Beranda Opini

Maqoshid Syariah

Oleh : Fabela Tri Wardani (Mahasiswi STEI Sebi, Depok)

Maqoshid yang berarti tujuan atau target. Allah swt tidak menciptakan sesuatu kecuali untuk tujuan tertentu, Ia juga memberi atau tidak memberi kecuali untuk target tertentu, begitu pula Ia tidak menambah atau mengurangi sesuatu kecuali atas hikmah tertentu pula.

Dalam praktik bisnis harus dikaitkan dengan maqoshid syariah supaya tidak bertentangan dengan hajat manusia. Karena dalam praktik bisnis harus memenuhi hajat dan kepentingan manusia baik hajat mereka sebagai pembeli, penjual, dan lain sebagainya. Terdapat beberapa praktik yang bertentangan dengan maqashid syariah yaitu seperti praktik hilah ribawial (rekayasa atau tipu daya). Praktik ini adalah praktik ribawi yang terlarang karena bertentangan dengan maqoshid syariah.

Baca:  #Dirumahaja? Mari Kita Bantu Pedagang Kecil Dimasa Pandemi COVID-19

Agar lebih tahu lagi tentang maqoshid syariah harus mengetahui kaidah-kaidah maqashid syariah sebagai berikut :

Kaidah pertama, seluruh ketentuan syariah memiliki maksud (maqashid)
Jadi seluruh ketentuan-ketentuan Allah itu mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Contoh pada surat At-Taubah : 103, ayat tersebut menegaskan bahwa zakat itu disyariatkan dengan tujuan tertentu yaitu untuk pembiasaan diri agar terbiasa memberi dan bersedekah.

Kaidah kedua, taqshid (menentukan maqashid atau tujuan) itu harus berdasarkan dalil
Dalam menentukan maqashid atau tujuan syariah itu harus berdasarkan dalil. Karena menetapkan suatu maqashid syariah atas hukum tertentu sama halnya menetapkan sebuah perkataan atau hukum kepada Allah swt. Jadi jika maqashid syariah tidak berdalil, maka itu sama halnya berdusta kepada Allah swt.

Baca:  Optimalisasi Dana Zakat untuk Pemberdayaan UMKM Mustahik di Tengah Wabah Virus Corona

Kaidah ketiga, menerbitkan mashlahat (kebaikan) dna mafsadat (keburukan)
Mashlahat dan mafsadat itu mempunyai tingkat urgensi dan kepentingan yang berbeda-beda. Misalnya dalam kebutuhan manusia.

1. Ada yang bersifat dharuriyat (primer) yaitu kebutuhan yang jika ditinggalkan maka akan membuat kehidupan menjadi rusak. Contoh seperti ketika lapar dalam keadaan sedang dihutan dan tidak mempunyai makanan, jika tidak dipenuhi maka akan mengancam hidup. Tetapi Allah itu tidak mempersulit hambanya. Maka dari itu dalam keadaan seperti itu diperbolehkan makan sesuatu yang haram karna untuk kemashlahatan hidup.
2. Ada yang bersifat hajiyat (sekunder), yaitu kebutuhan yang meringankan beban kesulitan setiap manusia. Jadi jika tidak dipenuhi tidak apa-apa. Contohnya seperti saat ingin pergi kesuatu tempat yang seharusnya naik motor, tapi karna adanya sepeda jadi tidak apa-apa.
3. Ada yang bersifat tahsiniyat (tersier), yaitu kebutuhan pelengkap. Seperti AC atau kipas angin kalau tidak ada tidak apa-apa.

Baca:  Mereka adalah Pemuda

Kaidah keempat, membedakan antara maqashid (tujuan) dan wasa’il (sarana) dalam setiap ketentuan Allah
Contoh dalam kehidupan, seperti saat kita mempunyai tujuan untuk beribadah kepada Allah sarana yang kita lakukan adalah dengan melaksanakan shalat, puasa, sedekah, ataupun yang lainnya. Ada pula contoh ketika tujuan kita ingin membeli makanan sarananya bisa dengan pergi sendiri untuk membelinya atau dengan memesan grabfood.

Jadi dalam melakukan apapun, ketentuan apapun, atau dalam aspek apapun harus dikaitkan dengan maqoshid syariah.