Beranda Opini

Malu jadi Benalu

Oleh : Sovia Agustina

Apa yang terbesit dalam hati anda ketika mendengar nama benalu ?

Tentu yang terbesit dihati adalah makhluk yang selalu menggantungkan hidupnya kepada oranglain.

Yups, itu adalah julukan untuk orang yang tidak bisa mandiri.

Saat ini banyak sekali kalangan pemuda zaman now yang masih saja bergantung pada orangtua, padahal umur sudah tidak bisa lagi dibilang remaja apalagi anak-anak. Pola hidup modern yang membuat mereka menjadi generasi yang cengeng dan memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap pertolongan orang lain. Mental perjuangan mereka semakin hari semakin terkikis. Hingga kini kita masih banyak menyaksikan beberapa anak muda yang dengan asiknya menikmati fasilitas orangtuanya. Mereka menjadi manja, sebab fasilitas yang diberikan membuat hidup mereka menjadi lebih mudah.

Baca:  Kemuliaan Perempuan Islam

Mereka mungkin bisa sekolah dasar sampai perguruan tinggi dengan mudah, dan tentunya enjoy-enjoy aja. Menurut saya itu sangat wajar. Kenapa ? karena segala fasilitas sudah bisa dimilikinya tanpa susah payah. Ada pula yang menyia-nyiakannya, padahal disisi lain kita juga menyaksikan ada banyak sekali anak muda yang ingin sekolah sampai perguruan tinggi namun terhalang oleh biaya.

Saya salut kepada mereka yang berjuang meraih impian muluknya walaupun keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk merealisasikan mimpinya. Mereka berjuang, bekerja keras, berkorban , demi meraih cita-citanya yang diinginkan.

Baca:  Implementasi Pemikiran Ekonomi Al-Mawardi Era Pemerintahan Indonesia Saat Ini

Seperti contoh teman saya dikampus, dia selalu berusaha sekuat tenaga untuk membiayai hidupnya tanpa meminta kepada orangtuanya. Bahkan saat ini dia bekerja sebagai petugas kebersihan dikampus, disambi jualan makanan, minuman, pulsa, flashdisk , kalkulator dan lain sebagainya asalkan itu halal. Aura semangat untuk mencari rezeki nya sampai saya menggeleng-gelengkan kepala keheranan.

Sempat saya menanyakan kepadanya perihal alasan yang membuatnya sesemangat itu. Jawabannya sederhana tetapi mampu membuat saya sadar dan tertegun malu, “Walaupun saya mahasiswa penerima beasiswa 100% di STEI SEBI, tapi saya juga butuh biaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya bekerja nyambi jualan buat kebutuhan saya supaya saya gak minta sama orangtua lagi. Saya juga udah janji sama diri sendiri, kalo semester tiga saya masih minta sama orangtua lebih baik saya berhenti kuliah karena saya tidak mau membebankan mereka terus menerus”.

Baca:  DIZAMAN INI MASIH ADA DAERAH YANG TAK TERJAMAK JARINGAN TELEKOMUNIKASI

Kawan, ia tak ingin menjadi beban bagi manusia lain, mental kemandiriannya sangat kuat. Ia tak mau diusia mudanya justru menjadi beban bagi orang lain. Ia bertekad untuk tidak menjadikan dirinya sebagai benalu bahkan ia bertekad agar bisa menjadi perantara kesejahteraan keluarganya.

“Mandiri merupakan akhlak yang sangat dihargai oleh Tuhan. Orang yang mandiri akan terjaga martabatnya. Orang yang mandiri akan dihargai oleh sesamanya” (Ahmad Rifai Rifan).