu wata’ala tetapkan sebagai petunjuk baginya. Hal ini yang terkadang hilang dari pembahasan kita mengenai berbagai landasan dan konsep kehidupan kita sebagai manusia. Bahwa kita adalah manusia yang diciptakan untuk menjalankan peran penghambaan (Adz-Zariyat : 56) sekaligus peran kepemimpinan (Al-Baqarah: 30) sebagai Khalifah di muka bumi. Yang dalam implementasinya, seorang manusia (khalifah) punya tanggung jawab untuk memastikan bahwa seluruh aspek kehidupan umat manusia harus sejalan dan selaras dengan aturan Allah subhanahu wata’ala. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa semua peran dan usaha itu akan mengalami banyak sekali perlawanan dan penentangan dari para pengikut Iblis baik dari kalangan jin ataupun manusia. Maka tidak heran jika dalam kehidupan kita dewasa ini kita temukan banyak sekali konsep dan sistem di berbagai lini kehidupan yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang Allah tetapkan. Dalam kehidupan politik, kita dipaksa menerima sistem pemerintahan yang tidak menjadikan pedoman Tuhan sebagai rujukan utamanya. Sehingga fungsi politik yang seharusnya bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan bagi seluruh manusia, justru menjadi boomerang yang menciptakan kesenjangan dan permusuhan diantara manusia itu sendiri.

Baca:  Kembali ke Tujuan Pendidikan

Dalam kehidupan ekonomi, kita dikelabui oleh sistem kapitalis yang sangat menggiurkan, namun justru belakang kita dapati sebagai sistem ekonomi yang paling berkontribusi dalam berbagai tindak kejahatan moral dan sosial diantara manusia. Dalam tataran sosial budaya, kita didoktrin untuk menerima gaya hidup sekuler dan liberal dengan alibi kemajuan zaman dan globalisasi yang jelas substansinya adalah kebebasan yang bablas dan sangat merusak nilai-nilai dan tatanan moral/akhlak kita sebagai manusia. Dan berhasil membuat kita lebih berorientasi pada kehidupan materialisme dan hedonisme nan jauh dari tujuan ukhrowi yang kekal dan abadi. Inilah komitmen Iblis dan para pengikutnya, untuk menyesatkan sebanyak-banyaknya manusia agar melenceng dari jalan ketaatan pada Allah subhanahu wata’ala. Dan jika kita telah menjadikan hal ini sebagai dasar pemikiran kita dalam menghadapi berbagai problematika hidup, maka tentulah solusi terbaik dari semua itu adalah kembali pada kemurnian Islam yang telah Allah berikan kepada kita semua agar menjadi benteng terhadap gangguan syaithan. AW