Beranda Opini

Mahasiswa Belajar di Rumah! Apa Bisa?

Oleh : Roki Syadad – Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Ibn Khaldun Bogor

LIPUTANBOGOR.COM – Pada saat ini, keadaan yang kita jumpai di dalam masyarakat bisa dikatakan menjadi keadaan yang mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, kita menuntut tubuh kita agar tetap melakukan aktivitas demi mencukupi kebutuhan hidup dimana kegiatan lebih diprioritaskan di rumah. Begitupun diantara kita yang berstatus sebagai mahasiswa. Mahasiswa di Indonesia saat ini melakukan daring dalam pembelajarannya dan tidak ada yang tahu sampai kapan keadaan ini akan usai.

Di Indonesia sendiri, tercatat dalam Badan Pusat Statistik menempuh angka hampir 7,30 juta mahasiswa PTN dan PTS dalam 2 tahun silam. Apa yang mereka lakukan saat keadaan seperti ini? Ya, lagi-agi all about covid 19.

Mengacu pada Surat Edaran Kemendikbud Nomor 40 Tahun 2020 Tentang “Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19),” Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, mengambil sejumlah kebijakan untuk menghadapi pandemi. Kebijakan tersebut diantaranya adalah dengan pelaksanaan daring oleh instansi kampus di seluruh Indonesia. Saya berfikir, tentu ini akan mengasyikkan karena bisa lebih bebas di rumah. Ternyata pikiran saya berbalik kepada keadaan yang di alami saat ini.

Baca:  Mahasiswa dan Santri Manfaatkan Penyedia Aplikasi Alquran Digital

Pada awalnya keadaan terasa mengasyikkan, namun ternyata semakin lama justru malah menambah masalah dalam prosesnya. Seperti mengeluhkan sinyal internet yang tidak stabil ketika sedang mengikuti perkuliahan secara daring, sehingga banyak materi yang tidak dipahami akibat terputusnya jaringan internet.

“Tempat saya agak susah sinyal, makanya banyak materi yang kadang-kadang tidak jelas, tambah lagi saya harus menyediakan kuota tiap harinya, kadang saya membeli kuota tiap minggu, kadang juga tiap hari, karena kuliah online itu memakan kuota lumayan banyak dan kami mahasiswa harus meminta uang kepada orang tua,” ujar Penulis.

Membahas sinyal, kampus pun tidak ada tindakan solutif  begitu pun dengan pemerintah. Ya, sekali lagi All about covid 19, kalau kita bermain keluar kita dikira tidak peduli akan kondisi. Namun jika kita di rumah, kita dikira tidur sambil bermalas-malasan dan tidak memperdulikan kuliah. Disisi lain, dosen pun merindukan pendekatan yang biasa dilakukan saat kuliah offline, tidak bisa bersilaturahim dengan murid-muridnya.

Silaturahim yang kita bangun pada saat pandemic saat ini bisa saja dilaksanakan. Namun kami harus mengorbankan keadaan, hanya dengan melalui video call, google meet, zoom meeting, dan aplikasi lainnya. Ah sungguh membosankan, tidak bisa bersalaman, saling cakap bertatap mata, jahil kepada teman sebangku, tidak dapat mengetahui ekspresi real dari teman sahabat dan pacar kita. Pertanyaanya, apa yang terjadi diluar Negara kita?

Baca:  Jalin Silaturahmi, BFM Swadek Indonesia Apresiasi BFM Buitenzorg Bogor

Setelah 76 hari melakukan lockdown, dan tidak ditemukan kasus positif baru, sejak bulan Mei lalu, di Wuhan, Tiongkok, sudah berangsur-angsur kembali ke sekolah. Sedikit demi sedikit, pemerintah membuka kembali lembaga pendidikan mulai dari TK hingga kampus. Kurang lebih ada 39% murid yang telah kembali melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah.

Sementara di Prancis, bahwa saat ini ada 70 ribu orang yang masih mengikuti kelas online. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan akan ada 500 ribu murid yang terancam DO. Kemungkinan ini yang bikin si Menteri lumayan concern untuk mempertimbangkan buka sekolah kembali. Meskipun, tentu aja dengan melihat zona/daerah yang aman dari covid dan mengikuti peraturan ketat. Sekolah di La Grand-Croix dan Val-de-Reull, misalnya, murid-murid harus mengenakan masker dan face shield selama berkegiatan. Doubel tuh,asker iya, face shield iya. Di beberapa sekolah kanak-kanak, lapangannya sampai ada tanda kapur untuk melakukan social distancing.

Kita bisa menarik kesimpulan dari 2 negara di atas, solusi bisa kita dapatkan agar pembelajaran offline bisa dilakukan kembali adalah yang paling utama berdoa. Dan yang kedua lebih membuat media menganggap kita bisa lho belajar offline, dengan catatan, kampus memenuhi syarat protokol dan juga pengamanan yang intensif.

Baca:  Anekdot dan Kritik Masa Kini

Seandainya mahasiswa di Indonesia serempak dalam berfikir seperti itu, pastinya akan membuat negara kita memandang bahwa statement yang publik bangun perlu di pertimbangkan juga.

Kalaupun memang tidak bisa, ada beberapa tips agar kita tidak bosan saat daring, seperti mencari kesibukan. Dengan membaca buku ilmiah atau non ilmiah, bermain dengan teman di sekitar rumah, kerja kelompok di cafe bersama teman2 dalam mengerjakan tugas kuliah dengan catatan, tetap melaksanakan protokol kesehatan.

Berhubung banyak waktu luang di rumah, bisa juga dengan memperdalam skill yang kita miliki seperti bermain gitar, belajar mengaji secara otodidak, nonton film, mendengarkan musik dan enjoy the life.

Selama kita bersyukur dan mengerti akan esensi dari takdir, kita akan selalu berhusnudzon kepada Allah akan ketetapannya. Intinya harus belajar agama agar kita selalu dalam ketenangan dalam kondisi apapun dan dimanapun. Insya Allah dengan Allah, dunia kita tidak akan membosankan apalagi masalah daring seperti ini.