Beranda Opini

Pacaran Bukan Pra Nikah Umat Islam

Di kalangan remaja sekarang, kata pacaran sudah seperti hal yang wajar untuk diperbincangkan ataupun dilakukan. Pacaran merupakan sebuah status yang mendapat pengakuan dari para remaja saat ini. Bahkan ada sebagian golongan remaja yang cukup membanggakan dengan penyandangan status pacaran pada dirinya. Pacaran bermula pada rasa taksir yang dimiliki oleh seseorang kepada orang lain. Ketika rasa taksir itu sudah ada maka seorang tersebut mulai melakukan proses yang dinamakan pendekatan “pdkt” , ketika  orang yang disukainya membuka harapan untuk didekati, maka tahapan selanjutnya ialah pengkuan ungkapan rasa suka. Jika keduanya merasa cocok maka keduanya akan menjalani perlakuan yang biasa dikenal dengan sebutan pacaran. Itulah tahapan demi tahapan menuju perlakuan yang tidak sama sekali ada aturannya dalam agama Islam. Bisa diketahui bahwa bukan hanya pacarannya yang salah akan tetapi tahapannya saja sudah penuh unsur perzinaan. Dari tahapan-tahapan itu tidak dipungkiri akan adanya zina pandangan, zina indera peraba seperti tangan, indera perasaan atau hati yang diturutkan oleh nafsu. Setelah sampai prosesnya, maka tak bisa dipungkiri, praktik pacaran akan menjalani yang namanya teleponan, menjemput, mengantar, menemani, layaknya pasangan suami istri. Ini merupakan kekeliruan yang dialami oleh remaja muslim yang terjebak dalam hubungan yang terlarang ini. Apapun alasannya, walaupun ada yang mengkaitkannya pacaran sebagai proses tahapan pra nikah hal itu tidak tepat bagi Umat Islam.  Mengapa pacaran tidak tepat bagi bagi umat Islam, khususnya pemuda muslim yang sedang mencari pasangan hidup. Sudah jelas larangan Allah dalam Firman-Nya :

Baca:  Anekdot dan Kritik Masa Kini

“ Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isra ;32)

Maksud ayat diatas yakni larangan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa menjerumuskan kita pada perbuatan zina. Diantara perbuatan-perbuatan zina yakni sudah jelas terdapat dalam proses pacaran. Sungguh bahayanya jika kita menjadi salah satu orang yang melakukan perzinaan. Terdapat Hadits yang ditegaskan Maqil bin Yasar Radhiyallahu ‘Anhu : “Andaikata, kepala seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (H.R. Ath-Thabrani, Al-Baihaqi dari ma’qil bin yasar r.a. dan dishahihkan oleh Albani dalam as-shahihah no.226)

Baca:  Stop Politik Devide et Impera

Bagaimana kita bisa terhindar dari keinginan yang cendrung melakukan pacaran. Salah satu caranya yaitu dengan menahan pandangan atau menjaga mata. Sebab, mata adalah kuncinya hati. Dan pandangan itu merupakan pengutus fitnah yang sering membawa kepada perbuatan zina. Oleh karena itu Allah S.W.T., berfirman : “ katakanlah kepada laki-laki mukmin hendaklah mereka memalingkan pandangan dan kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak darinya. Dan hendaknya mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah  janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” ( Q.S. An-Nur :31)

Baca:  TIDAK MENGAPA

Telah jelas Allah memberikan anjuran-anjuran yang bertujuan untuk terhindarnya diri kita dari perzinaan. Sesunggguhnya perlu kita ketahuhi dan ingat, perempuan mempunyai fitnah yang terberat dirasakan bagi seorang lelaki. Hal itu telah dikabarkan oleh Rasulullah S.A.W., Beliau S.A.W., bersabda, “Tidakkah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki dari pada (fitnah) wanita. (H.R. Bukhari-Muslim) Hadits tersebut menjadi sebuah pengingat diantara laki- laki ataupun perempuan, agar senantiasa menjaga batasannya dalam bermuamalah. Khususnya perempuan yang mempunyai potensi memikat hati lelaki dengan keindahan yang diamanahkan pada diri perempuan. Sebagai pesan dakwah yang ingin penulis sampaikan ketika saudara/i ku yang sudah siap dalam menaungi bahtera pernikahan, sudah semestinya kita sebagai pemuda Muslim untuk berpegangan pada hukum dan  ketentuan-ketentuan yang ada di AL Qur’an ataupun As Sunnah dalam mencapai jalan kebahagiaan di dunia dan akherat. Selain itu terdapat pula Ijtihad, ijma’, dan qiyas yang juga merupakan sumber atau landasan hukum untuk bisa membantu kita terarah pada hukum- hukum yang terkandung dalam Al Qur’an dan Sunah Rasul.