Beranda Opini

Kaidah-Kaidah Akad Wakalah

Terdapat banyak sekali akad berbasis syariah, salah satunya adalah akad wakalah. Akad wakalah merupakan pelimpahan kekuasaan oleh seseorang sebagai pihak pertama kepada orang lain sebagai pihak kedua dalam hal-hal yang diwakilkan. Lebih mudahnya akad wakalah yaitu menjadi wakil yang bertindak atas nama orang yang diwakilinya. Dalam setiap akad berbasis syariah pasti terdapat kaidah-kaidahnya. Begitupun dengan akad wakalah. Kaidah kaidah akad wakalah yaitu sebagai berikut :

1.      Kaidah :  طَلْقُ ا لَّوْكِيْلِ لَايَمْلِكُ الْوَكِيْلُ ااتَبَرُّعَ

Artinya : Wakalah multlak tidak memberi kekuasaan bagi seorang wakil untuk  mengadakan akad hadiah.

Ketika seseorang menitipkan hartanya kepada seorang wakil untuk tujuan menjual, membeli, menyewa atau tujuan tertentu tanpa menjelaskan cakupan wakalahnya, maka yang demikian itu dianggap bahwa si wakil tidak bisa menggunakan harta titipan itu untuk dijadikannya sebagai hadiah.

2.      Kaidah : الوَكِيْلُ بِالْعَقْدِ فِيْمَاهُوَمِنْ حُقُوْقِ الْعَقْدِ مَنْزِ لَةُ الْعَاقِدِ نَفْسُهُ

Artinya : Dalam hal akibat dan hak-hak dalam akad wakalah, seorang wakil berkedudukan seper orang yang diwakilinya.

Baca:  Sang Bapak Robotika Modern

Ulama Mazhab Hanafi memberikan aturan bahwa seorang wakil akan sama posisinya dengan orang yang diwakilinya dalam hal yang berkenaan dengan hak, akibat dan tanggungan-tanggungan sebuah akad.

Misalnya, akibat dari sebuah akad jual beli adalah pemindahan kepemilikan atas barang dari penjual ke pembeli, dimana tanggungan dan hak akadnya adalah : serah-terima objek akad, tuntutan pembayaran, penggunaan hak untuk memilih jadi atau tidaknya membeli apabila ada cacat dalam barang, hak menginspeksi dan mengembalikan barang apabila ada tuntutan ulang. Hak-hak dan tanggungan-tanggungan ini ada pada si wakil, bukan pada orang yang diwakilinya. Artinya, si wakil bertanggungjawab untuk menerima barang dari penjual, menyerahkan pembayaran kepadanya, dan mengembalikan barang itu pada penjualnya apabila terdapat cacat dalam barang tersebut. Semua hak ini dimiliki oleh si wakil, bukan oleh orang yang diwakilinya. Si wakil sendiri yang dapat dituntut untuk membayar harga barang, bukan orang yang diwakilinya.

Dalam transaksi seperti itu, hak dan tanggungan akad ada di tangan si wakil. Misalnya, dalam satu akad jual-beli, si wakil sendirilah yang dapat menuntut pembayaran itu kepada pembeli. Apabila orang yang diwakili menuntut pembayaran itu kepada pembeli, maka pembeli tidak bisa dipaksa untuk menyerahkan bayaran kepadanya.

Baca:  Perempuan-perempuan yang Dirindu Surga

3.      Kaidah : مَنْ لَايَجُوْزُ تَصَرُّفُهُ لَايَجُوْزُ تَوْكِيْلُهُ وَلَا وَكَالَتُهُ

Artinya : Seseorang yang tidak berkompeten untuk melakukan sebuah akad, tidak dapat menjadi wakil dan tidak pula dapat mengangkat seorang wakil.

Ketika seseorang tidak kompeten melakukan akad untuk dirinya sendiri, maka ia tidak dapat mengangkat orang lain untuk menjadi wakil dalam sebuah akad, dan dia juga tidak dapat menjadi wakil bagi orang lain untuk melakukan tindakan hukum tertentu. Misal, apabila seseorang dinyatakan bangkrut oleh lembaga judisial, dan dilarang untuk melakukan akad-akad transaksi di masa mendatang, maka dia tidak bisa mengangkat seorang wakil untuk melakukan transaksi tertentu.

4.      Kaidah :  الٲَصْلُ ٲَنَّ الْٳِجَا زَةَ اللَّاحِقَةَ كَالوَكَالَةِ السَّا بِقَةِ

Artinya : Sebuah tindakan yang diratifikasi setelahnya sama dengan tindakan yang dilakukan dalam akad wakalah.

Baca:  Pebisnis Yang Kreatif Dan Inovatif

Kaidah ini berlaku pada ranah yang dikenal dalam fiqh sebagai tindakan “al-fudhuly”, yakni tindakan seseorang yang menjadikan dirinya sebagai wakil. Fudhuly adalah orang yang melakukan satu akad untuk orang lain dengan maksud baik namun tanpa kewenangan yang seharusnya. Ulama mazhab Hanafi dan Maliki menganggap sah akad fudhuly. Akan tetapi menurut mereka, akibat dari akad tersebut ditunda sampai diratifikasi oleh orang yang diwakilinya.

Misalnya apabila seseorang membayar tagihan listrik untuk tetangganya tanpa persetujuannya, tanpa sepengetahuannya, atau tanpa kewenangan darinya, dan kemudian si tetangga mengganti jumlah bayaran itu kepadanya, maka tindakan itu dikenal dengan akad wakalah dengan ratifikasi.

 

Biodata

Nama                                       : Fabela Tri Wardani

Tempat, Tanggal Lahir            : Bogor 28 Februari 2000

Alamat                                    : Jl. Roda Pembangunan, Gang Assalam 1, Rt 06/06, No 06, Nanggewer, Cibinong, Bogor.

Perguruan Tinggi                     : STEI SEBI

Hobi                                        : Menulis dan mendaki

Email                                       : Fabelatri@gmail.com